Kisah Topeng Guy Fawkes yang Jadi Ikon Perlawanan Dunia

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pernah nonton film V for Vendetta? Pastinya kamu udah tidak asing lagi ya dengan topengnya Guy Fawkes yang menjadi ikon perlawanan dalam banyak demonstrasi. Tapi, tahukah kamu bahwa sebenarnya Guy Fawkes dan topengnya berasal dari kisah yang berbeda.

Guy Fawkes atau Guido Fawkes, merupakan seorang tentara asal Inggris dan merupakan anggota kelompok Gereja Katolik Inggris. Dia menjadi terkenal setelah partisipasinya dalam Plot Bubuk Mesiu pada 1605 yang berniat meledakkan Istana Westminster saat sidang pembukaan parlemen. Ketika itu, Raja James I dan perdana menterinya sedang berada di dalam. Namun, plot tersebut gagal dan dia ia masuk penjara untuk diproses hukuman mati.

Guy Fawkes
Guy Fawkes

Keberhasilan mengantisipasi Plot Bubuk Mesiu ternyata menjadi perayaan secara besar-besaran di seluruh kerajaan Inggris. Setiap 5 November, masyarakat Inggris melakukan tradisi menyalakan api di tungku kayu raksasa dan membakar boneka Guy Fawkes sebagai simbol superioritas monarki Inggris terhadap elemen-elemen radikal yang mencoba menjatuhkannya.

Fawkes yang lahir pada 13 April 1570 di York, Britania Raya, merupakan anak kedua dari pengacara bernama Edward Fawkes dan Edith. Ayahnya meninggal ketika Fawkes berusia delapan tahun. Setelah itu, ibunya menikah lagi dengan pria bernama Dionis Baynbrigge (atau Bainbridge).

Setelah lulus sekolah, Guy Fawkes mengabdi kepada Viscount Pertama Montagu, Anthony Browne. Namun, Browne ternyata tidak menyukainya dan langsung memecat Fawkes. Kemudian, Fawkes bekerja kembali di Montagu di bawah Viscount Kedua, yaitu Anthony-Mari Browne yang berkuasa pada usia 18 tahun.

Pada Oktober 1591, layaknya anak-anak muda Katolik seumuran kala itu, Fawkes merasa terpanggil untuk terlibat dalam menumpas pemberontakan kaum Protestan di Belanda. Fawkes pun menjual tanah warisan ayahnya di Clifton, dan pergi untuk berpartisipasi di bawah panji Spanyol dalam Perang 80 Tahun atau Perang Kemerdekaan Belanda, setidaknya sampai 1603.

Karena kekalahan di Deventer atas Spanyol, Fawkes kemudian beralih kesetiaan bagi Negeri “Matador”. Ia mengemban pangkat alferez atau perwira junior. Pengalamannya dalam pengepungan Calais pada 1596 menjadikannya sebagai ahli peledak, dan tujuh tahun kemudian, Fawkes diangkat sebagai Kapten.

Dari situ juga semakin tumbuhlah kebencian Fawkes terhadap monarki Inggris yang ternyata membantu pemberontakan kaum Protestan di Belanda.

Pada masa itu, Inggris mengalami perpecahan agama. Gereja Inggris yang beraliran anglikan mendapat tantangan dari kelompok Katolik Inggris yang mendapat dukungan dari Putri Mary I. Namn pertentangan itu tak berlangsung lama. Kelompok Protestan naik lagi ketika Elizabeth I bertakhta.

Dengan memakai nama alias Guido Fawkes, ia meminta Raja Spanyol Philip III untuk menolong kaum Katolik yang makin tertindas di Inggris. Tak mendapat jawaban yang positif dari Spanyol, Fawkes pun memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya dan menemukan bahwa namanya telah dikenal oleh sebuah komplotan Katolik radikal.

Komplotan tersebut dipimpin oleh Robert Catesby, seorang bangsawan Katolik kharismatik dengan kegelisahan yang sama dengan Fawkes. Catesby menyiapkan plot untuk membunuh Raja Inggris James I dan menaikkan Putri Elizabeth sebagai pemimpin boneka yang akan mengembalikan tahta Katolik dalam monarki Inggris.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Catesby, ketiga rekan Fawkes, Thomas Wintour, Ambrose Rookwood, dan Robert Keyes, dan 9 konspirator lain berniat untuk meledakkan gedung parlemen di London pada 5 November 1605, ketika James I dan pejabat-pejabat pemerintahannya menghadiri seremoni pembukaan sidang parlemen Inggris.

Kunci keberhasilan rencana tersebut, yang kemudian dikenal dengan nama Plot Bubuk Mesiu (Gunpowder Plot), terletak pada Fawkes. Ia ditugaskan untuk menyulut api yang akan meledakkan 36 tong bubuk mesiu di sebuah ruangan tepat di bawah gedung parlemen. Fawkes pun menyamar sebagai penjaga bernama John Johnson.

Namun, sebelum rencana itu terlaksana. Pada 26 Oktober 1605, sebuah surat misterius dikirim kepada Lord Monteagie. Dalam surat tersebut, anggota parlemen Katolik itu diminta untuk tidak datang ke sidang pembukaan karena Westminster bakal diledakkan.

Meski sudah diperingatkan akan keberadaan surat itu oleh pelayan Monteagie, para pelaku plot tetap melaksanakan aksinya. Monteagie yang curiga kemudian menunjukkan surat itu kepada Raja James I yang segera memerintahkan Sir Thomas Knyvet untuk melakukan pencarian.

Knyvet menemukan Fawkes yang tengah berjaga beserta tong mesiu yang disembunyikan di bawah gedung pada 5 November 1605 dini hari.

Fawkes pun tertangkap. Mau tak mau, ia harus menghadapi siksaan dari Raja James I di keesokan harinya. Hal itu dilakukan supaya Fawkes mau membeberkan nama-nama orang yang sudah merencanakan plot pembunuhan tersebut.

Setelah dua hari menjalani penyiksaan, akhirnya Fawkes mengaku dan memberikan nama-nama pelaku plot pada 8 November 1605. Dia menjalani persidangan pada 27 Januari 1606, dan dijatuhi hukuman mati dengan tiang gantungan. Eksekusinya dilaksanakan pada 31 Januari 1606.

Akan tetapi, tepat setelah Fawkes memberi nama-nama pelaku plot, ketiga rekannya langsung ditangkap dan dieksekusi lebih dulu ketimbang dirinya. Fawkes adalah orang terakhir yang berdiri di tiang gantungan. Sebelum dieksekusi, Fawkes meminta pengampunan dari raja dan negara. Meski begitu, Fawkes tetap dijatuhi hukuman mati.

Dari sisa tenaga yang ada, Fawkes memilih mematahkan sendiri lehernya tanpa bantuan algojo. Tubuhnya kemudian dipotong-potong serta dikirim ke empat penjuru kerajaan sebagai peringatan bagi siapa pun yang mencoba berkhianat. Meski akhirnya mati, setidaknya Fawkes mati karena memilih untuk mati, bukan dieksekusi. Sebuah sikap yang dianggap kesatria. Sejak saat itu juga, Guy Fawkes kemudian dianggap sebagai simbol perlawanan di dunia modern.

Nah, mengenai topeng Guy Fawkes dan kisah hidupnya memang tidak terkait langsung, melainkan dari tampilan sampul novel “V for Vendetta” karya Alan Moore yang menjadi jembatannya. Di novel yang menggambarkan situasi politik Inggris tahun 1980-1990an itu, diceritakan seorang revolusioner yang menamakan dirinya ‘V’.

V yang bekerja untuk menghancurkan pemerintahan totaliter Inggris, selalu memakai topeng. Topeng itu adalah penggambaran Guy Fawkes, yang kurang lebih memiliki misi hidup yang sama dengan V.

Sejak novel itu muncul, terlebih setelah difilmkan, topeng Guy Fawkes menjadi simbol perlawanan global bagi para aktivis untuk menentang ketidakadilan. Tak terkecuali dalam dunia maya, seperti yang dipakai Anonymous, sebutan kelompok aktivis atau ‘hacktivist’.

Serangan peretas Indonesia kepada situs-situs pemerintahan Australia juga memakai simbol topeng Guy Fawkes. Terlebih serangan itu pada November, bulan di mana rencana serangan Guy Fawkes ke parlemen Inggris berlangsung, meski akhirnya gagal.

Reporter: Indah Utami

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Kepuasan Publik Jadi Indikator Apresiasi terhadap Pemerintahan Prabowo Gibran

Oleh: Fajar PradiptaKepuasan publik seharusnya tidak hanya dibaca sebagai angka statistik semata, tetapi sebagaicerminan nyata hubungan antara pemerintah dan rakyat yang perlu terus dijaga, bahkanditingkatkan. Dalam konteks pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, tingginya tingkat kepuasan masyarakat dapat dilihat sebagai bentuk apresiasi sekaligusharapan agar kinerja yang telah berjalan selama sekitar satu setengah tahun ini tetap konsistendan adaptif terhadap tantangan zaman. Dengan capaian kepercayaan publik yang menyentuhangka 75,1 persen, publik seolah memberikan sinyal bahwa arah kebijakan pemerintah saatini berada di jalur yang cukup tepat, meskipun tetap membutuhkan evaluasi berkelanjutan.Hasil survei nasional yang dirilis oleh Poltracking Indonesia menunjukkan bahwa tingkatkepuasan terhadap kinerja pemerintahan secara keseluruhan mencapai 74,1 persen. Sementara itu, secara personal, performa Prabowo Subianto sebagai presiden memperolehtingkat kepuasan sebesar 74,9 persen. Angka ini tidak berdiri sendiri, melainkanmerefleksikan persepsi publik terhadap berbagai program prioritas yang telah dijalankanselama setahun terakhir, termasuk upaya menjaga stabilitas ekonomi, penguatan sektorpangan, serta konsistensi dalam menjaga posisi Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks.Salah satu program yang paling banyak mendapat sorotan sekaligus apresiasi adalahkebijakan Makan Bergizi Gratis yang dinilai mampu menyentuh langsung kebutuhanmasyarakat. Program ini tidak hanya berfungsi sebagai intervensi sosial, tetapi juga menjadisimbol kehadiran negara dalam menjawab persoalan mendasar seperti gizi dan kesejahteraan. Sebanyak 23 persen responden dalam survei menyebut program ini sebagai kebijakan paling bermanfaat, sebuah angka yang menunjukkan bahwa kebijakan berbasis kebutuhan dasarmasih menjadi prioritas utama di mata publik. Keberhasilan ini juga melengkapi capaian lain pemerintah, seperti pengendalian inflasi pangan dan peningkatan akses bantuan sosial yang lebih merata.Peneliti utama Poltracking Indonesia, Masduri Amrawi, mengungkapkan bahwa tingginyakepuasan publik tidak terlepas dari kontribusi program tersebut yang dinilai memberikandampak nyata. Ia melihat bahwa kebijakan yang bersifat langsung dan dirasakan masyarakatcenderung memiliki daya dorong lebih kuat terhadap persepsi positif publik. Hal ini menjadipelajaran penting bagi pemerintah bahwa efektivitas program tidak hanya diukur dari skala, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakatluas.Lebih jauh, Masduri Amrawi juga menilai bahwa stabilitas tingkat kepuasan publik di tengahkondisi global yang penuh ketidakpastian merupakan capaian tersendiri. Dalam situasigeopolitik yang memanas dan tekanan ekonomi global yang fluktuatif, pemerintah dinilaimampu menjaga kepercayaan masyarakat melalui kebijakan yang relatif responsif danadaptif. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan pemerintah tidak hanya diukur dari program unggulan semata, tetapi juga dari kemampuannya menjaga stabilitas dan rasa aman di tengahmasyarakat.Di sisi lain, survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia juga memberikangambaran penting terkait persepsi publik terhadap sistem demokrasi di Indonesia. Sebanyak73,9 persen responden menilai bahwa sistem politik nasional masih berjalan dalam koridordemokrasi. Angka ini menjadi indikator bahwa legitimasi demokrasi tetap terjaga, meskipunberbagai kritik dan dinamika politik terus berkembang di ruang publik.Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, Djayadi Hanan, menilai bahwa kekuatandemokrasi Indonesia masih bertumpu pada mekanisme pemilu yang berjalan serta kebebasanmasyarakat dalam menyampaikan pendapat. Hal ini menjadi fondasi penting dalam menjagastabilitas politik nasional, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintah. Dalam konteks satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, keberhasilan menjaga stabilitaspolitik ini menjadi salah satu faktor yang mendukung tingginya tingkat kepuasan masyarakat.Peneliti Poltracking lainnya, Yoki Alvetro, menjelaskan bahwa survei ini dilakukan denganmetode multistage random sampling yang melibatkan 1.220 responden. Dengan margin of error sebesar kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, hasil survei inidinilai cukup representatif dalam menggambarkan opini publik secara nasional. Pengumpulandata dilakukan melalui wawancara tatap muka pada periode 2 hingga 8 Maret 2026, yang kemudian diverifikasi secara ketat untuk memastikan validitas data.Dalam prosesnya, Yoki Alvetro menegaskan bahwa seluruh data yang masuk telah melaluitahap verifikasi menyeluruh di pusat data, bahkan sebagian sampel juga dilakukanpengecekan ulang sebagai bagian dari kontrol kualitas. Hasilnya menunjukkan tidak adanyakesalahan signifikan, sehingga temuan survei ini dapat dijadikan rujukan dalam membacatren persepsi publik terhadap kinerja pemerintah saat ini.Jika dilihat secara lebih luas, capaian tingkat kepuasan publik ini juga tidak lepas dariberbagai langkah strategis yang telah dilakukan pemerintah selama setahun terakhir. Selainprogram Makan Bergizi Gratis, pemerintah juga mendorong percepatan pembangunaninfrastruktur, digitalisasi layanan publik, serta penguatan sektor UMKM sebagai tulangpunggung ekonomi nasional. Upaya ini secara perlahan membentuk persepsi positif di tengahmasyarakat bahwa pemerintah hadir dan bekerja untuk kepentingan rakyat. Oleh karena itu, mari kita sebagai bagian dari publik tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga turut aktifmengawal jalannya pemerintahan agar tetap berpihak pada kepentingan bersama dan mampumenjawab tantangan masa depan dengan lebih baik.*) Pengamat Politik dan Kebijakan Strategis Nasional
- Advertisement -

Baca berita yang ini