Viral! Kisah Ibu yang Rebut dan Nikahi Suami Putri Kandungnya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Bukan cuma di sinetron, kisah seorang ibu yang merebut dan menikahi menantu ternyata ada di kehidupan nyata. Cerita cinta tak lazim ini terjadi di St. Petersburg, Rusia.

Si ibu bernama Galina Zhukovskaya menikahi sang menantu, Vyacheslav Zhukovsky. Dilansir dari Oddity Central, Senin, 20 Juli 2020, cerita berawal saat Vyacheslav bercerai dari putri kandung Galina yang bernama Elena.

Perselingkuhan Elena terjadi saat Vyacheslav mendekam di penjara. Vyacheslav pun sempat depresi karena pernikahannya kandas.

Di tengah kedukaannya, Vyacheslav dihibur oleh ibu mertuanya. Dari situlah benih-benih cinta muncul. Galina akhirnya menikah dengan Vyacheslav.

Pernikahan mereka sempat menuai kontroversi lantaran keduanya mantan mertua-menantu. Di samping itu, usia keduanya terpaut sangat jauh, yakni 23 tahun.

Namun pernikahan keduanya mampu berjalan harmonis hingga sekarang. Galina pun bercerita jika putrinya sempat memiliki niatan jahat untuk merusak rumah tangganya, namun gagal.

“Putriku mungkin cemburu karena ibunya tidak lagi sendiri. Saya punya seseorang yang bisa diajak ngobrol sementara dia tidak. Dia menginginkan kami berpisah. Dia kerap kali mengirim putrinya yang berusia 30 tahun, lahir dari pria lain, untuk menggodanya,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Strategi 3B dalam Program MBG Bangun SDM Unggul

Oleh: Citra Kurnia Khudori)* Pembangunan sumber daya manusia yang unggul tidak dapat dilepaskan darikualitas gizi sejak awal kehidupan. Karena itu, intervensi gizi pada ibu hamil, ibumenyusui, dan balita (3B) menjadi langkah penting untuk memastikan generasimasa depan tumbuh sehat dan optimal. Dalam konteks tersebut, strategi 3B dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG)menjadi pendekatan yang relevan dan tepat sasaran. Fokus pada kelompok rentanini menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM harus dimulai dari fase paling awal dalam siklus kehidupan manusia. Perhatian terhadap periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) menjadi kuncidalam upaya mencegah stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan anak. Jika kebutuhan gizi terpenuhi sejak masa kehamilan hingga balita, fondasi bagilahirnya generasi yang produktif dan berdaya saing akan semakin kuat. Hal tersebut senada dengan penyampaian Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, yang mengatakan bahwa 1.000 HPK merupakan fondasi utama dalam membentukkualitas sumber daya manusia Indonesia yang unggul.  Ia menuturkan, fase sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun Adalah masa emas yang tidak bisa terulang. Investasi terbaik bagi masa depan bangsa adalahmemastikan setiap anak memperoleh gizi, kesehatan, dan pengasuhan yang...
- Advertisement -

Baca berita yang ini