Dua Tahun Pandemi, Mari Hidupkan Malam Ramadan dengan Qiyamul Lail di Masjid

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Malam bulan Ramadan adalah malam yang penuh keberkahan. Biasanya banyak umat muslim menghabiskan waktunya di malam bulan Ramadan dengan melakukan Qiyamul Lail.

Pengertian Qiyamul Lail merujuk kepada amalan beribadah pada malam hari dengan mengerjakan salat-salat sunat seperti salat Sunat Taubat, Tahajjud, Witir dan lain-lain. Serta amalan-amalan seperti membaca Al-Quran, berzikir, beristighfar, berdoa dan sebagainya.

Nah biasanya, sebelum pandemi Covid-19, sejumlah masjid di Tanah Air membuka diri dan menggelar Qiyamul Lail bersama-sama. Terkadang masjid-masjid ini juga menyediakan hidangan sahur, setelah semalaman jemaah melakukan ibadah. Namun benarkah Qiyamul Lail ini hanya berlaku di malam bulan Ramadan saja?

Qiyamul Lail menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid adalah menghabiskan waktu atau sebagian malam dengan salat meskipun hanya sesaat, berdzikir, beristighfar, membaca Al-Qur’an, dan berdoa kepada Allah SWT. Tidak disyaratkan harus menghabiskan mayoritas waktu malam. Menurut para ulama, secara umum salat tarawih juga merupakan sebutan bagi qiyamul lail pada bulan suci Ramadan.

Rasulullah SAW menganjurkan umat Muslim untuk melaksanakan Qiyamul Lail:

”Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada Syahrullah (Bulan Allah) Muharram dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam.”

(H.R Muslim no. 1163 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Melaksanakan ibadah ini dapat memberikan pahala dan keuntungan bagi umat yang menjalankannya. Sehingga bisa menjadi jalan masuk ke dalam surga, menghapus keburukan dan mencegah dari dosa-dosa, serta meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Beberapa masjid di Jakarta ternyata rutin mengadakan Qiyamul Lail di bulan Ramadan. Salah satunya yaitu masjid Istiqlal.

Masjid Istiqlal

Pelaksanaan Qiyamul Lail di bulan Ramadan biasanya bersama-sama. Ada panduan dan aturannya sehingga jemaah yang ingin menghabiskan malam untuk beribadah terbantu. Mulai dari salat sunah bersama-sama hingga membaca Al-Quran dan melantunkan salawat. Menjelang sahur, petugas Masjid Istiqlal biasanya menghidangkan makanan untuk disantap bersama-sama.

Masjid Agung Sunda Kelapa

Masjid Agung Sunda Kelapa memiliki agenda pada bulan suci Ramadan. Dimulai malam hari dengan solat tarawih dan ceramah, tadarus Al-Qur’an, muhasabah, dan sahur bersama. Masjid Agung Sunda Kelapa berlokasi di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Baitul Ihsan, Gambir 

Masjid ini rutin mengadakan Qiyamul Lail setiap bulan Ramadan, yang dilaksanakan pada pukul 02.00 WIB dan akan berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam hingga menjelang waktu sahur. Dengan suasana masjid yang nyaman, bersih dan sejuk, jemaah akan lebih tenang dan khusyuk berdoa kepada Allah SWT. Masjid yang berlokasi di komplek Bank Indonesia, Gambir, Jakarta Pusat ini biasanya juga menyediakan kupon makanan gratis bagi para Jemaah untuk sahur.

Reporter: Dhea Salsabila

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Refocusing Anggaran MBG Makin Berpihak pada Kerentanan

Oleh: Alexander Royce*)Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki babak baru. Setelah lebih dari satutahun berjalan dan menjangkau jutaan penerima manfaat di berbagai daerah, pemerintah kini melakukan refocusing atau penajaman sasaran program. Langkahtersebut bukan sekadar upaya efisiensi anggaran, melainkan bagian dari strategi untukmemastikan setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar memberikan dampakmaksimal terhadap perbaikan gizi masyarakat, khususnya kelompok yang paling rentan.Di tengah tantangan fiskal global, tekanan ekonomi internasional, serta kebutuhanpembangunan di berbagai sektor, pemerintah memilih pendekatan yang lebih terukur. Fokus tidak lagi semata-mata pada besarnya jumlah penerima manfaat, tetapi padakualitas intervensi dan ketepatan sasaran. Pendekatan ini menunjukkan bahwapemerintah tidak sedang mengurangi komitmen terhadap pembangunan sumber dayamanusia, melainkan memperkuat efektivitas program agar hasilnya lebih nyata.Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, menjadi figur yang pertama kali menjelaskan arah kebijakan baru tersebut. Menurutnya, pemerintah telah memutuskanuntuk menggeser orientasi program dari mengejar kuantitas menuju peningkatankualitas pelaksanaan. Dalam berbagai kesempatan, Nanik menegaskan bahwa BGN tidak lagi menjadikan target puluhan juta penerima sebagai satu-satunya ukurankeberhasilan program. Sebaliknya, perhatian diarahkan pada kelompok yang paling membutuhkan intervensi gizi, terutama masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, danterluar (3T), wilayah dengan prevalensi stunting tinggi, serta kelompok rentan lainnya. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah sedang membenahi tata kelola program melaluirefocusing penerima manfaat, optimalisasi dapur yang sudah ada, moratorium pembangunan dapur baru, serta pencarian sumber pendanaan alternatif agar bebanAPBN dapat lebih terkendali. Langkah tersebut diyakini dapat menghasilkanpenghematan yang signifikan sekaligus meningkatkan kualitas layanan gizi yang diterima masyarakat.Lebih jauh, Nanik menilai bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukanoleh jumlah paket makanan yang dibagikan setiap hari. Yang jauh lebih penting adalahsejauh mana program mampu menurunkan angka stunting, memperbaiki status gizianak, serta meningkatkan kualitas kesehatan ibu hamil dan kelompok rentan. Karenaitu, pemerintah memilih untuk mengarahkan sumber daya pada wilayah yang selama inijustru belum banyak tersentuh layanan gizi. Pendekatan tersebut sejalan denganarahan Presiden agar manfaat program dapat lebih dahulu dirasakan oleh masyarakatyang menghadapi kerentanan paling tinggi. Setelah arah kebijakan tersebut dijelaskan oleh Kepala BGN, Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari kemudian memberikan gambaran lebih rinci mengenai implementasirefocusing yang sedang disiapkan pemerintah. Menurut Agustina, BGN saat inimelakukan berbagai simulasi untuk memastikan bahwa indikator keberhasilan program dapat dicapai secara lebih efektif dan spesifik. Evaluasi dilakukan terhadap komposisipenerima manfaat agar intervensi gizi benar-benar menyasar kelompok yang memilikikebutuhan paling besar. Ia menjelaskan bahwa pemerintah sedang menelaah kembalicakupan penerima manfaat yang sebelumnya dirancang sangat luas, sehingga program dapat menjadi lebih tepat sasaran dan berkelanjutan dalam jangka panjang.Agustina juga menekankan bahwa proses penyesuaian tersebut merupakan bagiannormal dari perencanaan anggaran pemerintah. Dengan mempertimbangkan efektivitasprogram dan kondisi fiskal negara, pemerintah berupaya memastikan bahwa setiapalokasi anggaran memberikan manfaat yang optimal. Dalam berbagai pembahasananggaran tahun 2027, BGN mengkaji kemungkinan pengurangan penerima manfaatyang dinilai tidak lagi menjadi prioritas utama, sehingga ruang fiskal dapat difokuskankepada kelompok yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi. Pendekatan inimenunjukkan bahwa pemerintah tidak mengurangi perhatian terhadap isu gizi, melainkan memperkuat ketepatan sasaran kebijakan.Pandangan tersebut mendapat dukungan dari kalangan pasar dan pelaku ekonomi. Head of Research Kiwoom Sekuritas,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini