Sejarah Bandung, dari Letusan Gunung Sunda hingga Parijs Van Java

Baca Juga

MATA INDONESIA, BANDUNG – Asal mula Kota Bandung muncul dari cerita rakyat di masa itu. Konon pada zaman dulu, di wilayah Jawa terdapat salah satu gunung yang berdiri dengan kokoh. Gunung tersebut bernama Gunung Sunda. Gunung ini meletus dengan sangat dahsyatnya dengan diiringi 13 letusan lainnya yang juga cukup besar.

Rangkaian letusan-letusan tersebut akhirnya mengakibatkan dinding Gunung Sunda yang berdiri kokoh dengan tinggi kurang lebih 3.500 hingga 4000 mdpl akhirnya runtuh.

Dari sinilah terbentuk kaldera besar yang diakibatkan letusan Gunung Sunda tersebut. Hingga akhirnya membentuk danau raksasa yang bernama Danau Bandung Purba dan di dalamnya muncul Gunung Tangkuban Perahu.

Selanjutnya Gunung Tangkuban Perahu meletus beberapa kali. Material letusan gunung tersebut memenuhi kawasan di sekitar Gunung Tangkuban Perahu termasuk pada aliran Sungai Citarum serta Patahan Lembang.

Dampak dengan adanya letusan Gunung Tangkuban Perahu membuat Danau Purba Bandung terbagi menjadi dua bagian, yakni Danau Bandung Purba Barat dan Danau Bandung Purba Timur.

Dengan seiring waktu serta adanya aktivitas gempa yang terjadi, tebing pada setiap Danau Bandung Purba terkikis menjadi gua.

Hal ini mengakibatkan air dari danau akhirnya keluar dari gua yang bernama Sanghyang Tikoro. Danau Bandung Purba yang mengering tersebut akhirnya terbentuk wilayah Bandung yang dikelilingi oleh pegunungan saat ini. Di sini lah sejarah Kota Bandung dimulai.

Sementara dari asal usul namanya, Bandung diambil kata bendung atau bendungan. Hal ini sesuai dengan terciptanya wilayah Bandung yang berasal dari material lava letusan gunung berapi yang membendung aliran sungai Citarum.

Sedangkan dari filosofi Sunda, nama Bandung disadur dari kalimat yang cukup sakral serta luhur yakni Nga-Bandung-an Banda Indung. Kalimat tersebut memiliki arti bahwa tempat segala makhluk hidup serta benda mati yang ada di tanah ibu pertiwi disaksikan oleh yang Maha Kuasa.

Pada perkembangannya Kota Bandung sempat menjadi satu kesatuan dengan Kabupaten Bandung. Waktu itu, ibukotanya masih terpusat di Karapyak (kini Dayeuhkolot). Wilayah ini di masa penjajahan Belanda turut menjadi pusat perdagangan bagi VOC.

Namun pada tahun 1799, VOC mengalami kebangkrutan. Dengan berakhirnya kekuasaan VOC, maka pemerintahan Hindia Belanda melakukan perombakan terhadap struktur pemerintahan.

Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels lantas mengeluarkan surat keputusan pada tanggal 25 September 1810 untuk memindahkan ibu kota Bandung. Di kemudian hari, tanggal ini ditetapkan sebagai hari lahirnya Kota Bandung.

Daendels lantas memerintahkan Bupati Bandung yakni R.A Wiranatakusumah II untuk memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung ke tepi sungai Cikapundung (kini Jalan Asia Afrika). Lokasi ini dipatok sebagai titik kilometer 0 Bandung.

Alasan Daendels memindahkan ibu kota Bandung karena wilayah tersebut sangat indah dan memiliki udara yang sejuk karena diapit pegunungan. Bahkan ada adagium yang beredar bahwa ‘Kota Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum’.

Hal ini pun diungkapkan seorang penulis dalam Almanak Voor Bandoeng (1920) yang dikisahkan Kunto, Bandung adalah kota yang “layak disebut sebagai tempat permukiman yang cantik dan paling sehat di Nusantara. Letak ketinggian kota lebih kurang 730 meter di atas permukaan laut, menyebabkan kotanya memiliki iklim udara yang segar nyaman”.

Daerah pegunungan Bandung pun secara topografi dinilai sangat strategis sebagai benteng alam yang kokoh untuk menangkal ancaman militer. Hal ini didasari juga oleh pengalaman pahit Belanda yang mengalami kekalahan telak dari pasukan Inggris yang dipimpin Lord Minto saat menyerang Batavia di permulaan abad ke-19.

Oleh sebab itu, pertahanan hanya fokus di barat dan timur sehingga konsentrasi pertahanan bisa dilakukan. Di Cimahi didirikan pusat militer dan di barat, di Sumedang, berdiri benteng-benteng pertahanan.

Tak hanya itu, Kota Bandung juga dijuluki Parijs Van Java. Pada buku Otobiografi Entin Supriatin, berjudul Deritapun Dapat Ditaklukan, disebutkan bahwa istilah Parijs van Java muncul karena pada waktu itu di Jalan Braga, terdapat banyak toko yang menjual barang-barang produksi Paris, terutama toko pakaian. Toko yang terkenal diantaranya adalah toko mode dan pakaian, Modemagazinj ‘au bon Marche’ yang menjual gaun wanita mode Paris.

Selanjutnya untuk mempermudah mobilitas, pemerintah Belanda juga mendirikan Stasiun Kereta Api Bandung yang dianggap sebagai gerbang utama menuju Kota Bandung. Stasiun ini berlokasi di JL. Kebon Kawung dimana telah berdiri sejak 17 Mei 1884 yang bersamaan dengan diresmikannya jalur kereta Batavia-Bandung.

Selanjutnya, pada tahun 1894 jalur kereta Bandung-Surabaya diresmikan oleh Belanda. Dari tahun ke tahun stasiun kereta api Bandung mengalami perubahan dan perbaikan secara menyeluruh.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Wujudkan Women Support Women, Bupati Sleman Launching Aksi Putaran Sumringah

SLEMAN – Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo meresmikan Aksi Perubahan Pusat Pembelajaran Perempuan Semua Merasa Riang Menggapai Harapan (Putaran...
- Advertisement -

Baca berita yang ini