Ingat Oplet Cinere-Gandul Si Doel? Dulu Dibeli Rano Karno Rp 500 Ribu, Kini Ditawar Rp 1 Miliar!

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Sinetron Si Doel Anak Sekolahan menjadi salah satu tayangan favorit di televisi era 90-an. Salah satu yang paling ikonik dan diingat penonton dari sinetron ini pastinya adalah oplet antik berwarna biru milik si Doel.

Bukan oplet sembarangan, siapa sangka jika angkutan berwujud unik itu kini bernilai jual fantastis. Oplet tersebut kini masih terparkir di rumah aktor pemeran Si Doel, Rano Karno.

Dalam sebuah tayangan vlog Youtube Gofar Hilman, Rano Karno pun bercerita seputar mobil antik tersebut. Mobil tersebut berjenis Morris Minor 100 Traveler hasil pabrikan Inggris tahun 1957.

Rano pun berkisah, sejak kecil dirinya bermimpi bisa naik oplet. Sayangnya, kondisi ekonomi yang sulit membuat Rano kecil tak bisa mewujudkan keinginannya itu.

“Kita dulu jajan 5 perak. Kita minum aja udah 5 perak, gimana mau naik oplet.

“Setiap sekolah itu oplet cuma jadi pandangan, kapan bisa naik oplet,” kata Rano Karno, dikutip Selasa, 2 Juli 2019.

Mimpi itu akhirnya baru kesampaian saat ia memulai proyek sinetron Si Doel Anak Sekolahan. “Nah, begitu kita bikin Si Doel, pertama kali perintahnya ke art director, ‘cari oplet!’,” ujar Rano Karno.

Didapatkanlah oplet Morris Minor yang kala itu seharga Rp 525 ribu. “Ini oplet harganya murah, cuma Rp 525 ribu. Cuma dulu namanya bangke, enggak begini,” kata mantan Gubernur Banten itu.

Kini, mobil antik tersebut pun sudah dimodifikasi sedemikian rupa dengan mesin keluaran tahun 2013. Rano pun mengaku jika mobil antiknya tersebut kerap ditawar orang. Tak main-main, ada yang ingin membelinya dengan harga Rp 1 miliar.

“Gue kata ini orang mabuk kali kan, pernah nawar sampai Rp 1 miliar. Enggak deh, soalnya masih gue pake,” kata Rano.

Namun Rano menolak lantaran ingin tetap menyimpan mobil bersejarah itu. “Dia nggak nyari sejarahnya, bukan opletnya. Rp 1 miliar kita gak lepas,” ujarpnya.

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini