Negara Ini Pemimpin Negaranya Terpilih Melalui Jalur Independen

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Bagi negara yang menganut sistem demokrasi, tentulah segala keputusan ada di tangan rakyat. Termasuk pula keputusan dalam memilih pemimpin negara yang dilakukan melalui pemilu.

Namun ada pula negara yang memilih pemimpin negaranya melalui jalur independen. Jalur ini artinya sebagai jalur non partai. Atau dengan kata lain orang tersebut tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun.

Ia bisa saja merupakan politikus independen, pernah menjadi anggota partai politik namun akhirnya memilih untuk tidak berdiri di bawah partai politik tersebut. Atau bahkan ia memang merupakan anggota partai politik namun ia merasa tidak harus mewakili partai tersebut.

Tercatat, ada beberapa negara yang menggunakan jalur independen untuk memilih pemimpin negaranya. Negara tersebut antara lain:

  1. Rusia (Boris Yeltsin)
Boris Yelsin
Boris Yelsin

Boris Yeltsin menjadi presiden Rusia sejak tahun 1991 – 1999. Di tahun 1989 ia memang pernah terpilih menjadi anggota parlemen Uni Soviet saat keadaan politik Rusia mulai kacau.

Setelah satu tahun berkecimpung dalam dunia politik Uni Soviet, Yeltsin ternyata kembali memenangkan pemilihan parlemen Rusia. Di masa-masa inilah ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari Partai Komunis.

Kemudian di tahun 1991, Gorbachev (presiden Rusia kala itu) mengundurkan diri sebagai presiden lantaran banyaknya kekacauan yang timbul. Akhirnya pada pemilu Juni 1991, Yeltsin menjadi kandidat dalam pemilu dan berhasil memenangkan 59% dari jumlah total suara. Ia menjadi presiden Rusia yang bukan berasal dari partai politik. Selama masa pemerintahannya, ia berhasil memperbaiki perekonomian Rusia dengan cara menerapkan liberalism dan banyak melakukan perubahan dalam dunia politik.

  1. Jerman (Joachim Gauck)

Ia menjadi presiden Jerman yang memerintah sejak tahun 2012 – 2017. Sebelum menjadi presiden, dulunya ia adalah seorang Pastur Lutherian.

Di tahun 2010, ia pernah mengikuti pilpres berkat ajuan dari Partai SPD (Social Democratic Party of Germany) dan Partai Hijau Jerman. Namun ia kalah dari kandidat lain, Christian Wulff.

Di tahun 2012, saat Wulff mengundurkan diri dari jabatannya, Joachim kembali mencalonkan diri dalam ajang pilpres dan didukung oleh partai FDP, CSU, dan CDU. Berkat dukungan dari banyak pihak, Joachim berhasil memenangkan suara dengan perolehan 991 suara dari jumlah total sebanyak 1228. Meski mendapat dukungan dari berbagai partai politik, namun ia tidak pernah bergabung dalam partai dan pemerintahan sama sekali.

  1. Italia (Lamberto Dini)

Dini bukanlah presiden, melainkan perdana Menteri Italia yang ke-51, yang menjabat dari tahun 1995 – 1996. Pada Mei 1994, ia ditunjuk langsung oleh Silvio Berlusconi untuk menjadi Menteri Kas Negara Italia, dan ia tidak masuk ke partai politik apa pun. Kemudian, di awal tahun 1995, presiden Oscar Luigi Scalfaro menunjuk Dini menjadi perdana menteri.

  1. Kosovo (Atifete Jahjaga)

Ia adalah presiden Kosovo keempat yang terpilih lewat jalur independen. Kala itu, krisis politik yang melanda Kosovo membuat presidennya mengundurkan diri. Di momen inilah Atifete mencalonkan diri menjadi presiden. Dukungan kepadanya berasal dari Democratic League of Kosovo, Democratic Party of Kosovo, New Kosovo Alliance, dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Kosovo.

Dan pada 7 April 2011, Atifete berhasil memenangkan suara sebanyak 80 suara dari total 100 anggota parlemen Kosovo. Ia resmi menjadi presiden.

  1. Polandia (Lech Walesa)

Walesa menjadi presiden Polandia yang memerintah di tahun 1990 – 1995 lewat jalur independen.

Mulanya ia adalah politisi dan aktivis kemanusiaan. Kemudian ia memutuskan untuk menjadi kandidat dalam pilpres dengan slogannya Nie chcem, ale muszem (saya tidak mau namun saya tidak punya pilihan lain).

Akhirnya pada 9 Desember 1990, ia berhasil memenangkan pilpres dan menjadi presiden pertama yang terpilih melalui jalur independent. ia juga menjadi presiden non komunis pertama di Polandia. Selama masa pemerintahannya, ia berhasil membuat Polandia bangkit dan mengubah  sistem perekonomian menjadi pasar bebas.

Reporter: Intan Nadhira Safitri

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini