Jelang Pemilu, Bawaslu DIY justru Dikirim Puluhan Surat Kaleng?, Ini Isinya

Baca Juga

Mata Indonesia, Yogyakarta – Banyak surat kaleng anonim atau tanpa identitas yang diterima Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DIY selama pelaksanaan kampanye. Isi utama surat-surat tersebut adalah aduan terkait politik uang, namun setelah dilakukan pemeriksaan, tidak ada kejadian yang sesuai dengan laporan tersebut.

Mohammad Najib, Ketua Bawaslu DIY, menjelaskan bahwa surat kaleng yang dikirim secara anonim tidak dapat dianggap sebagai laporan pelanggaran kampanye.

Selain tidak memiliki identitas yang jelas, surat-surat tersebut juga tidak menyertakan bukti yang cukup, seperti umumnya dalam aduan Pemilu.

“Sebagian besar aduan berasal dari surat kaleng, contohnya dari Bantul. Ini bukan laporan resmi, melainkan surat kaleng, dengan konteks yang berbeda. Meskipun isinya berkaitan dengan politik uang, setelah ditelusuri, tidak ada bukti terkait di daerah Salakan Potorono Banguntapan, Bantul,” ujar Najib, Selasa 9 Januari 2024.

Najib menyatakan bahwa jumlah aduan yang masuk ke Bawaslu DIY masih terbatas. Kebanyakan pelanggaran yang ditemui sejauh ini terkait dengan penempatan yang tidak sesuai tempat alat peraga kampanye (APK).

“Ini merupakan kasus baru, karena kami fokus pada aspek pencegahan. Upaya pencegahan lebih baik agar pelanggaran tidak terjadi,” tambahnya.

Meskipun demikian, Najib mengakui bahwa meskipun upaya pencegahan telah ditingkatkan, jumlah pelanggaran kampanye belum berkurang dan masih terjadi.

“Pelanggaran ini seperti gunung es, walaupun kami berhasil mencegah beberapa potensi pelanggaran, tetapi bisa saja terjadi di masyarakat yang tidak kami ketahui karena keterbatasan personel,” katanya.

Najib menyarankan agar masyarakat ikut serta dalam pengawasan partisipatif untuk mencegah pelanggaran. Meskipun Bawaslu DIY terbatas dalam jumlah personel, lembaga ini masih mendapatkan kepercayaan dari publik, dan peran masyarakat dalam pengawasan dianggap efektif untuk mencegah pelanggaran.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini