Mengungkap Makna ‘Gerpolek’, Buku Legendaris Karya Tan Malaka

Baca Juga

MATAINDONESIA, JAKARTA – Tan Malaka. Mendengar namanya akan menimbulkan banyak pendapat. Ada yang menganggapnya sebagai pahlawan, pemberontak, komunis, tokoh kiri, guru bangsa, bapak republik, sosok perlawanan, dan macam-macam lagi.

Tepat 70 tahun lalu, 21 Februari 1949, Tan Malaka dieksekusi tanpa proses pengadilan. Namun, ia telah menelurkan banyak karya, di antaranya dua buku paling legendaris yang sampai saat ini masih dibaca dan dijadikan acuan gerakan-gerakan kiri di Indonesia.

Dua karya legendaris itu adalah Madilog dan Gerpolek. Namun, yang kita akan soroti kali ini adalah buku Gerpolek yang ditulis Tan Malaka tahun 1948 saat ia mendekam di penjara Madiun.

Apa sebenarnya makna Gerilya, Politik Ekonomi (Gerpolek) yang dimaksud Tan Malaka saat itu? Kenapa buku itu masih mengaum hingga saat ini?

Mengutip secara langsung dari buku karya Tan Malaka, berikut adalah makna sebenarnya Gerpolek yang dimaksud Sang Bapak Republik.

Apa Gunanya Gerpolek?

Gerpolek adalah perpaduan tiga kata, Gerilya, Politik dan Ekonomi.

Gerpolek adalah senjata ‘Sang Gerilya’ untuk membela Proklamasi 17 Agustus dan melaksanakan kemerdekaan 100 persen.

Namun, setelah 3 tahun proklamasi, Tan Malaka menyebut semangat kemerdekaan telah merosot hingga ke bawah 10 persen. Hal ini dijelaskannya dalam pembuka buku, bahwa Indonesia pasca proklamasi mengalami dua periode.

Periode pertama disebutnya sebagai periode Jaya Berjuang, sedangkan periode kedua adalah Runtuh Berdiplomasi/Berunding. Semangat kemerdekaan yang merosot itulah yang dimaksud Tan Malaka dengan Runtuh Berdiplomasi/Berunding.

Siapakah Sang Gerilya Itu?

Sang Gerilya yang dimaksud Tan Malaka adalah putera-putri atau pemuda-pemudi atau murba-murbi Indonesia yang taat serta setia kepada proklamasi dan kemerdekaan 100 persen.

Tan Malaka menyebut Sang Gerilya adalah sosok yang tidak menghiraukan lamanya waktu atau tempo untuk berjuang, meskipun harus seumur hidupnya.

Sang Gerilya haruslah tabah dan berani, serta memiliki tekad, bergembira serta sadar akan kewajibannya. Sang Gerilya tidak berkecil hati hanya karena bersenjatakan peralatan sederhana melawan musuh bersenjata lengkap.

Sang Gerilya adalah yang mengemudikan taktik Gerpolek. Dengan menggunakan Gerpolek, Sang Gerilya harus merasa hidup bahagia, bertempur terus-meneru dengan hati yang tak dapat dipatahkan oleh musim, musuh, ataupun maut.

Tan mengibaratkan seperti Sang Anoman yang percaya bahwa kodrat dan akalnya akan sanggup membinasakan Dasamuka, demikianlah juga Sang Gerilya yang harus percara bahwa Gerpolek akan sanggup meraih kemenangan terakhir atas kapitalisme dan imperialisme.

Buku Gerpolek ini bahkan mendapat sanjungan dari Jenderal Besar Sudirman. Sang Jenderal menyebut buku tersebut adalah ‘strategi militer’, sedang makna Gerpolek menurutnya adalah sebuah senjata untuk membela Proklamasi 17 Agustus dan melaksanakan kemerdekaan 100 persen. (Ryan)

Berita Terbaru

Taklimat Presiden Tegaskan Diplomasi Energi, Pemerintah Jaga Kedaulatan Pangan dan Stabilitas Harga BBM

Oleh: Arya Satrya WibisonoDi tengah dinamika global yang semakin tidak menentu, pemerintah terus mempertegas arahkebijakan nasional untuk memastikan ketahanan energi dan pangan tetap terjaga. Salah satu buktikonkret dari ketahanan tersebut tercermin pada kebijakan pemerintah yang tetap menjagastabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah gejolak ekonomi global dan fluktuasi hargaenergi dunia. Langkah ini tidak hanya menunjukkan kapasitas negara dalam mengelola sektorenergi secara efektif, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam melindungi daya belimasyarakat serta menjaga stabilitas sektor pangan yang sangat bergantung pada distribusi danbiaya logistik. Dalam konteks ini, kebijakan pengendalian harga BBM menjadi bagian integral dari strategi besar pemerintah untuk meredam dampak krisis global sekaligus memperkuatfondasi kemandirian nasional.Dalam arahannya, Presiden menggarisbawahi bahwa pangan, energi, dan air merupakan tigapilar utama yang menentukan keselamatan suatu bangsa. Pandangan ini, sebagaimanadisampaikannya, telah lama diyakini dan diperjuangkan, bahkan sejalan dengan proyeksi global yang disusun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam kerangka Sustainable Development Goals. Dengan demikian, langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan di ketiga sektor tersebuttidak hanya berbasis pada kebutuhan domestik, tetapi juga merujuk pada agenda pembangunanglobal yang telah mengantisipasi potensi krisis multidimensi.Taklimat yang disampaikan langsung kepada para menteri, wakil menteri, hingga pejabat eselonI menjadi momentum penting dalam menyatukan persepsi seluruh elemen pemerintahan. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap kebijakan yang dijalankan memiliki arah yang selaras, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Di sektor energi, pemerintah menunjukkan langkah konkret melalui penguatan diplomasi dengannegara-negara sahabat. Presiden mengindikasikan bahwa kunjungan luar negeri yang dilakukannya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi untukmengamankan pasokan energi nasional, khususnya minyak. Dalam situasi geopolitik yang penuhketidakpastian, pendekatan diplomasi aktif dinilai menjadi instrumen penting untuk menjagastabilitas energi dalam negeri.Diplomasi energi ini mencerminkan kesadaran pemerintah bahwa ketahanan energi tidak dapatsepenuhnya bergantung pada sumber daya domestik. Dibutuhkan jejaring kerja samainternasional yang kuat untuk memastikan keberlanjutan pasokan, sekaligus membuka peluanginvestasi dan transfer teknologi di sektor energi. Kunjungan ke berbagai negara, termasuk di kawasan Asia Timur, menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam peta energiglobal.Di tengah gejolak harga energi dunia yang fluktuatif, pemerintah juga dinilai berhasil menjagastabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Kebijakan ini mencerminkankeberpihakan pada daya beli masyarakat sekaligus menunjukkan kapasitas negara dalammeredam dampak langsung dari tekanan eksternal. Stabilitas harga BBM menjadi indikatorpenting bahwa strategi pengelolaan energi nasional berjalan efektif di tengah tekanan global yang tidak ringan.Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kombinasi kebijakan fiskal, penguatan subsidi yang tepat sasaran, serta hasil dari diplomasi energi yang memastikan pasokan tetap aman. Pemerintahsecara tidak langsung menunjukkan bahwa kendali terhadap sektor energi mampu dijaga denganbaik, sehingga gejolak global tidak serta-merta diteruskan ke masyarakat. Namun demikian, pemerintah tidak mengabaikan penguatan kapasitas dalam negeri. Upayamenuju swasembada energi terus didorong melalui berbagai program strategis, termasukoptimalisasi sumber daya alam dan pengembangan energi terbarukan. Langkah ini menunjukkanbahwa diplomasi internasional berjalan beriringan dengan penguatan fondasi domestik, sehinggaIndonesia memiliki ketahanan yang lebih kokoh dalam jangka panjang.Di sektor pangan, pemerintah juga menempatkan swasembada sebagai prioritas utama. Presidenmengisyaratkan bahwa upaya ini telah lama menjadi bagian dari gagasan besar yang kinidiwujudkan melalui program-program konkret. Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan denganketersediaan produksi, tetapi juga distribusi, aksesibilitas, serta stabilitas harga yang harus dijagasecara berkelanjutan.Sementara itu, sektor air sebagai salah satu pilar penting dinilai memiliki potensi besar di Indonesia. Pemerintah melihat bahwa secara umum ketersediaan air masih relatif mencukupi, meskipun terdapat tantangan di beberapa wilayah, khususnya di Indonesia timur. Permasalahanutama lebih banyak terletak pada aspek pengelolaan dan kerusakan lingkungan, sepertideforestasi yang berdampak pada berkurangnya daya serap air.Dalam perspektif ini, pemerintah menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungansebagai bagian integral dari strategi ketahanan nasional. Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan menjadi kunci untuk memastikan bahwa potensi yang dimiliki Indonesia dapatdimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan generasi mendatang. Dengan pendekatan yang tepat, tantangan terkait ketersediaan air diyakini dapat diatasi.Lebih jauh, taklimat Presiden juga menjadi ruang untuk menyampaikan optimisme terhadapmasa depan Indonesia. Pemerintah meyakini bahwa di tengah berbagai krisis global, Indonesia justru memiliki peluang untuk tampil sebagai negara yang relatif stabil dan tangguh. Keyakinanini didasarkan pada kekayaan sumber daya alam, posisi geopolitik yang strategis, serta kebijakanyang diarahkan pada penguatan kemandirian nasional.Pendekatan yang mengombinasikan penguatan domestik dan diplomasi internasionalmenunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya bersikap reaktif terhadap krisis, tetapi juga proaktifdalam membangun ketahanan jangka panjang. Diplomasi dengan negara sahabat menjadijembatan untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global, sekaligus memastikan kebutuhannasional tetap terpenuhi.*) Analis Diplomasi Energi dan Pembangunan Berkelanjutan
- Advertisement -

Baca berita yang ini