Makna Merdeka di Saat Pandemi Seperti Sekarang

Baca Juga

MATA INDONESIA, – Kita begitu babak belur dihajar pandemi pada awal kuartal kedua tahun 2020. Dikagetkan dengan kemunculan wabah Corona yang akhirnya melumpuhkan sektor-sektor kehidupan. Membuat semua orang harus beradaptasi secepat kilat dan memulihkan diri dari keterkejutan.

Pandemi memang mengubah kehidupan kita secara drastis. Perkantoran mulai menerapkan kebijakan bekerja dari rumah. Aktivitas belajar mengajar di sekolah dihentikan sementara untuk dialihkan dalam kelas daring. Siswa menyimak pembelajaran dari layar gawai mereka. Aktivitas ibadah dijalani secara personal dan dilakukan di ruang-ruang privat. Rumah menjadi pusat kegiatan selama wabah belum teratasi.

Kita lantas dihantui kecemasan berlebih karena ruang gerak dibatasi. Hanya berkutat di rumah atau keluar sesekali untuk urusan yang penting. Kondisi ini lantas memunculkan kecemasan. Sesuatu yang wajar terjadi ketika kita dihadapkan pada ketidakpastian, seperti pandemi saat ini.

Ketidakpastian yang menghantui contohnya adalah kita terus memikirkan nasib diri dan orang-orang sekitar. Apakah diri ini akan aman dari serangan virus yang datangnya tanpa permisi? Apakah esok kita masih tetap dipekerjakan? Setelah kita mendengar kabar bertubi-tubi tentang banyak orang tiba-tiba terkena PHK. Banyak perusahaan dan pelaku usaha terseok-seok menghidupi karyawannya dan berujung gulung tikar.

Pertanyaan lainnya adalah, apakah kita masih tetap punya kesempatan bersua dengan orang-orang terkasih? Apakah pertemuan yang tertunda, nantinya bisa dilaksanakan? Apakah semua yang kita rencanakan bakal terwujud? Mengingat banyak rencana yang harus dijadwalkan ulang atau bahkan ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan.

Semua pertanyaan itu terus berkelindan di pikiran. Membuat kita semakin pesimistis dan dihinggapi kecemasan yang berkecamuk. Berjuang sebisanya menjadi jawaban yang saat ini bisa diupayakan. Sebab tak ada yang tahu, kapan pandemi ini berakhir?

Yang kita tahu sekarang, pandemi ini nyata dan menyeramkan. Telah banyak korban berjatuhan, entah dari masyarakat sipil, tenaga kesehatan, ataupun pejabat publik. Ini menggambarkan bahwa virus Covid-19 ini tidak pandang bulu. Ia tidak memilih target sasarannya. Ia memaksa kita meningkatkan kewaspadaan dan semakin menjaga kesehatan. Ia juga menyadarkan kita untuk lebih memerhatikan kondisi orang-orang sekeliling.

Karena di rumah saja benar-benar memicu munculnya sindrom cabin fever. Dan itu juga berpotensi dialami orang-orang terdekat dan diri sendiri. Menjadi rentan stress, mudah marah, fungsi konsentrasi menurun, dan dihinggapi perasaan negatif lainnya. Padahal kondisi mental yang baik adalah mula dari kesehatan fisik yang bugar.

Dengan dukungan dari orang terkasih, harapannya kondisi cabin fever teratasi. Sebagai individu akan semakin merasa kehadirannya ada di mata orang lain. Supaya kita tidak sendirian menghadapi pandemi yang begitu melelahkan ini. Pandemi yang menguras energi dan menyita kewarasan kita.

Mendefinisikan Ulang Merdeka

Kemudian, apakah kita perlu mendefinisikan ulang makna merdeka ketika pandemi seperti sekarang? Jika merdeka diartikan sebagai kebebasan, berarti saat ini kita tengah terpenjara. Terkungkung dalam ruang gerak yang sempit dan tidak memiliki keleluasaan. Untuk melakukan hal-hal yang kita senangi sekalipun, rasanya sulit sekali saat pandemi ini.

Pandemi memang mengorbankan banyak hal dari hidup kita, termasuk kemerdekaan diri. Seperti harus lebih menahan diri untuk melakukan transaksi pembelian. Lebih mengerem untuk belanja barang yang tidak dibutuhkan, agar uangnya bisa dialokasikan sebagai tabungan atau dana darurat. Penyebabnya lagi-lagi adalah, kita tak pernah tahu sampai kapan pandemi ini berlangsung. Jadi semestinya, kita bersiap atas kemungkinan terburuk dengan merencanakan segalanya secara matang. Termasuk, siaga secara finansial.

Namun kesempatan ini tidak bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat. Masih ada mereka yang harus banting tulang lebih keras untuk sekadar memastikan hari ini bisa makan dan minum cukup. Mereka adalah para pekerja harian yang tidak menggantungkan hidup mereka dari gaji bulanan.

Dari sinilah kita akhirnya memahami bahwa merdeka di kala pandemi adalah saat kita masih diberikan kesempatan bernapas tanpa menyandang status sebagai pasien Covid-19. Merdeka adalah saat kita dikelilingi orang-orang terkasih yang masih sehat selama pandemi. Orang-orang yang saling dan selalu mendukung serta menguatkan di kondisi sulit sekalipun. Merdeka di saat pandemi juga bisa dimaknai tentang bagaimana hidup kita bisa berjalan tenang karena tidak ada kesulitan berarti saat harus beli kuota internet untuk kerja dari rumah. Masih punya cadangan dana dan tetap punya penghasilan tetap yang tidak berkurang sedikit pun. Jika semua itu melekat di diri kita, menandakan kita tidak sedang dicengkeram kecemasan. Sedikit lega dan merdeka menghadapi pandemi.

Lantas siapa yang bisa menjamin bahwa kemerdekaan seperti itu bisa dinikmati utuh oleh semua rakyat kala pandemi? Masih terdengar berita masyarakat kesulitan mengakses sinyal untuk belajar daring. Masing tersiar kabar bahwa banyak siswa yang tidak memiliki gawai untuk mendukung belajar daring. Banyak yang akhirnya memulai usaha baru demi menggerakkan roda ekonomi keluarga, setelah bisnis lamanya tumbang atau kehilangan mata pencaharian.

Kita yang sudah merdeka, sudah sewajarnya turut membantu mengentaskan warga lain yang masih terpuruk akibat pandemi. Kita yang mampu memandang pandemi sebagai waktu luang baru untuk menambah kemampuan atau hobi anyar, ada baiknya menularkan semangat positif kepada lainnya. Karena tidak semua orang bisa mengalihkan dan menepis energi negatif menjadi sebuah aktivitas yang bermanfaat. Namun tetap dengan mematuhi protokol kesehatan.

Lantas apakah kita sudah menemukan arti merdeka versi masing-masing saat pandemi sekarang? Merdeka versi saya dan versi kamu, bisa jadi berbeda. Karena kita menjalani dan menanggung hidup yang berbeda. Merdeka juga perlu diupayakan dan membutuhkan stimulus dari yang lain.

Penulis: Shela Kusumaningtyas
Twitter: @celcolcil

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Solusi Nyata untuk Desa

Oleh : Dian Amanda SasmitaKehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi angin segar bagi pembangunanekonomi desa di Indonesia. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakatpedesaan, mulai dari keterbatasan akses modal hingga minimnya jaringanpemasaran, koperasi hadir sebagai solusi yang berbasis kebersamaan. Konsep initidak hanya menekankan pada keuntungan semata, tetapi juga pada nilai gotong royong yang telah lama menjadi ciri khas kehidupan masyarakat desa. Denganpendekatan yang inklusif, koperasi mampu menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini kurang tersentuh oleh sistem ekonomi formal.Koperasi Desa Merah Putih menawarkan model ekonomi yang lebih adil danberkelanjutan. Dalam praktiknya, koperasi ini mengedepankan partisipasi aktifanggota sebagai pemilik sekaligus pengguna layanan. Hal ini membuat setiapkeputusan yang diambil lebih mencerminkan kebutuhan nyata masyarakat. Berbedadengan sistem ekonomi konvensional yang cenderung terpusat, koperasi memberikanruang bagi masyarakat desa untuk menentukan arah pembangunan ekonomi merekasendiri. Dengan demikian, desa tidak lagi menjadi objek pembangunan, melainkansubjek yang berdaya.Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto menjelaskansalah satu permasalahan utama di desa adalah keterbatasan akses terhadappermodalan. Banyak pelaku usaha kecil yang kesulitan mengembangkan usahanyakarena terbentur oleh persyaratan perbankan yang rumit. Koperasi Desa Merah Putihdapat menjadi solusi karena skema pembiayaan yang lebih sederhana dan ramahbagi masyarakat. Melalui sistem simpan pinjam yang transparan, anggota koperasidapat memperoleh modal usaha tanpa harus menghadapi beban bunga yang tinggi. Ini membuka peluang bagi berkembangnya usaha mikro dan kecil di desa.Selain permodalan, koperasi juga berperan penting dalam memperkuat jaringanpemasaran produk desa. Banyak produk unggulan desa yang sebenarnya memilikikualitas baik, namun kurang dikenal karena keterbatasan akses pasar. Koperasi DesaMerah Putih dapat menjadi jembatan yang menghubungkan produk-produk tersebutdengan pasar yang lebih luas. Dengan memanfaatkan teknologi digital dan kerjasama antar koperasi, distribusi produk desa dapat dilakukan secara lebih efektif danefisien.Kehadiran koperasi juga berdampak pada peningkatan kapasitas sumber dayamanusia di desa. Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, anggota koperasidapat meningkatkan keterampilan mereka dalam mengelola usaha. Tidak hanya itu, koperasi juga mendorong munculnya jiwa kewirausahaan di kalangan masyarakatdesa, terutama generasi muda. Hal ini penting untuk mencegah urbanisasi yang berlebihan, karena desa mampu menyediakan peluang ekonomi yang men janjikan.Menteri Koperasi, Ferry Julianton menjelaskan Koperasi Desa Merah Putih jugamemiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi desa. Dalam situasikrisis, seperti pandemi atau gejolak ekonomi global, koperasi terbukti lebih tangguhkarena berbasis pada solidaritas anggota. Sistem yang saling mendukung membuatkoperasi mampu bertahan dan bahkan membantu anggotanya melewati masa sulit. Inimenunjukkan bahwa koperasi bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi juga fondasiekonomi yang kokoh untuk jangka panjang.Di berbagai daerah, mulai terlihat dampak positif dari kehadiran Koperasi Desa MerahPutih. Masyarakat desa mulai merasakan peningkatan pendapatan, terbuka nyalapangan kerja baru, serta tumbuhnya kepercayaan diri dalam mengelola potensilokal. Produk-produk desa yang sebelumnya kurang dikenal kini mulai menembuspasar yang lebih luas. Hal ini menunjukkan bahwa koperasi mampu menjadikatalisator perubahan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat desa.Dukungan terhadap Koperasi Desa Merah Putih juga terus menguat dari berbagaipihak, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat itu sendiri. Program pendampingan, kemudahan regulasi, serta akses terhadap teknologi menjadi faktorpenting dalam mempercepat perkembangan koperasi di desa. Partisipasi aktifmasyarakat sebagai anggota juga menjadi kunci keberhasilan, karena koperasi padadasarnya adalah milik bersama yang harus dijaga dan dikembangkan secara kolektif.Dari perspektif akademis, pengamat sosial dari Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Firdaus Mirza menjelaskan optimalisasi peran Koperasi Desa Merah Putihmemerlukan penguatan kolaborasi lintas sektor yang lebih terarah dan berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, akademisi, sertakomunitas lokal perlu difokuskan pada inovasi model bisnis, digitalisasi layanankoperasi, serta peningkatan daya saing produk desa. Dengan langkah tersebut, koperasi tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi kekuatanekonomi baru yang adaptif terhadap perubahan zaman.Pada akhirnya, Koperasi Desa Merah Putih bukan sekadar lembaga ekonomi, tetapijuga gerakan sosial yang membawa harapan bagi desa. Dengan mengedepankannilai kebersamaan, keadilan, dan kemandirian, koperasi mampu menjadi solusi nyatabagi berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat desa. Jika dikelola denganbaik dan didukung secara berkelanjutan, koperasi ini dapat menjadi motor penggerakyang mempercepat terwujudnya desa yang maju, mandiri, dan sejahtera.)* Penulis Merupakan Pengamat Ekonomi
- Advertisement -

Baca berita yang ini