Oleh : Doni Ariawan
Di tengah tantangan pemerataan layanan kesehatan di Indonesia, wilayah pedesaanmasih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari akses fasilitas hingga tenagamedis. Jarak yang jauh, infrastruktur yang belum memadai, serta keterbatasaninformasi menjadi hambatan utama bagi masyarakat desa untuk mendapatkanlayanan kesehatan yang layak. Dalam konteks ini, munculnya Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih sebagai lembaga ekonomi berbasis komunitas menawarkanpotensi baru yang belum banyak dimaksimalkan, khususnya dalam mendukunglayanan kesehatan di tingkat lokal.
Kehadiran Kopdes Merah Putih nantinya diharapkan akan menjadi penggerakekonomi desa, membantu masyarakat dalam hal simpan pinjam, distribusi kebutuhanpokok, hingga pemasaran hasil pertanian. Namun, perannya dapat diperluas menjadilebih strategis dengan masuk ke sektor kesehatan. Dengan jaringan yang dekatdengan masyarakat dan tingkat kepercayaan yang tinggi, Kopdes Merah Putih memiliki posisi unik untuk menjadi jembatan antara layanan kesehatan formal dan kebutuhan riil warga desa.
Salah satu bentuk kontribusi Kopdes Merah Putih dalam layanan kesehatan adalahmelalui penyediaan fasilitas kesehatan dasar, seperti klinik desa atau pos kesehatanterpadu yang dikelola secara mandiri. Kopdes Merah Putih dapat bekerja samadengan tenaga medis setempat untuk menyediakan layanan pemeriksaan rutin, imunisasi, hingga edukasi kesehatan. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu selalubergantung pada puskesmas yang mungkin lokasinya jauh atau memiliki antreanpanjang.
Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantono menjelaskan Kopdes Merah Putih akandilengkapi gerai obat dan klinik desa. Menurut dia, saat ini minim obat dan minim fasilitas kesehatan di desa-desa, kemudian masih banyak masyarakat desa yang tidak tercakup oleh BPJS Kesehatan. Kopdes Merah Putih nantinya akan menjadipusat ekonomi desa dengan enam gerai yakni gerai sembako, apotek desa dan klinikdesa, unit simpan pinjam, kantor koperasi, cold storage, gerai logistik, dan satu geraisesuai kebutuhan potensi daerah.
Selain itu, Kopdes Merah Putih juga berpotensi dalam menyediakan akses terhadapobat-obatan dan alat kesehatan dengan harga yang lebih terjangkau. Melalui sistempembelian kolektif, Kopdes Merah Putih dapat menekan biaya distribusi dan memastikan ketersediaan produk kesehatan di desa. Hal ini sangat penting, terutamabagi masyarakat dengan keterbatasan ekonomi yang seringkali menunda pengobatankarena biaya yang tinggi.
Sekretaris Kementerian Koperasi, Ahmad Zabadi menjelaskan jika seluruh wilayah tersebut memiliki koperasi dengan rata-rata 1.000 anggota, maka lebih dari 80 jutaorang bisa dipastikan mendapatkan hak layanan kesehatan. Ia menekankan bahwakoperasi ke depan tidak hanya bergerak di sektor ekonomi, tetapi juga menjadi sentralayanan kesehatan melalui kehadiran apotek dan klinik.
Peran edukatif juga menjadi kekuatan penting Kopdes Merah Putih dalammeningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Melalui kegiatan penyuluhan, pelatihankader kesehatan, dan kampanye gaya hidup sehat, Kopdes Merah Putih dapatmembantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahanpenyakit. Edukasi ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga membentukbudaya sehat di tingkat komunitas.
Di era digital, Kopdes Merah Putih juga dapat memanfaatkan teknologi untukmemperluas jangkauan layanan kesehatan. Misalnya, dengan menghadirkan layanantelemedicine yang memungkinkan warga desa berkonsultasi dengan dokter tanpaharus bepergian jauh. Kopdes Merah Putih dapat menyediakan fasilitas dan pendampingan bagi warga yang belum familiar dengan teknologi, sehinggakesenjangan digital tidak menjadi penghalang dalam mengakses layanan kesehatanmodern.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang, Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhasmenjelaskan jika pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) menyasar 35.408 titik lokasi di seluruh Indonesia. Dari 35.408 titik, 25.625 lokasidalam tahap pembangunan dan baru 5.714 Kopdes Merah Putih selesai dibangun.Angka ini menunjukkan bahwa ekspansi Kopdes Merah Putih tengah berlangsungsecara signifikan dan membuka peluang besar bagi integrasi layanan kesehatan di tingkat desa.
Ke depan, perlu ada langkah strategis untuk memastikan bahwa pertumbuhan jumlahKopdes Merah Putih ini sejalan dengan peningkatan kualitas layanan yang diberikan, termasuk di sektor kesehatan. Sinergi antara pemerintah, tenaga medis, dan pengelola Kopdes Merah Putih menjadi kunci agar setiap Kopdes Merah Putih tidakhanya berfungsi sebagai lembaga ekonomi, tetapi juga sebagai pusat pelayananmasyarakat yang inklusif. Dengan pendekatan yang terarah, Kopdes Merah Putih dapat berkembang menjadi simpul penting dalam sistem kesehatan berbasiskomunitas.
Pada akhirnya, penguatan peran Kopdes Merah Putih dalam layanan kesehatanbukan hanya tentang memperluas fungsi lembaga desa, tetapi juga tentangmenciptakan sistem yang lebih inklusif dan berkeadilan. Dengan memanfaatkanpotensi lokal dan semangat gotong royong, Kopdes Merah Putih dapat menjadi motor penggerak dalam mewujudkan akses kesehatan yang merata bagi seluruhmasyarakat desa. Inilah langkah konkret menuju pembangunan kesehatan yang tidakhanya terpusat di kota, tetapi tumbuh dari dan untuk masyarakat desa itu sendiri.
*) Penulis merupakan konsultan strategi logistik nasional/pengamat kebijakan publik

