Ngeri! Tangan Wanita Ini Digigit Kecoa Saat Tidur, Begini Penampakannya

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Kecoa adalah makhluk menjijikkan dan kotor yang menyerang rumah Anda tanpa diundang. Mereka membuat sarang di celah-celah ruangan Anda. Namun, jika Anda tidak memiliki masalah dengan hama ini, Anda aneh jika Anda ingin berpikir lagi.

Seorang wanita di Facebook membagikan gambar tangannya yang tertutup luka cukup dalam. Luka itu berasal digigitan kecoa yang menggerogoti dia saat tidur.

Dilansir dari Ettoday, wanita itu meminum pil tidur sebelum tidur malam dan tidak merasakan kecoa menggigitnya. Keesokan paginya, dia bangun dan menemukan bahwa tangan kanannya hanya penuh bekas gigitan yang terlihat sangat menyakitkan.

Tangan wanita ini digigit kecoa. (Foto: Istimewa)

Anehnya, dia mengetahui bahwa dia adalah satu-satunya di keluarganya yang digigit kecoak dan bertanya-tanya mengapa. Ketika dia pergi ke dokter untuk dirawat, dokter mengatakan kepadanya bahwa tangannya kemungkinan besar memiliki zat makanan yang tersisa.

Seperti diketahui kecoa adalah hewan pemakan segala atau omnivora. Mereka akan mengonsumsi makanan organik apa pun dan lebih memilih untuk memakan permen, daging, dan tepung. Kecoak juga dapat tertarik ke tempat-tempat yang tidak higienis dan kotor.

Wanita itu kemudian diberitahu bahwa kecoa menggigitnya karena dirinya tidak bersih. Jadi, memang kecoak bisa menggigit manusia.

Meskipun mereka tidak makan darah, mereka dapat menggigit manusia jika mereka cukup lapar. Gigitan kecoak juga paling mungkin terjadi ketika Anda sedang tidur.

Berita Terbaru

Danantara, PSEL, dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Indonesia

*) Oleh: Citra Ningrum OktaviaPemerintah tengah menghadapi salah satu tantangan paling mendesak dalampembangunan nasional, yakni darurat sampah perkotaan yang selama bertahun-tahun berjalan tanpa penyelesaian menyeluruh. Timbunan sampah yang terusmeningkat tidak lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan telahmenjadi ancaman serius bagi kesehatan publik, kualitas ekosistem, hingga ketahananenergi nasional. Di tengah situasi tersebut, langkah pemerintah menggandengDanantara Indonesia untuk mempercepat pembangunan fasilitas PengolahanSampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan keputusan strategis yang menunjukkan keberanian negara keluar dari pola lama pengelolaan sampah yang stagnan. Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PSEL di enam lokasibersama 13 pemerintah daerah menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi bekerjadengan pendekatan parsial, tetapi mulai membangun sistem pengelolaan sampahyang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.Lebih jauh, penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentangpercepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrikmemperlihatkan adanya keseriusan politik pemerintah dalam membenahi tata kelolasampah nasional. Menko Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa regulasitersebut telah mendorong langkah konkret pemerintah pusat dan daerah untukbergerak lebih cepat dalam pembangunan PSEL. Target pembangunan sedikitnya 25 lokasi PSEL dalam dua hingga tiga tahun ke depan bukan hanya ambisi administratif, melainkan kebutuhan nyata untuk mengatasi kedaruratan sampah di puluhankabupaten dan kota. Selama ini, banyak proyek pengolahan sampah tersendat akibatbirokrasi panjang, lemahnya koordinasi antarlembaga, dan ketidakjelasan pembagiankewenangan. Karena itu, penyederhanaan prosedur serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, Danantara, dan pihak-pihak terkait menjadi fondasi pentingagar proyek strategis ini tidak kembali terjebak pada pola lamban yang merugikanmasyarakat.Selain itu, keterlibatan Danantara Indonesia memberi dimensi baru dalampembiayaan dan tata kelola proyek infrastruktur lingkungan di Indonesia. Selama ini, pengelolaan sampah kerap dipandang sebagai sektor yang minim nilai ekonomisehingga tidak menarik bagi investor besar. Padahal, di berbagai negara maju, pengolahan sampah telah berkembang menjadi industri energi hijau yang bernilaitinggi dan berkelanjutan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini