Waduh, Terpaksa Ditinggal, Tiga WNI Gak Lolos Screening di Cina

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – WNI yang dievakuasi dari Wuhan ternyata hanya 238 orang bukan 245 seperti disebutkan semula karena tujuh orang terpaksa harus ditinggal. Sedihnya, tiga dari tujuh orang itu dinyatakan tidak lolos screening dari Pemerintah Cina.

Sedangkan empat lainnya, memilih tetap tinggal di Wuhan dengan kesadaran sendiri karena mereka merasa lebih nyaman di sana. Padahal mereka juga sudah ditawarkan ikut evakuasi.

“Mereka juga membuat pernyataan tidak bersedia dievakuasi,” ujar Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Minggu 2 Februari 2020.

Sementara tiga WNI tidak lolos screening tiga tahap yang harus mereka harus jalani. Hal itu pula yang membuat pemerintah yakin mengevakuasi WNI tersebut.

Artinya orang-orang yang dievakuasi benar-benar sehat, namun untuk memastikan kondisi kesehatannya harus dilakukan prosedur yang ditetapkan WHO maka perlu proses karantina.

Peraturannya ketika sudah mendarat di Indonesia mereka harus mengganti baju, lalu dinyatakan bahwa benar-benar sehat sesuai standar WHO.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini