Pangeran Harry Dilarang Beri Hormat kepada Ratu di Pemakaman, Menyulut Emosi Penggemar

Baca Juga

MATA INDONESIA, LONDON – Penggemar Pangeran Harry terkejut saat Pangeran Harry tidak dapat mengenakan seragam militernya. Ia bahkan tidak bisa memberi hormat kepada peti mati Ratu Elizabeth II saat memasuki Westminister Abbey.

Penggemar Pangeran Harry marah setelah mengetahui bahwa Harry tidak dapat memberi hormat pada pet mati Ratu Elizabeth II.

Pria berusia 38 tahun tersebut mengenakan setelan hitam saat ia menundukkan kepalanya ke peti mati di luar Biara.

Hal tersebut terjadi mengingat ia tidak mendapat izin untuk mengenakan seragamnya.

Merupakan tradisi bagi bangsawan yang bekerja untuk mengenakan pakaian militer di acara-acara yang relevan, seperti Trooping the Color dan pemakaman.

Tetapi Harry tidak lagi mengenakannya setelah ia megundurkan diri dari perannya pada tahun 2020.

Ia memulai hidup baru dengan Meghan Markle ke luar negeri.

Penggemarnya turun ke Twitter untuk mengekspresikan kemarahan mereka atas keputusan tersebut “ Apa ini, Pangeran Harry sebenarnya menjalani 2 tur di Afghanistan tetapi tidak bisa memberi hormat kepada neneknya atau mengenakan seragam militer,” dilansir dari Daily Star.

Banyak penggemar yang mengatakan bahwa dengan perlakuan tersebut, masyarakat mengetahui bagaimana sebenarnya Charles bersikap ke Harry.

Ada juga penggemar yang menulis “ Pangeran Harry benar-benar melayani negaranya dalam perang tetapi tetap diberitahu bahwa dia tidak diizinkan mengenakan seragam atau memberi hormat? Kegilaan mutak.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini