Gokil! Merpati Laku Dijual Rp 1 Miliar oleh Pemiliknya, Apa Istimewanya?

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA-Mungkin orang tidak percaya, bahwa ada merpati termahal di Indonesia. Merpati bernama Jayabaya milik Aristyo Setiawan ini tembus dijual seharga Rp 1 Miliar.

Harga itu sebanding dengan prestasi sang burung yang mentereng. Transaksi seekor merpati termahal di Indonesia ini berlangsung di Kota Bandung, Jumat 28 Juni 2019. Robby Eka Wijaya membeli Jayabaya dari tangan Aristyo Setiawan.

“Transaksi Jayabaya bukan setting-an. Memang nyatanya harganya segitu,” kata Ketua Penggemar Merpati Tinggi Indonesia (PMTI) Edhi Susanto Kusumadi, Selasa 2 Juli 2019.

Edhi mengakui kehebatan Jayabaya. Puncaknya, saat Jayabaya juara klasemen PMTI 2018. Jayabaya berhasil mengungguli ribuan merpati lainnya dengan mengumpulkan 160 poin.

Dalam satu tahun, PMTI dapat menggelar 22 kali perlombaan. Kontes dilaksanakan dua pekan sekali di beberapa tempat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. “Memang (format lomba) PMTI itu dibuat kayak Motor GP, hitung poin. Jayabaya juaranya tahun 2018,” ujarnya.

Edhi mengungkapkan untuk menjadi juara kontes Merpati Tinggi Kolong Meja tidaklah mudah. Dibutuhkan burung ‘istimewa’ yang punya kecerdasan dan ketangkasan. “Tingkat kesulitannya jauh di kita, dibandingkan kolong bebas. Soalnya harus jatuh di atas meja. Kalau salah meja saja kalah,” katanya.

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini