Apakah Anak Muda Sekarang Minat dengan HMI?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA  Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI merupakan organisasi tertua dan terbesar di Indonesia. Sebagai organisasi tertua HMI telah memiliki kuranglebih 600 ribu kader dengan 219 cabang di seluruh Indonesia. Lalu, apakah HMI masih banyak peminatnya?

Seperti yang kita ketahui, terdapat dua tujuan yang hendak dicapai sejak HMI berdiri. Pertama, mempertahankan NKRI dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Kedua, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama islam.

Masyarakat zaman sekarang dan teknologi sangat akrab serta tak memandang umur maupun profesi. Kini, hampir seluruh mahasiswa yang terlihat di sudut-sudut kampus tak ada yang lepas dari gawai atau smartphone milik mereka.

Dengan hadirnya sosial media, membuat sejumlah generasi sekarang lebih cenderung membanggakan pola hidup bebas dan tidak peduli terhadap keadaan sosial.

Lalu, mahasiswa zaman sekarang yang minat HMI termasuk organisasi mahasiswa lainnya hanya sedikit. Sebab, dunia telah menunjukkan perubahannya dan generasi milenial lebih senanguntuk berfoya-foya, hedonis, apatis serta individual.

Hal tersebutlah yang menjadi tantangan bagi HMI. Oleh karena itu, HMI harus mampu beradaptasi menyesuaikan student need dan student interest.

Kini, HMI harus mulai berpikir bagaimana generasi milenialagar dapat bergabung dengan HMI. Sebab, HMI harus dapatmengeluarkan generasi milenial dari gelapnya zaman sekarang.

Untuk itu, HMI harus memikirkan strategi awal dan harus dilanjutkan dengandoktrinasi alienasihingga sampai kegenerasi yang dituju.

HMI harus dapat menarik minat mahasiswa “zaman now” dengan menyesuaikan keinginan mereka, tetapi juga dalam waktu yang bersamaan juga harus menjaga agar kualitas kader HMI tidak menurun, dan bahkan harapannya bisa lebih baik.”

Untuk itu, terdapat alasan mengapa mahasiswa harus masuk HMI antara lain akan memiliki kesempatan untukbertemu dengan orang-orang hebat

Mentalnya akan dilatih lebih kuat dan bijaksana dalam menyelesaikan suatu masalah. HMI akan mengajarkan menjadi pemimpin yang bijaksana dan kharismatik, organisasi ini juga mengajarkan cara membagiwaktu, serta HMI akan mengajarkan anggotanya untuk berpikir kritis dalam mengambil keputusan.

Azizah Putri Octavina, Mahasiswi Politeknik Jakarta 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Danantara, PSEL, dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Indonesia

*) Oleh: Citra Ningrum OktaviaPemerintah tengah menghadapi salah satu tantangan paling mendesak dalampembangunan nasional, yakni darurat sampah perkotaan yang selama bertahun-tahun berjalan tanpa penyelesaian menyeluruh. Timbunan sampah yang terusmeningkat tidak lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan telahmenjadi ancaman serius bagi kesehatan publik, kualitas ekosistem, hingga ketahananenergi nasional. Di tengah situasi tersebut, langkah pemerintah menggandengDanantara Indonesia untuk mempercepat pembangunan fasilitas PengolahanSampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan keputusan strategis yang menunjukkan keberanian negara keluar dari pola lama pengelolaan sampah yang stagnan. Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PSEL di enam lokasibersama 13 pemerintah daerah menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi bekerjadengan pendekatan parsial, tetapi mulai membangun sistem pengelolaan sampahyang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.Lebih jauh, penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentangpercepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrikmemperlihatkan adanya keseriusan politik pemerintah dalam membenahi tata kelolasampah nasional. Menko Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa regulasitersebut telah mendorong langkah konkret pemerintah pusat dan daerah untukbergerak lebih cepat dalam pembangunan PSEL. Target pembangunan sedikitnya 25 lokasi PSEL dalam dua hingga tiga tahun ke depan bukan hanya ambisi administratif, melainkan kebutuhan nyata untuk mengatasi kedaruratan sampah di puluhankabupaten dan kota. Selama ini, banyak proyek pengolahan sampah tersendat akibatbirokrasi panjang, lemahnya koordinasi antarlembaga, dan ketidakjelasan pembagiankewenangan. Karena itu, penyederhanaan prosedur serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, Danantara, dan pihak-pihak terkait menjadi fondasi pentingagar proyek strategis ini tidak kembali terjebak pada pola lamban yang merugikanmasyarakat.Selain itu, keterlibatan Danantara Indonesia memberi dimensi baru dalampembiayaan dan tata kelola proyek infrastruktur lingkungan di Indonesia. Selama ini, pengelolaan sampah kerap dipandang sebagai sektor yang minim nilai ekonomisehingga tidak menarik bagi investor besar. Padahal, di berbagai negara maju, pengolahan sampah telah berkembang menjadi industri energi hijau yang bernilaitinggi dan berkelanjutan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini