Ngakak! Ditinggal Dua Bulan Lahiran, Kondisi Kulkas Wanita Ini Bikin Kaget, Netizen: Jadi Perkebunan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Biasanya saat tengah mengandung dan detik-detik akan melahirkan, banyak orang akan memilih untuk tinggal bersama orang tua dan di rumah sakit.

Tujuannya supaya tak menyulitkan jika mengalami kondisi darurat saat melahirkan.

Tentu dengan kepergian dengan jangka waktu yang lama tak ada orang yang mengurusi rumah. Sehingga banyak yang berubah selain menumpuknya debu-debu di dalam rumah.

Seperti cerita dari salah satu pemilik akun TikTok @uchauswa.

Wanita ini berbagi kisah bagaimana keadaan rumahnya berubah terutama pada kulkasnya setelah ditinggal selama dua bulan karena melahirkan.

“Akibat rumah ditinggal 2 bulan karena melahirkan,” tulisnya dalam video.

Pada awal videonya menampilkan kondisi kulkasnya yang jadi seperti perkebunan. Bawang-bawang yang ia simpan di kulkas ditumbuhi daun dengan akar-akar yang menjalar, terlihat sangat subur.

Tak hanya keadaan kulkasnya yang berubah, bahkan sepasang sepatu milik suaminya juga menjadi sarang kecoak.

Sontak video ini jadi viral dan telah ditonton sebanyak 1,8 juta kali. Banyak netizen juga yang mengomentari video tersebut dengan berbagi cerita yang serupa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini