HMI Fisipol UMY Bicara Pilkada Dikembalikan ke DPR: Perbaiki Partai Politik Dulu, Baru Ubah Pilkada

Baca Juga

Mata Indonesia, Yogyakarta – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengadakan diskusi bertajuk Lingkar Diskusi Komisariat #2.

Diskusi ini mengangkat tema ‘Wacana Presiden untuk Mengembalikan Pilkada kepada DPRD: Orde Baru Jilid II?” yang dilaksanakan di Sekretariat HMI MPO Komisariat Fisipol UMY.

Kegiatan ini diadakan sebagai respons atas pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai gagasan pengembalian mekanisme Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Para kader HMI MPO Fisipol UMY serius menyikapi wacana tersebut, seperti terlihat dari antusiasme dalam forum diskusi ini. Setiap peserta aktif menyampaikan pandangan mereka terkait dampak dan implikasi wacana tersebut terhadap demokrasi di Indonesia.

Menurut Taufik Ridho, Ketua Unit Keilmuan HMI MPO Komisariat Fisipol UMY sekaligus pemateri diskusi, langkah memperbaiki sistem partai politik harus menjadi prioritas sebelum mempertimbangkan perubahan sistem Pilkada.

“Persoalan utama saat ini bukan pada sistem Pilkada langsung atau perwakilan, melainkan pada kerusakan sistem partai politik di Indonesia. Jika hal ini tidak diperbaiki, perubahan sistem Pilkada pun tidak akan membawa dampak signifikan,” ujar Ridho dikutip Rabu, 15 Januari 2025.

Sementara itu, Andi Muhammad Raihan, pemateri lain dalam diskusi tersebut, mengingatkan risiko yang ditimbulkan jika sistem Pilkada perwakilan diberlakukan kembali, seperti yang terjadi di era Orde Baru.

“Sistem tersebut cenderung melahirkan pemerintahan yang otoriter dan jauh dari aspirasi rakyat,” ungkap dia.

Kegiatan Lingkar Diskusi Komisariat #2 ini menunjukkan komitmen kader HMI MPO Fisipol UMY dalam merespons dinamika politik nasional.

Kegiatan ini juga sejalan dengan misi HMI untuk mencetak mahasiswa Islam yang bertanggung jawab dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang diridai Allah SWT.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini