Korupsi dan Penghianatan Penyebab Runtuhnya Kota Roma

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Di awal abad ke-5 SM, bagian barat kota Roma runtuh karena invasi dan imigrasi masal kaum barbar. Kota yang terkenal karena kemegahannya hancur lebur. Tak ada yang tersisa selain puing-puing bangunan dan warganya yang ketakutan.

Ihwal hancurnya kota Roma ini karena berbagai hal. Selain maraknya korupsi, pemberontakan, dan kekurangan uang. Beberapa pemimpin Roma juga meninggal karena perselisihan dan pengkhianatan yang tak kunjung usai. Seperti Theodosius I, Alaric, Constantine III. Banyak warga Roma yang mencari perlindungan dan tempat tinggal ke bagian timur, yang bernama Byzantium. Namun banyak pula yang terlunta-lunta dan kemudian menjadi budak.

Byzantium adalah daerah yang paling makmur di luar kota Roma. Tidak banyak permasalahan yang menjalar ke timur kecuali krisis ekonomi yang cukup lama hingga akhir abad ke-6 SM. Saat itu, kaum barbar juga tidak berhenti mencari lahan yang lebih luas lagi di Italia, hingga saat mereka hampir menuju ke bagian timur.

Jenderal yang bernama Flavius Aetius tidak mampu menahan para kaum barbar yang semakin banyak itu. Akhirnya ia meminta tolong kepada kaum barbar lain yang disebut The Huns pimpinan Attila. The Huns adalah kaum nomaden yang banyak menginvasi sebagian besar Eropa dan kekaisaran Romawi pada abad ke-4 dan ke-5.

Mereka lumayan populer karena keunggulannya berkuda dan keterampilan militernya. Tetapi sayangnya, bantuan ini sama sekali tidak membantu dan malah menjadi senjata makan tuan karena warga Roma tetap semakin terpojok dan krisis ekonomi yang berkelanjutan semakin memperparah keadaan yang membuat mereka tidak lagi mampu membayar pajak dan tanpa pajak, mereka tidak mampu membayar pasukan.

Pada akhirnya, yang tersisa dari Roma adalah kerajaan di bagian timur yang mulai mendominasi wilayah Mediterania bagian timur.

Roma merupakan kerajaan kuat yang pernah berhasil melewati berbagai masalah-masalah besar sebelumnya, tetapi karena pada saat itu mereka dihadapi oleh banyaknya masalah disaat yang bersamaan, keruntuhannya menjadi sesuatu yang tidak terelakkan.

Penulis: Keshahita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini