Album BLACKPINK ‘BORN PINK’ Jadi Album Pertama K-Pop Wanita yang Habiskan 2 Pekan di Top 5 Billboard 200

Baca Juga

MATA INDONESIA, SEOUL – BLACKPINK telah mencapai prestasi yang menarik di Billboard 200 dengan album terbaru mereka. Kali ini ‘Born Pink’ jadi album pertama K-pop wanita yang telah menghabiskan 2 pekan di Top 5 Billboard 200.

Melansir dari Soompi, BLACKPINK telah membuat sejarah saat album studio kedua mereka debut di peringkat pertama di tangga lagu ‘Top 200 Albums Billboard’ pada pekan lalu. Ini menjadikan mereka sebagai artis K-pop wanita pertama yang berhasil menduduki puncak tangga lagu tersebut.

Pada 2 Oktober 2022 waktu setempat, Billboard mengumumkan bahwa ‘Born Pink’ tetap berada di tangga lagu tersebut yang kini berada di peringkat keempat untuk pekan ini. Tentu ini juga menjadikannya album pertama oleh artis K-pop wanita mana pun dalam sejarah yang menghabiskan dua pekan di top 5 Billboard 200.

Dengan pencapaian ini, BLACKPINK juga menjadi artis K-pop wanita pertama dalam sejarah. Dengan memiliki dua album yang menghabiskan beberapa minggu di top 10 Billboard 200.

Menurut Luminate, ‘Born Pink’ memperoleh total 40 ribu unit album yang setara di pekan kedua di tangga lagu.

Sementara itu, ‘BORN PINK’ merupakan album Top 10 kedua BLACKPINK setelah ‘THE ALBUM’. Album pertamanya itu berhasil berada di posisi kedua di Billboard 200 pada 2020.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Demo Mahasiswa dan Pentingnya Membaca Kondisi Bangsa Dengan Nalar dan Optimisme

Oleh: Ethan Shabir Uttara *)Gelombang demonstrasi mahasiswa yang mengangkat isu ekonomi kembali hadir dalamruang publik Indonesia. Fenomena ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Sejak awalkemerdekaan hingga era demokrasi modern saat ini, mahasiswa selalu menjadi bagianpenting dalam proses kontrol sosial terhadap kebijakan negara. Kritik, protes, dan penyampaian aspirasi merupakan hak konstitusional yang dijamin dalam sistem demokrasi.Namun demikian, dalam isu ekonomi, terdapat satu tantangan yang sering muncul: kecenderungan melihat persoalan dari satu sisi tanpa mempertimbangkan gambaran yang lebih utuh. Padahal ekonomi merupakan bidang yang kompleks, dipengaruhi oleh banyakvariabel domestik maupun global, sehingga membutuhkan pembacaan yang lebihkomprehensif daripada sekadar melihat gejala-gejala yang tampak di permukaan.Belakangan ini sejumlah aksi demonstrasi mengangkat berbagai isu mulai dari kemiskinan, korupsi, program bantuan sosial, hingga berbagai program prioritas pemerintah. Aspirasitersebut tentu patut dihargai. Namun pertanyaan yang juga perlu diajukan adalah apakahnarasi yang berkembang telah mencerminkan keseluruhan realitas yang sedang berlangsung?Dalam sebuah diskusi publik yang membahas hubungan antara gerakan mahasiswa dan kebijakan negara, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengingatkan bahwa demonstrasi mahasiswa adalah bagian yang wajar dalam demokrasiIndonesia. Namun ia juga menekankan pentingnya melihat seluruh aspek secara objektif agar penilaian terhadap kondisi bangsa tidak hanya didasarkan pada satu sudut pandang. Pemerintah, menurutnya, tidak menolak kritik, melainkan berupaya menghadirkan gambaranyang lebih lengkap kepada masyarakat. Dalam konteks ekonomi, pendekatan semacam ini sangat relevan. Sebagai contoh, isukemiskinan sering menjadi bahan kritik. Namun pada saat yang sama, pemerintah juga sedang menjalankan berbagai program yang secara langsung menyasar kelompok masyarakatrentan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, tidak hanya bertujuanmeningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga membangun ekosistem ekonomibaru di tingkat lokal melalui keterlibatan petani, peternak, pemasok pangan, dan pelaku usahakecil di daerah. Demikian pula dengan Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga paling miskin. Program tersebut berangkat dari keyakinan bahwa pendidikan merupakan instrumenpaling efektif untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga memperluas akses pendidikan tinggi melalui anggaran KIP Kuliah yang menjangkau lebih dari satu juta mahasiswa. Tentu tidak ada kebijakan yang sempurna. Namun yang perlu dicermati adalah apakahpemerintah menunjukkan kemauan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan. Dalam kasusMBG misalnya, pemerintah melakukan moratorium penambahan dapur baru untuk fokuspada peningkatan kualitas pelaksanaan program dan efisiensi anggaran....
- Advertisement -

Baca berita yang ini