Kompetensi Sebagian Besar Anak Indonesia Usia 15 Tahun di Bawah Minimum

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sebesar 70 persen siswa Indonesia yang berusia 15 tahun memiliki kompetensi di bawah minimum untuk membaca dan matematika.

Hal itu diungkapkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim di Jakarta, Jumat 11 Februari 2022.

“Makanya ini harus kita sebut sebagai suatu krisis dan membutuhkan solusi yang luar biasa,” ujar Mendikbud.

Nadiem mengungkapkan Indonesia saat ini tengah berada di masa krisis pembelajaran dan pandemi Covid-19 semakin memperburuk situasi tersebut.

Indikasi krisis tersebut, menurutnya, tergambar jelas skor Programme for International Student Assessment (PISA) yang tak kunjung membaik.

Bahkan masih jauh dibandingkan rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) lainnya.

Nadiem mengungkapkan hal tersebut sudah terjadi sejak 20 tahun terakhir

Untuk itu, Nadiem luncurkan program merdeka belajar yang diharapkan bisa mengatasi krisis tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini