Untuk Kesekian Kali Cucu Buya HAMKA Jelaskan Soal Ucapan Natal Bagi Muslimin

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Untuk kesekian kalinya, cucu Buya Haji Abdul Karim Amarullah (HAMKA), Naila Fauzia, harus menjelaskan soal Muslim mengucapkan Natal kepada umat Kristiani.

Klarifikasi Naila itu berasal dari postingan Cewek Hijrah di akun twitter @cewehijrah yang menulis Buya Hamka mundur dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena didesak pemerintah saat itu untuk mengucapkan “Selamat Natal.”

Namun setelah mendapat teguran keras dari Naila di kolom komentarnya, Cewek Hijrah menghapus statusnya.

Menurut Naila, klarifikasi itu harus dia lakukan setiap tahun saat muncul perdebatan mengenai halal dan halal mengucapkan “Selamat Hari Natal.”

Dia pun mengutip fatwa yang pernah dikeluarkan Buya Hamka sewaktu masih menjabat Ketua MUI tahun 1981.

“Mengenai perayaan Natal bersama. Saya tekankan, PERAYAAN NATAL BERSAMA, bukan ucapan Selamat Natal,” begitu penegasan yang diungkapkan Naila melalui akun twitternya yang dikutip Selasa 8 Desember 2020.

Menurut Naila fatwa itu menyatakan, “haram hukumnya bahkan kafir bila ada orang Islam menghadiri upacara natal. Natal adalah kepercayaan orang Kristen yang memperingati hari lahir anak Tuhan. Itu adalah aqidah mereka. Kalau ada orang Islam yang turut menghadirinya, berarti dia melakukan perbuatan yang tergolong musyrik. Ingat, dan katakan pada kawan-kawan yang tidak hadir di sini. Itulah aqidah tauhid kita,” – Buya Hamka.

Menurut Naila kutipan Buya HAMKA tersebut bisa dibaca di buku karangan beliau yang berjudul “Pribadi dan Martabat” karya Prof. DR. Buya HAMKA.

Saat itu, kegiatan Natal Bersama meliputi menyalakan lilin bersama, mendengarkan nyanyian dan lain-lain yang memang merupakan tata cara beribadah umat Kristen. Menurut Naila itulah dasar dikeluarkannya larangan tersebut.

Jadi Naila menegaskan yang dilarang dalam fatwa Buya HAMKA saat itu adalah haram “MENGIKUTI NATAL BERSAMA”, seperti ikut ke gereja, ikut berdoa, bernyanyi, menyalakan lilin dan mengikuti misa.

HAMKA memilih mundur dari Ketua MUI pada 19 Mei 1981, menurut Naila karena Menteri Agama saat itu memintanya mencabut fatwa tersebut.

Naila di akhir twitnya menceritakan, saat Buya Hamka tinggal di Jl. Raden Patah Kebayoran Baru, menurut Naila, neneknya, Andung Raham rutin memasak rendang dan diantarkan ke tetangga mereka yang Nasrani saat Natal.

Dia juga meminta tidak ada lagi pencatutan nama Buya HAMKA soal fatwa haram mengucapkan selamat natal.

“Kita semua bersaudara. Jagalah keberagaman kita dan junjung tinggi cinta kasih & kedamaian. Indonesiaku satu. Terima kasih,” begitu Naila menegaskan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini