Kronologi Balita 2 Tahun Jatuh ke Kandang Buaya hingga Dimakan Hidup-hidup

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Sebuah penggalan video viral yang merekam peristiwa tragis tewasnya bocah 2 tahun membuat publik gempar. Balita tersebut tewas dimakan hidup-hidup oleh kawanan buaya setelah tak sengaja jatuh ke kandangnya.

Dilansir dari Daily Mail, Selasa, 2 Juli 2019, peristiwa mengerikan itu terjadi di Siam Reap, Kamboja pada Minggu, 30 Juni 2019. Polisi setempat mengatakan kejadian brawal ketika balita RR tak sengaja masuk kandang buaya milik sang ayah yang berada di belakang rumahnya.

RR luput dari pengawasan sang ibu lantaran ibunya tengah sibuk mengurus adiknya yang baru lahir. Kemudian, Ayah RR kebingungan saat tiba di rumah namun tak menemukan putri kecilnya.

Alangkah terkejutnya ia saat mengecek kandang penangkaran buaya di belakang rumahnya, sang ayah melihat sebuah tengkorak yang diduga milik RR sedang jadi rebutan para buaya.

Sejumlah foto pun viral, menunjukkan orangtua RR menangis sembari memegang sisa tubuh anaknya.

“Ayahnya hanya menemukan tengkoraknya di kandang buaya, di mana dia dibunuh oleh mereka (para buaya),” kata Kepala Polisi Kapten Chem Chamnan.

Kepolisian setempat pun menegaskan agar para keluarga yang memiliki peternakan buaya untuk lebih waspada dan mengantisipasi agar anak-anak tak memasuki area berbahaya itu.

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini