Kris Wu eks EXO Dikabarkan Ghosting Pacar di Bawah Umur hingga Depresi

Baca Juga

MATA INDONESIA, SEOUL – Kris Wu, mantan anggota EXO asal China, terlibah dalam kontroversi kehidupan pribadinya. Ia diduga ‘meng-ghosting’ pacarnya yang di bawah umur hingga membuatnya depresi.

Sontak, kabar ini pun menjadi topik hangat di kalangan penggemar. Bahkan, Kris Wu menjadi tren di salah satu platform media sosial terbesar di China, Weibo.

Postingan asli tentang topik tersebut, yang pertama kali diunggah pada 2 Juni (waktu setempat), telah mengumpulkan hampir 80.000 komentar dari pengguna. Netizen membicarakan tentang identitas gadis.

Dilansir dari KstarLive, netizen kemudian membicarakan kemungkinan perbedaan usia antara keduanya. Gadis itu diduga masih seorang pelajar. Karena depresi, ia pun bolos sekolah.

Beberapa komentar di postingan tersebut berbunyi, “Jika itu benar, dia adalah iblis yang perlu dikurung,” “Pada titik tertentu, saya percaya bahwa itu benar-benar dia,” “Saya harap gadis itu akan merilis lebih banyak bukti jika itu benar-benar benar dia,” dan lainnya.

Berikut postingan yang menjadi perbincangan netizen:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Perkuat Ekosistem Media Digital Hasilkan Internet Sehat dan Berkualitas

*) Oleh: M. Naufal FahriTransformasi digital telah mengubah cara masyarakat Indonesia memperoleh, memproduksi, dan mendistribusikan informasi. Ruang digital kini bukan lagi sekadarkanal komunikasi, melainkan telah menjadi ruang publik yang memengaruhi caramasyarakat berpikir, mengambil keputusan, belajar, bekerja, hingga berinteraksisecara sosial. Perubahan ini membawa manfaat besar karena informasi menjadisemakin cepat, murah, beragam, dan mudah diakses hingga ke berbagai lapisanmasyarakat. Namun, kemudahan tersebut sekaligus menghadirkan tantangan seriusketika derasnya arus informasi tidak diimbangi kemampuan memilah, memverifikasi, dan memahami konteks.Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Farida Dewi Maharani menilai perkembangan teknologi tidak mungkin dihentikan, sehinggapendekatan yang diperlukan bukanlah menutup ruang digital, melainkan membanguntata kelola yang mampu menjaga manfaat teknologi sekaligus meminimalkanrisikonya. Pemerintah, menurut Farida, memiliki peran menjaga “pagar” ruang digital agar tetap sesuai dengan kebutuhan masyarakat tanpa mematikan kebebasanberekspresi dan berpendapat. Perspektif tersebut penting karena kemajuan teknologiharus ditempatkan sebagai instrumen pembangunan, bukan semata-mata sebagaisumber ancaman. Dengan infrastruktur konektivitas yang terus berkembang, tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat mampu menggunakan teknologisecara produktif.Masalahnya, demokratisasi produksi informasi melalui media sosial juga telahmenghapus banyak batas yang sebelumnya dijaga oleh mekanisme editorial media arus utama. Setiap orang kini dapat menjadi produsen sekaligus distributor informasitanpa harus melalui proses verifikasi, konfirmasi,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini