Federer Mundur dari Olimpiade, Makin Banyak Petenis yang Absen

Baca Juga

MATA INDONESIA, BASEL – Bertambah lagi petenis top yang memutuskan mundur dari Olimpiade Tokyo. Kali ini giliran petenis Swiss, Roger Federer.

Federer memutuskan menarik diri dari Olimpiade yang digelar 23 Juli hingga 8 Agustus 2021 karena mengalami masalah pada lututnya.

Petenis 39 tahun itu sempat dua kali menjalani operasi lutut pada 2020 dan membuatnya absen hingga satu tahun. Dia merasakan masalah lagi pada lututnya usai tampil di grand slam Wimbledon pekan lalu.

Di grand slam tertua itu, laju Federer terhenti di babak perempatfinal usai dikalahkan petenis Hongaria, Hubert Hurkacz.

“Selama musim pertandingan lapangan rumput, sayangnya saya mengalami masalah dengan lutut dan harus menerima kenyataan menarik diri dari Olimpiade Tokyo,” kata Federer, dikutip dari AA, Rabu 14 Juli 2021.

“Saya sangat kecewa, karena setiap kali mewakili Swiss di Olimpiade adalah sebuah kebangaan dan menjadi peristiwa penting dalam karier saya,” ujarnya.

Mundurnya Federer dari Olimpiade Tokyo menambah panjang daftar petenis top yang absen di ajang empah tahunan itu. Sebelumnya sudah ada Rafael Nadal, Serena Williams, Stanislas Wawrinka, Dominic Thiem, Simona Halep, dan Nick Kyrgios.

Federer meraih medali perak di Olimpiade 2012 di London. Dia hanya satu kali meraih medali emas di nomor ganda putra bersama Stanisla Wawrinka di Olimpiade 2008 Beijing. Di Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, dia absen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Hilirisasi Pertanian sebagai Jalan Ganda: Kurangi Impor, Naikkan Ekspor

Oleh : Lailani FitriSektor pertanian selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional sekaligusfondasi ketahanan pangan Indonesia. Di tengah dinamika ekonomi global, perubahan iklim, sertatantangan rantai pasok internasional, penguatan sektor pertanian tidak lagi cukup hanyaberorientasi pada peningkatan produksi. Indonesia membutuhkan transformasi yang lebihmenyeluruh melalui hilirisasi pertanian agar setiap komoditas yang dihasilkan mampumemberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani, industri, dan negara. Hilirisasi pertanianmenjadi jalan ganda yang strategis karena tidak hanya mampu mengurangi ketergantunganterhadap impor, tetapi juga meningkatkan daya saing produk nasional di pasar ekspor.Selama bertahun-tahun, Indonesia masih menghadapi tantangan berupa tingginya ketergantunganterhadap sejumlah komoditas pangan tertentu. Kebutuhan terhadap kedelai, bawang putih, maupun beberapa komoditas strategis lainnya masih belum sepenuhnya dipenuhi dari produksidalam negeri. Kondisi tersebut menyebabkan Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global, gangguan distribusi internasional, serta perubahan kebijakan negara pemasok. Oleh karena itu, upaya memperkuat produksi nasional harus berjalan beriringan dengan pengembangan inovasidan hilirisasi agar komoditas dalam negeri memiliki produktivitas, kualitas, dan nilai ekonomiyang semakin tinggi.Langkah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang mengumpulkan civitas akademikaUniversitas Gadjah Mada untuk memperkuat kolaborasi inovasi dan hilirisasi pertanianmenunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem pertanian yang modern dan berkelanjutan. Pertemuan yang melibatkan rektor, dekan, guru besar, peneliti, hingga mahasiswaklaster agro tersebut mencerminkan kesadaran bahwa pembangunan pertanian memerlukanketerlibatan seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha menjadi faktor penting dalam menghadirkan solusi yang mampu menjawabtantangan sektor pertanian nasional.Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pertanian Andi...
- Advertisement -

Baca berita yang ini