Makam Fatimah Az Zahra Hingga Sekarang Tak ada yang Tahu

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tak ada yang paling disayangi Nabi Muhammad SAW selain anaknya Fatimah az Zahra.

Fatimah binti Muhammad adalah putri bungsu Rasulullah dari istri pertamanya, Khadijah. Lahir di Mekah, Arab Saudi, lima tahun sebelum Nabi SAW menerima wahyu pertama sebagai penanda kerasulan.

Sebagai puteri kesayangan Nabi SAW, Fatimah begitu mencintai ayahnya. Sejak kecil, Fatimah berani menghardik dan mengusir orang-orang Quraisy yang mengotori punggung Nabi SAW dengan kotoran unta ketika ia sedang bersujud di depan Kabah. Para lelaki itu pun bergegas pergi lantaran malu karena mendapat bentakan dari seorang anak kecil. Fatimah membersihkan punggung ayahnya dari kotoran unta sembari menangis.

Setelah beranjak dewasa, Fatimah yang kecantikannya menurun dari kedua orang tuanya menikah dengan sepupu Nabi SAW yaitu Ali bin Abi Thalib.

Pernikahan keduanya berlangsung tidak lama setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke Madinah pada 622 Masehi.

Dari hasil pernikahan Fatimah dan Ali mendapat dua anak kembar Hassan dan Husain, serta dua orang putri bernama Zainab dan Ummu Kultsum.

Saat Nabi Muhammad SAW wafat pada 8 Juni 632 Masehi, Fatimah merasa berduka. Enam bulan setelah Rasulullah meninggal, Fatimah jatuh sakit, boleh jadi karena kesedihan dan berbagai kejadian yang menimpanya sepeninggal sang ayah.

Salah satu gambaran mengenai duka Fatimah ini diceritakan Muzaffer Ozak dalam buku Irshad: Wisdom of a Sufi Master (1988). “Setelah Tuan kita [Rasulullah] menghormati dunia-akhirat,” tulis Ozak, “Fatimah tidak mau makan atau minum dan ia melupakan semua tawa dan kegembiraan. Ia memiliki rumah yang dibangun untuknya di mana ia tinggal siang dan malam, menangis untuk ayahnya yang tercinta.”

Dalam satu riwayat, pagi 3 Ramadan tahun 11 Hijriah, Fatimah mandi dan mengenakan pakaian baru. Ia kemudian berbaring di tempat tidur. Kepada Ali, Fatimah hanya mengatakan bahwa saat-saat kematiannya sudah dekat. Ali pun menangis, namun Fatimah menghibur suaminya agar jangan bersedih dan menjaga anak-anak mereka. Fatimah juga berpesan, setelah meninggal nanti, ia tidak ingin ada upacara pemakaman. Lantaran waktu salat tiba, Ali berangkat ke masjid. Saat Ali tidak ada itulah Fatimah menghembuskan nafas terakhir.

Kedua putra mereka, Hassan dan Husein, bergegas menyusul Ali ke masjid untuk mengabarkan berita duka itu. Mendengar istrinya tiada, Ali tak sadarkan diri. Setelah siuman, Ali menuruti pesan terakhir istrinya. Ia kemudian menguburkan Fatimah tanpa sepengetahuan sahabat-sahabat Nabi SAW. Tidak ada warga Madinah yang tahu selain Ali dan keluarga terdekat.

Ali juga membuat tiga kuburan palsu supaya tidak ada orang yang tahu makam istrinya. .

Tak banyak riwayat yang menceritakan kepergian Fatimah dari dunia. Karena tidak pastinya hal tersebut, ada beberapa karangan cerita seperti yang pernah viral beberapa waktu saat Buya Syakur menceritakan Fatimah meninggal dunia karena terjepit pintu.

Fatimah meninggal dunia pada saat 3 Ramadhan tahun 11 Hijriyah. Ia meninggal dalam usia 28 tahun.

Reporter: Dinda Nurshinta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini