Hebat! Rupiah Sentuh Level 13.000 di Penutupan Sore ini

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Nilai tukar rupiah berbalik menguat pada akhir perdagangan Kamis 12 September 2019. Rupiah tercatat di posisi Rp13.990 per dolar Amerika Serikat (AS) atau menguat 0,47 persen.

Sementara itu kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.052 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin yakni Rp14.063 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada di dalam rentang Rp13.988 per dolar AS hingga Rp14.054 per dolar AS.

Mengutip data RTI Business, hampir seluruh mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong menguat 0,12 persen, ringgit Malaysia menguat 0,26 persen, dolar Singapura menguat 0,3 persen, dan won Korea Selatan 0,35 persen.

Kemudian, yuan China menguat 0,37 persen, peso Filipina menguat 0,4 persen, rupee India menguat 0,47 persen, dan baht Thailand menguat 0,47 persen. Cuma yen Jepang yang melemah terhadap dolar AS sebesar 0,05 persen.

Mata uang negara maju seperti euro menguat 0,14 persen dan dolar Australia menguat 0,23 persen. Namun, poundsterling Inggris melemah 0,04 persen terhadap dolar AS.
Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan penguatan rupiah disebabkan oleh efek sinyal damai perang dagang pada hari ini.

Trump mengatakan Amerika Serikat sepakat untuk menunda kenaikan tarif terhadap impor China senilai 250 miliar dolar AS dari 1 Oktober menjadi 15 Oktober.

“Langkah ini meredakan ketegangan antara kedua belah pihak jelang pembicaraan langsung di Washington DC bulan depan,” kata Ibrahim sore ini.

Selain itu, investor juga masih berharap Bank Sentral Eropa melakukan pelonggaran kebijakan moneter di dalam pertemuan Kamis ini. Investor masih yakin bahwa otoritas moneter Eropa akan melunak untuk mengantisipasi pelemahan ekonomi di benua biru tersebut.

“Investor hampir secara universal mengharapkan penurunan suku bunga pada pertemuan ECB,” ujar dia.

Kemudian, investor juga menyambut langkah parlemen Inggris untuk memblokir Brexit yang tidak ada kesepakatan pada 31 Oktober.

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini