Teman Kantor Positif Covid19, Saran Dokter Tak Perlu Langsung Swab

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Masih banyak masyarakat yang paranoid bahkan langsung drop kejiwaan maupun kondisi kesehatannya karena stigma setelah mengetahui anggota keluarga atau teman satu kantor positif Covid19.

Banyak yang buru-buru melakukan tes swab antigen atau PCR karena dihantui penularan Covid19 tersebut.

Padahal, edukator Covid19, dr. Andhika Raspati SpKO, memberi pemahaman yang jelas dan gamblang.

“Kalo orang serumah atau temen sekantor positif covid, kita wajib Tes Antigen/PCR ga sih? Ternyata, kalo kita ada riwayat KONTAK ERAT sama orang yg positif Covid, kita gak harus tes Antigen/PCR lho,” begitu pesan lelaki dengan panggilan Dokter Dhika itu yang diterima Mata Indonesia News, Minggu 21 Februari 2021.

Dokter Dhika menegaskan yang harus dilakukan adalah segera isolasi mandiri sambil memantau gejala yang timbul.

Kalau mengalami gejala yang mengarah ke Covid19, barulah melakukan tes. Dianjurkan PCR karena karena lebih peka dibandingkan swab antigen.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Menutup Kesenjangan Layanan Kesehatan melalui Koperasi Desa

Oleh: Yandi Arya Adinegara )*Kesenjangan layanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedesaan masihmenjadi pekerjaan rumah besar dalam pembangunan nasional. Di satu sisi, kota-kota besar menikmati akses rumah sakit modern, tenaga medis memadai, sertadistribusi obat yang relatif lancar. Di sisi lain, banyak desa masih menghadapiketerbatasan fasilitas kesehatan, minimnya ketersediaan obat, hingga rendahnyaketerjangkauan layanan bagi masyarakat.Dalam konteks inilah, langkah pemerintah menghadirkan Koperasi Desa/Kelurahan(Kopdes) Merah Putih sebagai simpul layanan kesehatan sekaligus pusat ekonomidesa patut diapresiasi sebagai terobosan strategis dan relevan dengan kebutuhanzaman.Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa Kopdes Merah Putih tidakhanya dirancang sebagai penggerak ekonomi lokal, tetapi juga menjadi ujungtombak pelayanan kesehatan masyarakat desa. Setiap koperasi akan dilengkapidengan gerai obat dan klinik kesehatan, sebuah inovasi yang secara langsungmenyasar persoalan klasik: keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah pedesaan. Pernyataan ini bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari desainkebijakan yang terintegrasi lintas sektor.Selama ini, salah satu persoalan mendasar adalah masih adanya warga desa yang belum terjangkau oleh program jaminan kesehatan nasional. Kehadiran klinik desaberbasis koperasi membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan layanankesehatan yang lebih dekat, murah, dan mudah diakses. Ferry Juliantonomenekankan bahwa pemerintah ingin memastikan masyarakat desa memperolehjaminan pelayanan kesehatan yang layak, melalui sinergi antara Kementerian Koperasi, Kementerian Kesehatan, dan BPJS Kesehatan.Langkah kolaboratif ini diperkuat dengan penandatanganan nota kesepahamanantara Sekretaris Kementerian Koperasi Ahmad Zabadi dan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito. Kerja sama tersebut tidak hanya bertujuanmemperluas cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional...
- Advertisement -

Baca berita yang ini