Demi Lebaran Bareng Anak, Kakek Ini Rela Bersepeda Jogja-Bogor

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Hari Lebaran dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sebagai momen berkumpul bersama keluarga. Karena itu, tak heran banyak yang rela berlelah-lelah menempuh perjalanan mudik yang jauh demi bisa bertemu dengan keluarga di Hari Raya.

Tak terkecuali, kakek satu ini. Ia bahkan rela mengayuh sepedanya dari Jogja menuju Bogor demi bisa menemui anaknya saat Lebaran. Kisahnya pun sampai viral dan membuat banyak netizen tersentuh.

Kisah kakek ini pertama kali diunggah oleh pengguna Facebook bernama Yuni Rusmini. Dalam unggahan tersebut diceritakan bahwa anak si kakek tak bisa pulang kampung ke Yogyakarta di Lebaran tahun ini.

Akhirnya, kakek tersebut pun nekat bersepeda dari Jogja ke Bogor demi berjumpa dengan sang anak.

“Momen mudik lebaran tahun ini sudah di mulai gaeeees…?????? Bapak nekat bersepeda onthel dari Jogja ke Bogor, demi bisa lebaran Bersama anak. yg mana anak nya merantau ke Bogor tidak bisa mudik ke jogja untuk lebaran. Bapak ini dari jogja mengayuh Sepeda onthel katanya pengin lebaran Bersama anaknya di Bogor. Alasannya kenapa mlh bapak yang mendatangi anaknya sampai begitu. Karena anaknya merantau ke Bogor, nggak bisa mudik ke jogja lebaran tahun ini,” tulis akun Facebook Yuni Rusmini, dikutip Senin, 27 Mei 2019.

Kisah kakek ini pun menuai simpati dari banyak netizen. Namun tak sedikit pula yang mempertanyakan mengapa sang anak tega membiarkan bapaknya bersepeda dari Jogja ke Bogor.

“Semoga slmat smpai tjuan nggih pak,saking sayangnya sma anak, smpai rela begini. jdi rindu sma bapakku,” tulis akun Sity Nurdjanah.

“YaAllah Lindungi Bapak ini Selalu, selamatkan dia di perjalanannya, dan pertemukan dgn Anaknya Amiiin,” komentar akun Afnanfirdaus Nanang.

Berita Terbaru

Ramadan: Menanam Benih Toleransi, Menggugurkan Akar Radikalisme

Oleh: Juana Syahril)* Bulan Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang refleksi untuk memperkuat nilai-nilai sosial seperti toleransi dan pengendalian diri. Di tengah meningkatnya polarisasi di era digital, semangatRamadan dapat menjadi fondasi penting untuk mencegah berkembangnya pahamradikalisme dalam masyarakat. Anggota Komisi Perempuan Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Rabicha Hilma Jabar Sasmita mengatakan bahwa toleransi beragama di Indonesia pada dasarnya bukanlah sesuatu yang baru. Sejak lama masyarakatIndonesia telah hidup dalam keberagaman dan mampu menjalin kehidupan sosialyang harmonis. Keberagaman suku, agama, dan budaya menjadi bagian dariwarisan peradaban yang telah membentuk karakter masyarakat Nusantara. Dalam pandangannya, kehidupan masyarakat Indonesia sejak dahulu telahmencerminkan praktik toleransi yang kuat. Masyarakat terbiasa hidup berdampinganmeskipun memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda. Tradisi tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keislaman yang memandang keberagaman sebagai bagiandari kehendak Tuhan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini