Dirjen: Mobil Tua Bukan Penyumbang Terbesar Polusi Udara Jakarta

Baca Juga

MINEWS.ID, JAKARTA – Penyebab polusi udara di Jakarta bukan karena banyaknya mobil tua, tetapi mobil dan sepeda motor semua usia. Hal tersebut merupakan argumen Direktur Jenderal Perhubungan Darat pada Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi di Jakarta, Rabu 7 Agustus 2019.

Pernytaan itu menanggapi rencana kebijakan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan dalam membatasi usia kendaraan pribadi maksimal 10 tahun dalam Instruksi Gubernur Nomor 66 Tahun 2019.

“Dulu waktu pembahasan Undang Undang, sudah muncul masalah ini kan. Sekarang di Jakarta paling banyak penyumbang polusi di Jakarta apakah mobil-mobil tua atau banyaknya kendaraan ini, belum ada kajian spesifik kalau memang ada (kajiannya), kita buat kebijakannya,” kata Budi.

Menurut survei yang dia ketahui polusi di Jakarta disumbang dari banyaknya kendaraan yang beroperasi, baik roda empat maupun roda dua.

Bahkan berdasarkan data Dinas Perhubungan DKI Jakarta, proporsi kendaraan di Jabodetabek adalah 75 persen sepeda motor, 23 persen mobil pribadi dan dua persen angkutan umum.

Menurut Budi jika mobil usia tua dirawat dan dipelihara secara baik, maka kualitasnya tetap terpelihara dengan baik.

Untuk itu, dia mengatakan perlu adanya diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan, seperti Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan serta Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini