Tertangkap Kamera Kunjungi Rumah Wanita Cantik, Mourinho Punya Selingkuhan?

Baca Juga

MATA INDONESIA, LONDON – Jose Mourinho tertangkap kamera mengunjungi rumah seorang wanita cantik beranak satu usai membawa Tottenham Hotspur mengalahkan Arsenal. Apakah Mourinho selingkuh?

Mourinho membawa Spurs mengalahkan Arsenal dengan skor 2-1 pekan lalu. Kemenangan prestisius karena laga tersebut bertajuk Derby London Utara.

Usai laga tersebut, Mourinho tertangkap kamera mengunjungi rumah janda cantik di London. Pelatih asal Portugal tampak mengenakan masker, kacamata, dan topi. Meski demikian, banyak yang mengenali bahwa sosok tersebut adalah Mourinho.

“Dia masih memakai baju yang sama saat Spurs bertanding melawan Arsenal. Dia memakai jam mahal di tangannya. Jose tiba mengendarai Audi 4×4 dan langsung masuk ke dalam rumah,” ujar seorang saksi mata, dikutip dari The Sun, Senin 20 Juli 2020.

Selidik punya selidik, ternyata rumah yang dikunjungi Mourinho adalah kediaman sahabat dekat wanitanya, Prue Carter-Robinson. Prue adalah seorang janda dengan satu anak.

Mourinho kenal Prue satu dekade lalu dan berhubungan dekat sejak 2018. Keduanya terlihat menghabiskan waktu bersama di Qatar pada Maret 2019. Ketika itu Mourinho bekerja sebagai komentator televisi usai dipecat Manchester United.

Mourinho dan Prue tampak menghabiskan waktu berjemur di hotel bintang lima, Four Seasons, ditemani juga oleh temannya, Ricardo Formosinho.

Tidak diketahui pasti apakah Prue benar-benar teman dekat atau Mourinho punya hubungan istimewa. Pasalnya, The Special One sudah memiliki istri bernama Matilde dan menikah selama 30 tahun.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pemerintah Tuai Apresiasi atas Penerapan WFA saat Arus Balik

Oleh : Donny Muflih )*Penerapan kebijakan Work From Anywhere (WFA) oleh pemerintah selama periodearus mudik dan arus balik Lebaran 2026 menuai apresiasi luas dari berbagaikalangan, khususnya pekerja sektor swasta dan aparatur sipil negara, karena dinilaimampu mengurai kepadatan mobilitas sekaligus menjaga produktivitas kerja tanpamengorbankan pelayanan publik.Langkah pemerintah yang menetapkan kebijakan WFA pada 16-17 Maret serta 25-27 Maret 2026 dipandang sebagai strategi adaptif dalam menghadapi lonjakanmobilitas tahunan saat Lebaran. Kebijakan ini tidak hanya menyasar aparatur sipilnegara, tetapi juga mendorong sektor swasta untuk mengadopsi pola kerja serupa. Dengan demikian, distribusi arus perjalanan masyarakat menjadi lebih merata dan tidak terpusat pada satu waktu tertentu, yang selama ini menjadi penyebab utamakemacetan panjang di berbagai jalur transportasi.Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwakebijakan fleksibilitas kerja ini dirancang untuk mengoptimalkan mobilitasmasyarakat tanpa mengganggu produktivitas nasional. Dalam pandangannya, keseimbangan antara kepentingan pekerja dan stabilitas ekonomi menjadi kunciutama keberhasilan kebijakan ini. Pemerintah berupaya memastikan bahwa layananpublik tetap berjalan optimal, sementara masyarakat tetap memiliki kesempatanuntuk menjalankan tradisi mudik dengan lebih nyaman.Respons positif juga datang dari kalangan pekerja swasta yang merasakan langsungmanfaat kebijakan tersebut. Reinha Delima melihat kebijakan WFA sebagai solusiyang saling menguntungkan antara perusahaan dan pekerja. Ia menilai bahwafleksibilitas bekerja dari mana saja memungkinkan karyawan untuk berangkat mudik lebih awal tanpa harus mengorbankan tanggung jawab pekerjaan. Dalam praktiknya, Reinha tetap menjaga disiplin kerja, memastikan seluruh tugas terselesaikan tepatwaktu, serta menyiapkan ruang kerja yang kondusif meskipun berada di luar kantor.Dari sisi kebijakan publik, penerapan WFA menjadi bagian dari strategi pemerintahuntuk mengurangi beban infrastruktur transportasi selama periode puncak Lebaran. Dengan berkurangnya jumlah pekerja yang harus hadir secara fisik di kantor, potensikepadatan di jalan raya, stasiun, dan terminal dapat ditekan. Hal ini tidak hanyaberdampak pada kelancaran perjalanan, tetapi juga meningkatkan aspekkeselamatan bagi para pemudik.Lebih jauh, kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah mulai mengadopsipendekatan kerja modern yang lebih fleksibel dan berbasis teknologi. Transformasiini sejalan dengan perkembangan digitalisasi yang memungkinkan pekerjaandilakukan dari berbagai lokasi tanpa mengurangi kualitas hasil kerja....
- Advertisement -

Baca berita yang ini