200 Lebih Motor Bersejatah Koleksi Museum Top Mountain Crosspoint Ludes Terbakar

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-200 lebih sepeda motor bersejarah hangus dilalap si jago merah, usai museum sepeda motor Top Mountain Crosspoint di Austria terbakar.

Melansir, Visordown, Selasa 19 Januari 2021, museum ini terletak di dasar jalan lintas gunung Timmelsjoch (di Passo Del Rombo) di Austria, dan merupakan museum yang tertinggi Eropa dengan ketinggian 2175m dari permukaan laut.

Museum ini menyimpan salah satu koleksi sepeda motor paling banyak dan berharga di Eropa, dan merupakan rumah bagi sekitar 230 sepeda motor klasik, termasuk model klasik dari Brough Superior, Vincent, Matchless, Sunbeam, Zündapp, dan lainnya, dengan total sekitar 100 pabrikan.

Meskipun ada reaksi cepat dari regu pemadam kebakaran setempat, dikhawatirkan sebagian besar sepeda motor telah rusak dalam kebakaran lantaran museum tersebut mengadakan semua sepeda motor di area pameran seluas 3.000 meter persegi.

Api diketahui berkobar sekitar pukul 04.00 waktu setempat, dan sungguh sangat disayangkan bagi museum yang begitu indah dengan isinya hilang dalam kebakaran. Hingga saat ini, belum dilaporkan apa yang menjadi penyebab kobaran api.

Pemilik museum Alban Scheiber dengan saudara kembarnya Attila, pernah menyatakan kecintaan mereka dalam sebuah artikel yang dirilis Telegraph.

“Saya dan kakak saya selalu menyukai motor tua. Ketika koleksi kami telah berkembang menjadi sekitar 20 atau 30, kami berpikir untuk membuat museum sendiri. Inilah cara kami mewujudkan mimpi ini,” ujar Alban.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Renovasi Hunian Layak untuk Papua, Strategi Pemerintah Percepat PemerataanPembangunan

Oleh : Loa Murib Renovasi hunian layak di Papua bukan sekadar program fisik pembangunan rumah, melainkanstrategi besar pemerintah dalam mempercepat pemerataan pembangunan dan meningkatkankualitas hidup masyarakat di Tanah Papua. Di tengah berbagai tantangan geografis, sosial, danekonomi, kebijakan perumahan yang terintegrasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadifondasi penting untuk memastikan bahwa kesejahteraan tidak hanya terpusat di wilayahperkotaan Indonesia bagian barat, tetapi juga menjangkau wilayah timur secara adil danberkelanjutan. Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Perumahandan Kawasan Permukiman yang digelar di Kantor Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan dukungannya terhadap realisasiprogram Tiga Juta Rumah yang menjadi inisiatif Presiden Prabowo Subianto. Program tersebutdinilai strategis karena menyasar kebutuhan dasar masyarakat, terutama kelompokberpenghasilan rendah, melalui penyediaan hunian terjangkau dan layak huni. Dorongan kepada pemerintah daerah untuk memaksimalkan peluang program tersebut menjadisinyal kuat bahwa pembangunan perumahan tidak dapat berjalan parsial. Tito Karnavianmemandang bahwa kepala daerah memiliki tanggung jawab langsung dalam mengangkat harkatdan martabat masyarakat melalui penyediaan hunian yang layak. Dukungan regulatif pun diperkuat dengan kebijakan pembebasan retribusi Persetujuan Bangunan Gedung serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, yang harusditetapkan melalui peraturan kepala daerah. Langkah ini menunjukkan bahwa percepatanpembangunan bukan hanya soal anggaran, tetapi juga penyederhanaan birokrasi dankeberpihakan kebijakan. Optimalisasi Mal Pelayanan Publik di daerah juga menjadi instrumen penting untuk memangkaswaktu dan biaya perizinan. Dengan proses yang lebih cepat dan transparan, pembangunan rumahbagi masyarakat berpenghasilan rendah dapat segera direalisasikan tanpa terhambat proseduradministratif yang berlarut-larut. Pendekatan kolaboratif antara pusat dan daerah inilah yang menjadi kunci agar program nasional benar-benar berdampak nyata di lapangan. Di Papua, respons terhadap kebijakan tersebut tampak progresif. Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, menyampaikan bahwa pemerintah provinsi siap menggenjot program bantuanperumahan melalui berbagai skema, mulai dari rumah subsidi, renovasi rumah tidak layak huni, hingga pembangunan rumah susun. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah daerahtidak sekadar menjadi pelaksana, tetapi juga mitra aktif dalam merancang solusi yang sesuaidengan karakteristik sosial budaya masyarakat Papua. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan kebutuhan perumahan di Papua masih cukuptinggi. Kondisi ini tidak terlepas dari realitas sosial di mana satu rumah kerap dihuni olehbeberapa generasi sekaligus. Dalam konteks budaya Papua yang menjunjung tinggi ikatankekerabatan, pola hunian multigenerasi menjadi hal lumrah. Namun di sisi lain, keterbatasanruang dan kualitas bangunan yang belum memadai dapat berdampak pada kesehatan, kenyamanan, serta produktivitas keluarga. Karena itu, target pembangunan dan renovasi rumah di Papua pada 2026 menjadi langkahstrategis. Direncanakan sekitar 14 ribu unit rumah akan dibangun melalui berbagai skemabantuan, dengan tahap awal mencakup sekitar 2.100...
- Advertisement -

Baca berita yang ini