Kisah Gagalnya Pembunuhan Pablo Escobar

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Banyak orang yang mengincar gembong narkotika dari Meksiko, Pablo Escobar semasa hidupnya. Salah satunya adalah Kartel Calo Salcedo yang sengaja mengirimkan seorang pembunuh bayaran untuk menangkap dan membunuh Escobar.

Penjahat bernama lengkap Pablo Emilio Escobar Gaviria ini merupakan salah satu gembong narkoba dan pemimpin Kartel Medellin di Mexico yang mempunyai reputasi sebagai penjahat terkaya di dunia. Melalui obat-obatan terlarang, dirinya bertanggung jawab atas 80 persen produsen dan distributor ‘kokain’ terbesar di dunia.

Hal ini membuat banyak gembong narkoba lain di Meksiko iri. Bahkan pesaingnya Kartel Cali yang dipimpin Jorge Salcedo merekrut tentara bayaran untuk membunuh Raja Narkoba itu.

Jorge Saldaco memilih Peter McAleese untuk menjalankan misi itu. McAleese memang dikenal sebagai pembunuh bayaran top. Sebelum menjadi tentara bayaran, McAleese tergabung dengan Resimen Parasut, anggota Elit 22 Special Air Service (SAS) milik Angkatan Darat Inggris.

McAleese dilahirkan di keluarga yang penuh kekacauan, pasalnya sang ayah yang sangat keras dan kejam harus mendekam di penjara selama hidupnya.  McAleese yang dilahirkan di Glasgow tahun 1942 ini tumbuh menjadi seorang pria kompleks dan cenderung sadis. Di umur 17 tahun, McAleese yang dibesarkan di Riddrie Inggris ini meninggalkan rumahnya untuk bergabung dengan Angkatan Darat Inggris.

Ketangguhan dan keberanian McAleese di Angkatan Darat Inggris membuat ia ditarik dalam pasukan khusus SAS. Ia beberapa kali ditugaskan untuk melakukan operasi militer. Salah satunya saat membantu Malaysia ketika konfrontasi dengan Indonesia di tahun 1964 dengan melakukan operasi rahasia di Kalimantan.

Peter McAleese
Peter McAleese

Karier militer McAleese akhirnya selesai ketika ia mempunyai kasus dengan SAS. Ia pun memilih mundur dari Angkatan Darat Inggris.

Kebrutalan dan kesadisan McAleese pun berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Dia pernah dipenjara saat menyerang kekasihnya. Ia pun gonta ganti pekerjaan karena tidak cocok dengan sifat dia yang tempramental. .

Setelah keluar dari penjara, McAleese ternyata menemukan pekerjaan yang cocok untuknya, yakni sebagai tentara bayaran. Tugas pertamanya ialah menjadi tentara bayaran dalam Perang Saudara di Angola dan di Rhodesia (sekarang Zimbabwe).

Di Angola pada tahun 1976, McAleese dipertemukan dengan Dave Tomkins. Pertemuan mereka menjadi awal McAleese ditawari misi membunuh Pablo Escobar oleh Tomkins. Menurut McAleese, Tomkins bukanlah tentara biasa. Hal ini dibuktikan dari dapat membuat kesepakatan dan memasok senjata. Kedekatan mereka berubah menjadi teman baik.

”Anda tidak diminta untuk membunuh Escobar kalau Anda tidak memiliki pengalaman yang tepat. Saya tidak mengangap misi itu sebagai pembunuhan, melainkan target,” kata McAleese kepada BBC.

Jorge Salcedo menyuruh Tomkins untuk membuat sebuah tim. McAleese lah orang pertama yang direkrut Tomkins. Salcedo sangat yakin, Escobar dapat dibunuh saat berada di perkebunan milikinya Hacienda Napoles di Kolombia. Salah satu properti milik Escobar ini ditandai dengan adanya kebun binatang yang penuh dengan hewan eksotis, koleksi mobil tua dan mewah, bandara pribadi, serta arena adu banteng.

Tomkins merekrut 12 orang yang pernah ia kenal saat menjadi tentara bayaran. 14 anggota tentara bayaran tersebut dibantu oleh Salcedo agar lolos dari pemeriksaan otoritas keimigrasian. Salcedo bersama dengan Kartel Cali juga mendanai tempat tinggal mereka di Kolombia.

Masing-masing anggota tim dibayar sebesar 5000 dollar atau sekitar 71,8 juta per bulan, sedangkan Tomkins dibayar dengan harga fantastis sebesar 1000 dollar atau sekitar 14, 3 juta per hari.

Para tentara bayaran dilatih dengan keras, namun mereka tidak tahu pelatihan itu dikhususkan untuk misi pembunuhan Escobar, hanya Tomkins dan McAleese yang mengetahui hal tersebut. Pelatihan yang keras membuat mereka menjadi pusat perhatian masyarakat. Akhirnya, para tentara bayaran ini dipindahkan ke sebuah peternakan di pedesaan. Di sana, tim mendapatkan perbekalan berupa senjata yang banyak.

Salah seorang anggota tim mendapat firasat buruk. Dia keluar dari tim dan diizinkan pulang sebelum anggota tim diberitahu tentang misi yang akan dihadapi. Anggota tim yang keluar tersebut menjual ceritanya mengenai pelatihan keras yang ia jalani kepada surat kabar. Sayangnya, karena kurangnya data, anggota itu tidak menjelaskan nama dan detail operasi yang dijalankan.

Misi penyerangan semakin dekat, anggota tim dipindahkan ke dalam hutan dengan tujuan agar mereka dapat berlatih menggunakan senjata dan membuat bom tanpa diketahui  orang banyak.

Tepat di hari penyerangan, salah seorang informan menyebutkan bahwa Escobar sedang berada di perkebunannya sehingga mereka langsung menuju sasaran. Naas, saat helikopter yang mereka tumpangi melewati Pegunungan Andes harus jatuh karena berusaha menghindari awan ketika terbang rendah.

Anggota tim yang berada di dalam helikopter semuanya selamat, namun McAleese mendapatkan luka yang cukup serius. Ia dan rekan-rekannya harus bertahan selama tiga hari sebelum akhirnya diselamatkan. Saat bertahan, ia berjanji kepada Tuhan untuk tidak melakukan hal yang sama nanti ketika dia sembuh.

Escobar yang mendengar rencana tentara bayaran tersebut, mengirim anak buahnya untuk menemukan tentara bayaran tersebut ke pegunungan. McAleese yang mengetahui informasi tersebut segera lari menjauh dari pegunungan.

”Jika Pablo Escobar menangkap saya, saya akan mengalami kematian yang panjang, berlarut-larut dan mematikan,” kenang McAleese.

Saat berlari, ia memikirkan kehidupannya yang tumbuh sebagai laki-laki yang kotor, kasar dan kejam. Saat berlari, ia berjanji jika selamat ia akan berubah.

Tentara bayaran ini akhirnya insyaf. Ia balik ke Inggris, mencari pekerjaan sebagai petugas keamanan, belajar sabar dan kemudian menikahi kekasihnya. McAleese kemudian menuliskan pengalamannya sebagai pembunuh bayaran Escobar dan buku ini kemudian dijadikan sebuah film dokumenter yang diproduksi BBC.

Kini McAleese berusia 78 tahun. Kehidupannya sudah normal dan ia akhirnya menemukan kedamaian bersama keluarga dan kawan-kawannya di Inggris.

Reporter : Rama Kresna Pryawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Mendukung Instensifikasi Respons Dini Menekan Dampak PHK terhadap Masyarakat

*) Oleh : Prinsa AlisaDinamika perekonomian global yang masih diwarnai ketidakpastian memberikantantangan tersendiri bagi dunia usaha dan sektor ketenagakerjaan di Indonesia. Dalam situasi tersebut, pemerintah terus menunjukkan komitmennya untuk melindungimasyarakat melalui berbagai langkah strategis guna mengantisipasi dan meminimalkan dampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Upaya intensifikasirespons dini yang dilakukan pemerintah patut mendapatkan dukungan dari seluruhelemen masyarakat karena menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonominasional sekaligus melindungi kesejahteraan para pekerja dan keluarganya.Langkah respons dini yang diperkuat pemerintah menunjukkan adanya kesadaranbahwa potensi PHK harus diantisipasi sebelum berkembang menjadi permasalahansosial dan ekonomi yang lebih besar. Melalui pemantauan kondisi industri secaraberkelanjutan, penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, sertakomunikasi yang lebih intensif dengan pelaku usaha, pemerintah berupayamendeteksi berbagai potensi risiko sejak awal. Pendekatan ini menjadi penting karenapenanganan yang cepat dan tepat dapat mengurangi dampak yang dirasakan oleh pekerja maupun sektor usaha.Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Dirjen PHI dan Jamsos) Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (KemnakerRI), Indah Anggoro Putri menjelaskan pemerintah terus mendorong berbagaikebijakan yang bertujuan menjaga keberlangsungan dunia usaha agar tetap mampumempertahankan tenaga kerjanya. Berbagai insentif, kemudahan berusaha, hinggaupaya menjaga iklim investasi terus dilakukan untuk menciptakan ruang tumbuh bagisektor industri. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokuspada penanganan dampak setelah PHK terjadi, tetapi juga berupaya mencegahterjadinya PHK melalui penguatan daya tahan ekonomi dan dunia usaha.Selain itu, pengembangan program peningkatan keterampilan dan pelatihan kerjamenjadi salah satu bentuk nyata respons pemerintah dalam menghadapi perubahankebutuhan pasar tenaga kerja. Transformasi ekonomi dan perkembangan teknologimenuntut tenaga kerja memiliki kompetensi yang semakin adaptif. Melalui berbagaiprogram pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemerintahberupaya memastikan bahwa pekerja Indonesia tetap memiliki daya saing dan peluang kerja yang luas di tengah perubahan ekonomi yang berlangsung cepat.Dukungan terhadap respons dini pemerintah juga penting karena dampak PHK tidakhanya dirasakan oleh individu yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga memengaruhikondisi ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar. Ketika lapangan kerja dapatdipertahankan dan risiko PHK dapat ditekan, daya beli masyarakat akan tetap terjaga. Stabilitas konsumsi rumah tangga pada akhirnya akan mendukung pertumbuhanekonomi nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, keberhasilanlangkah pemerintah dalam melakukan mitigasi risiko ketenagakerjaan akanmemberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.Pakar demografi dan ketenagakerjaan terkemuka dari Universitas Gadjah Mada(UGM), Tadjuddin Noer Effendi menjelaskan di tingkat daerah, penguatan respons dinidapat membantu pemerintah daerah dan pelaku usaha mengambil langkah antisipatifyang lebih efektif. Informasi yang diperoleh lebih cepat memungkinkan berbagai pihakmenyiapkan solusi sebelum terjadi gejolak ketenagakerjaan yang lebih besar. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalansecara optimal dan tepat sasaran.Dukungan terhadap langkah pemerintah juga perlu diwujudkan melalui partisipasi aktifberbagai pemangku kepentingan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini