Beban Ekonomi Nakes Jadi Sebab Naikkan Angka Kesembuhan dari Covid19 Tak Optimal

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sulitnya para tenaga kesehatan (nakes) bekerja optimal meningkatkan angka kesembuhan akibat Covid19, diduga akibat beban ekonominya terlalu berat akibat sering harus menunggu turunnya insentif yang dijanjikan pemerintah.

Begitu pesan dari Ketua Junior Doctor Network (JDN) Indonesia, dr. Andi Khomeini Takdir yang diterima Mata Indonesia News, Senin 8 Maret 2021.

“Di grup2 nakes, makin banyak yang jualan. Mungkin upaya menyiasati insentif yang tak kunjung padam,” ujar Andi.

Hal tersebut menurut Andi tampaknya telah menjadi dilema yang harus dihadapi para nakes ketika dibebani tugas memperbesar angka kesembuhan akibat Covid19.

Pada saat yang sama mereka juga harus bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehingga bebannya berlipat ganda.

Sebelumnya Presiden Jokowi mengungkapkan besaran insentif para nakes mulai bidan hingga dokter yang mencapai puluhan juta rupiah satu orang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini