Hujan Deras Guyur Jogja, 15 Titik Kejadian Longsor Terjadi di Gunungkidul

Baca Juga

Mata Indonesia, Gunungkidul – Sebanyak 15 titik peristiwa bencana alam tanah longsor terjadi di Gunungkidul. Dalam insiden yang terjadi pada Jumat 3 Februari 2023 dipastikan tak ada korban jiwa.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Sumadi menjelaskan hujan dengan intensitas tinggi tejadi sejak Kamis-Jumat, 2-3 Februari 2023.

Selain tanah longsor, hujan lebat juga menyebabkan pohon tumbang dan satu insiden motor hanyut saat menyeberangi jalan yang banjir.

“Sejauh peristiwa kemarin tidak ada korban jiwa. Pemilik motor yang hanyut juga selamat,” terang dia Senin 6 Februari 2023.

Sumadi merinci ada tujuh wilayah peristiwa yang terjadi tanah longsor di Gunungkidul. Di antaranya, Kecamatan Gedangsari lima titik, Nglipar dua titik, Patuk tiga titik, dan Ngawen dua titik.

“Ada lagi di Kecamatan Semin, Purwosari, dan Ponjong masing-masing satu titik,” tambah dia.

Akibat tanah longsor itu, sejumlah rumah warga rusak, bahkan ada yang terancam ambrol. Selain itu akses jalan warga juga tertimbun sisa tanah.

Terpisah, Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Gunungkidul, Agus Wibowo Arifianto menyatakan bahwa ancaman longsor di Kabupaten Gunungkidul akan terus terjadi mengingat kontur tanahnya yang masih berbukit.

Dirinya juga sudah mengantisipasi dengan cara memberi peringatan diri dan pelatihan lanjutan untuk relawan tanggap bencana, untuk kelurahan rawan bencana.

Di sisi lain ia juga sudah membuat peta rawan bencana kepada para relawan termasuk kepala wilayah untuk mengantisipasi kejadian bencana.

“Ancaman tanah longsor itu didominasi di sisi utara Gunungkidul ada di Patuk, Nglipar, Gedangsari, Ngawen, Ponjong hingga Semin,” kata dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini