Hari Ini 232 Titik Pemeriksaan Mudik Tersebar di Seluruh Jawa Barat

Baca Juga

MATA INDONESIA, BANDUNG – Warga Jabodetabek sebaiknya berpikir lagi jika mau mudik ke timur Pulau Jawa, sebab akan ada 232 titik pemeriksaan (check point) saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jawa Barat (Jabar) berlaku Rabu 6 Mei 2020.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat yang dipercaya menjadi koordinator Sub Divisi Sterilisasi Fasilitas Publik Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat, Hery Antasari, titik-titik pemeriksaan itu akan tersebar di perbatasan Jabar dengan provinsi lain.

“Ada 15-25 titik di tingkat provinsi dan 232 titik oleh kabupaten/kota akan dioperasikan sebagai titik pemeriksaan PSBB dan penyekatan larangan mudik,” kata Herry, Selasa 5 Mei 2020.

Menurutnya, saat ini ada delapan titik yang sudah dioperasikan Polda Jawa Barat sedangkan tujuh hingga sembilan titik sisanya diselenggarakan Polres setempat.

Untuk mengantisipasi warga yang memaksa mudik, dia bilang, petugas sudah sangat paham dan bisa mengidentifikasi visual terhadap modus yang digunakan.

Beberapa modus yang sudah digunakan adalah menggunakan ambulans, kendaraan barang, atau kendaraan pribadi tetapi pengemudinya memiliki dispensasi.

Hingga 4 Mei 2020, Dinas Perhubungan Jawa Barat sudah mengembalikan ke tempat asalnya sekitar 33 ribu pemudik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Langkah Koordinatif Ditempuh Untuk Jaga Stabilitas Rupiah

*) Oleh: Dinda ParamitaNilai tukar rupiah selalu menjadi salah satu indikator yang paling sensitif terhadapperubahan kondisi ekonomi global. Ketika ketidakpastian meningkat akibat gejolakgeopolitik, kebijakan moneter negara maju, maupun pergeseran arus modal internasional, tekanan terhadap mata uang negara berkembang hampir tidakterhindarkan. Dalam konteks tersebut, langkah cepat dan terkoordinasi yang dilakukan pemerintah bersama otoritas ekonomi menjadi faktor penting untuk menjagastabilitas dan membangun kepercayaan pasar. Karena itu, berbagai kebijakan yang saat ini ditempuh menunjukkan bahwa Indonesia tidak tinggal diam menghadapitantangan eksternal yang terus berkembang.Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwapemerintah telah mengidentifikasi tekanan utama terhadap rupiah berasal daridinamika aliran modal global. Pelemahan nilai tukar bukan semata-mata dipengaruhifaktor domestik, melainkan juga merupakan konsekuensi dari perubahan perilakuinvestor internasional yang cenderung mencari instrumen yang dianggap lebih amandi tengah ketidakpastian dunia. Oleh sebab itu, kesepakatan koordinatif antarapemerintah, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk meredam capital outflow menjadi langkah tepat. Sinergi antarlembaga menjadi fondasi penting agar respons kebijakan berjalan efektif dan tidak bergerak sendiri-sendiri.Koordinasi tersebut mencerminkan kematangan tata kelola ekonomi nasional dalammenghadapi tekanan pasar. Pengalaman berbagai krisis sebelumnya menunjukkanbahwa stabilitas ekonomi tidak dapat dijaga hanya dengan satu instrumen kebijakan. Dibutuhkan harmonisasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan agar mampu menciptakan efek penguatan yang saling melengkapi. Dalam situasi saat ini, langkah pemerintah memperkuat koordinasi justru mengirimkan sinyal positif bahwapengambil kebijakan memiliki kesamaan pandangan dalam menjaga stabilitasekonomi nasional.Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa arusmasuk dana asing mulai terlihat di pasar domestik. Indikasi tersebut menjadi kabarbaik karena menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih memilikidaya tarik di mata investor...
- Advertisement -

Baca berita yang ini