Pantauan Pasar Kulon Progo: Cabai Tembus Rp89 Ribu, Daging Ayam Mulai Naik

Baca Juga

Mata Indonesia, Kulon Progo – Kurang dari satu bulan menjelang bulan suci Ramadan 1447 H, dinamika harga bahan pokok di Kabupaten Kulon Progo mulai menunjukkan tren peningkatan.

Meski ketersediaan stok pangan secara umum dinyatakan aman, sejumlah komoditas seperti cabai rawit merah dan daging ayam mulai mengalami fluktuasi harga yang signifikan.

Berdasarkan pantauan tim di beberapa pasar rakyat seperti Pasar Wates dan Pasar Bendungan, harga cabai rawit merah kini bertahan di angka Rp88.000 hingga Rp89.000 per kilogram.

Sementara itu, harga daging ayam ras juga merangkak naik menyentuh Rp40.000 per kilogram, dipicu oleh tingginya permintaan masyarakat untuk kegiatan tradisi nyadran dan persiapan menyambut Ramadan.

Stok Pangan Aman, Warga Diminta Tidak “Panic Buying”

Kepala Bidang Usaha Perdagangan Dinas Perdagangan (Disdag) Kulon Progo, Endang Zulywanti, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa khawatir berlebihan terkait ketersediaan bahan pokok.

Pihaknya memastikan bahwa jalur distribusi dan stok di gudang-gudang penyangga masih mencukupi untuk kebutuhan warga selama Ramadan hingga Idulfitri mendatang.

“Masyarakat tidak perlu khawatir, belanja sesuai kebutuhan saja. Stok pangan di Kulon Progo saat ini terpantau aman. Kami terus melakukan pemantauan rutin untuk memastikan harga dan pasokan tetap terjaga di pasar-pasar tradisional,” ujar Endang Zulywanti dalam keterangannya saat melakukan pengecekan lapangan baru-baru ini.

Endang menambahkan bahwa fenomena kenaikan harga di pertengahan Februari ini merupakan hal yang lazim terjadi akibat kenaikan permintaan musiman. Namun, ia mewanti-wanti agar tidak ada praktik penimbunan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Langkah Antisipasi: Operasi Pasar dan Kerjasama Antardaerah

Menyikapi potensi lonjakan harga yang lebih tinggi di awal Maret, Disdag Kulon Progo telah menyiapkan skema Operasi Pasar (OP) dan Pasar Murah.

Beberapa komoditas yang akan menjadi sasaran subsidi antara lain beras, minyak goreng, dan gula pasir.Berdasarkan data Sistem Informasi Harga Kepokmas Kulon Progo (SikepoKu) per 11 Februari 2026, harga beras medium saat ini masih stabil di kisaran Rp13.000 – Rp14.000 per kg.

Namun, sebagai langkah preventif, Pemkab Kulon Progo juga tengah menjajaki kerja sama pemenuhan pasokan dengan daerah tetangga seperti Kota Yogyakarta dan Sleman untuk menjamin kelancaran distribusi jika terjadi defisit di titik tertentu.

Pemerintah pusat melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebelumnya juga telah melakukan inspeksi ke Gudang Bulog Triharjo, Wates, dan menyatakan bahwa cadangan beras pemerintah (CBP) dalam kondisi melimpah.

Hal ini diharapkan mampu menjadi “bantalan” jika harga beras di pasar mengalami gejolak selama bulan puasa.Warga diharapkan tetap bijak dalam mengelola stok pangan rumah tangga dan selalu memantau informasi harga resmi melalui aplikasi SikepoKu milik Pemkab Kulon Progo agar terhindar dari informasi spekulatif yang memicu keresahan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini