Asyik! The Chainsmokers Kembali dengan Single ‘High’ Setelah 3 Tahun Hiatus

Baca Juga

MATA INDONESIA, LOS ANGELES – Baru-baru ini The Chainsmokers mengumumkan single terbarunya yang berjudul ‘High’. Single tersebut menandakan bahwa mereka akan comeback setelah tiga tahun hiatus dari industri musik.

Gak cuma hiatus dari dunia musik, ternyata mereka juga hiatus dari media sosial mulai dari Februari 2020. Alasan mereka hiatus ialah karena ingin lebih fokus pada musik baru mereka.

Melansir dari EDM, single ‘High’ ini akan menjadi pembuka album keempat dari The Chainsmokers kali ini. Perkiraan lagu ini akan rilis pada Jumat, 28 Januari 2022.

Single ‘High’ akan menjadi lagu pertama mereka dalam tiga tahun terakhir ini setelah mereka merilis album ‘World War Joy’ pada 2019 lalu.

Hal ini juga terungkap dari unggahan resmi dari The Chainsmokers di media sosial mereka.

Sebelumnya Drew Taggart dan Alex Pallini sempat membuat bingung penggemar karena ada orang yang mirip dengan mereka alias doppelgängers pada awal tahun ini. Mereka mempromosikan lagu baru dengan menampilkan video-video lucu di TikTok.

Tak hanya itu, The Chainsmokers juga diam-diam merilis beberapa lagu remixnya di akun Soundcloud mereka. Dua lagu yang dirilisnya adalah ‘Meet Me At Our Spot’ dan ‘I Can’t Make You Love Me’.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini