Mengenang Kobe Bryant, Kariernya Pernah Nyaris Tamat karena Skandal Seks

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA - Tahun 2003, menjadi tahun yang sulit untuk karir bintang NBA Kobe Bryant. Pemain yang dijuluki The Black Mamba ini, dituduh melakukan pemerkosaan terhadap pegawai hotel berusia 19 tahun bernama Katelyn Faber.

Kasus ini berawal saat Bryant menginap di hotel The Lodge and Spa di Colorado Amerika Serikat. Faber yang menjadi pelayan saat itu, masuk ke kamar Kobe Bryant untuk memeriksa temperatur air, konon saat itulah skandal tersebut berawal, Fiber mengaku dipaksa oleh Bryant untuk berhubungan seks, tangan bintang NBA tersebut terus meraba leher Faber sambil melontarkan rayuan, sampai membuka seluruh pakaian yang dikenakan pelayan hotel tersebut.

Dari hasil visum, terdapat luka di alat vital Fiber akibat berhubungan seks berkali-kali dan ditemukan pula bercak darah di baju Bryant. Kepolisian akhirnya menahan bintang LA Lakers tersebut, namun tidak lama dilepas kembali dengan uang jaminan 25 ribu dolar AS.

Kobe Braynt membantah semua tuduhan tersebut, ia mengaku memang berselingkuh dengan Faber, dan sempat berhubungan badan, namun atas dasar suka sama suka.

Kasus ini berakhir setelah Faber menolak untuk bersaksi di persidangan, dan keduanya sepakat untuk berdamai. Namun Braynt diharuskan ganti rugi kepada Faber dengan sejumlah uang yang tidak disebutkan nominalnya.

Akibat kasus ini citra Kobe Bryant sebagai pebasket panutan nyaris hancur, sejumlah sponsor mendepaknya sebagai model dari produk mereka, hanya Nike yang masih bertahan. Rumah tangganya dengan sang istri Vanessa yang ia nikahi tahun 2001 juga nyaris bubar.

Beruntungnya Vanessa masih memaafkan dan masih percaya dengan sang suami, bahkan menyebut Kobe Bryant sebagai ayah dan suami yang hangat dan baik. Untuk menebus kesalahannya, Braynt membelikan sang istri cincin seharga 4 juta dolar AS.

Namun sang legenda NBA dan klub LA Lakers ini telah pergi untuk selama-lamanya akibat kecelakaan helikopter pada hari Minggu di Calabasas, Los Angeles, California, Amerika Serikat pada Minggu 26 Januari 2020. Kobe Bryant dan sang putri Gianna Bryant meninggal dunia akibat peristiwa tersebut. Reace In Peace Legend! (Andhika Devis/R)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini