Kisah P&G, Perusahaan yang Produknya Dipakai di Seluruh Dunia

Baca Juga

MATA INDONESIA, NEW YORK –  Pasti sudah tak asing lagi dengan merek P&G. Hampir seluruh masyarakat di dunia termasuk Indonesia menggunakan produk sampo, perawatan tubuh, serta produk rumah tangga dari merek ini.

Procter and Gamble Company atau populer sebagai P&G adalah korporasi barang konsumen multinasional Amerika Serikat (AS). Perusahaan yang mengkhususkan diri dalam berbagai macam produk rumahan, kesehatan pribadi, kebersihan.  Kini P&G sudah beroperasi di 70 negara dan berkantor pusat di Cincinnati, Ohio.

Dua Pendiri P&G
Dua Pendiri P&G

P&G didirikan oleh William Procter, seorang pembuat lilin dan James Gamble pembuat sabun. Keduanya menjadi ipar ketika menikah dengan kakak beradik Olivia dan Elizabeth Norris. Ide pendirian usaha bersama ini adalah Alexander Norris, mertua mereka. Ia membujuk Procter dan Gamble untuk menjadi partner bisnis. Pada 24 Agustus 1837, sebagai hasil dari pertemuan tersebut, Procter & Gamble berdiri. Tanggal inilah yang kemudian menjadi hari jadi P&G pada tiap tahunnya.

P&G pertama kali beroperasi dari gudang di jalan utama dan keenam di Ohio. Setiap pagi, Gamble mengunjungi rumah, hotel, dan kapal uap mengumpulkan abu dan sisa daging. Ia kemudian menukar sabun untuk bahan baku Lilin yang menjadi produk terpenting P&G pada saat itu.

Perusahaan ini kemudian memilih pindah ke Cincinnati. Keduanya tahu bahwa bahan utama untuk kedua produk tersebut adalah lemak hewani. Di Cincinnati tersedia pusat pemotongan babi.

Selanjutnya di tahun 1858 dan 1859, penjualan perusahaan tersebut mencapai 1 juta dolar. Perusahaan ini memperkerjakan 80 karyawan.

Perang Saudara AS

Selama Perang Saudara Amerika, perusahaan memenangkan kontrak memasok Sabun dan lilin kepada Union Army. Gara-gara kontrak militer ini, para tentara memperkenalkan produk P&G ke keluarganya dan kemudian menyebar ke seluruh Amerika.

Pada tahun 1880-an, P&G mulai memasarkan produk baru. Sabun murah yang mengapung di air. Perusahaan itu menyebut sabun itu Ivory.  William Arnett Procter, cucu William Procter, memulai program bagi hasil untuk tenaga kerja perusahaan pada tahun 1887. Dengan memberi para pekerja saham di perusahaan, para pegawainya cenderung tidak akan mogok bekerja.

Perusahaan mulai membangun pabrik di lokasi lain di AS karena permintaan produk melebihi kapasitas fasilitas Cincinnati. Para pemimpin perusahaan juga mulai mendiversifikasi produknya.

Sebagai respons di tahun 1911, P&G mulai memproduksi Crisco. Ini adalah shortening yang terbuat dari minyak nabati dan bukan lemak hewani. Ketika radio menjadi lebih populer pada tahun 1920-an dan 1930-an, perusahaan mensponsori sejumlah program radio terutama sandiwara. Hal inilah yang membuat acara sandiwara di radio sering dikenal sebagai “opera sabun”.

P&G memproduksi dan mensponsori drama serial radio pertama di tahun 1930-an. Dengan kebangkitan televisi pada 1950-an dan 1960-an, P&G tak segan-segan memsponsori dan memproduksi sebagian besar serial baru.

Akuisisi Internasional

Bisnis semakin besar, perusahaan ini kemudian memutuskan untuk ekspansi ke negara lain, baik dalam hal produksi dan penjualan produk. P&G menjadi perusahaan internasional dengan akuisisi tahun 1930 atas Thomas Hedley Company, yang berpusat di Newcastle, Inggris.

Setelah akuisisi ini, P&G memiliki Kantor Pusat Inggris di Hedley House di Newcastle.

Perusahaan kemudian memperkenalkan deterjen laundry Tide pada tahun 1946 dan sampo Prell pada tahun 1947. Pada tahun 1955, P&G mulai menjual pasta gigi pertama yang mengandung fluoride, yang dikenal sebagai Crest.

Perusahaan membeli Charmin Paper Mills pada 1957. Ia lantas mulai memproduksi kertas toilet dan produk kertas lainnya.

Fokus pada binatu, P&G membuat pelembut kain Downy pada tahun 1960 dan lembaran pelembut kain Bounce pada tahun 1972. Salah satu produk paling revolusioner yang muncul di pasaran adalah perusahaan Pampers.

Popok saat itu tidak populer, meskipun Johnson & Johnson telah mengembangkan produk yang disebut Chux. Bayi selalu memakai popok kain, yang bocor dan membutuhkan banyak tenaga untuk mencucinya. Pampers memberikan alternatif yang nyaman, meskipun dengan biaya lingkungan lebih banyak limbah yang membutuhkan penimbunan.

Diversifikasi Produk

P&G mengakuisisi sejumlah perusahaan lain yang mendiversifikasi lini produknya dan meningkatkan keuntungan. Akuisisi ini termasuk Folgers Coffee, Norwich Eaton Pharmaceuticals (pembuat Pepto-Bismol), Richardson-Vicks, Noxell (Noxzema), Shulton’s Old Spice, Max Factor, dan Iams Company, antara lain.

Sementara itu, pada 1994, perusahaan ini menjadi berita utama karena rugi besar akibat  posisi leverage dalam derivatif suku bunga. P&G kemudian menggugat Bankers Trust karena penipuan. Hal ini menempatkan manajemen mereka pada posisi yang tidak biasa untuk bersaksi di pengadilan bahwa mereka telah melakukan transaksi yang tidak dapat mereka pahami.
Tahun 1996, P&G kembali menjadi berita utama ketika Food and Drug Administration menyetujui produk baru yang dikembangkan oleh perusahaan, Olestra. Olestra adalah pengganti lemak dengan kalori lebih rendah dalam memasak keripik kentang dan makanan ringan lainnya.
Memasuki dekade baru, P&G sekali lagi mengambil gebrakan. Bulan Januari 2005 P&G mengumumkan akuisisi Gillette, membentuk perusahaan barang konsumen terbesar dan menempatkan Unilever di posisi kedua. Ini menambahkan merek seperti pisau cukur Gillette, Duracell, Braun, dan Oral-B ke kandangnya.
P&G setuju untuk menjual bisnis sikat gigi elektrik yang dioperasikan dengan baterai dari SpinBrush ke Church & Dwight. Itu juga melepaskan lini pasta gigi perawatan mulut Gillette, pasta gigi Rembrandt.

Konglomerasi

Perusahaan secara resmi bergabung pada tanggal 1 Oktober 2005. Newell Rubbermaid membeli beberapa perusahaan seperti Liquid Paper, dan divisi alat tulis Gillette, Pada tahun 2008, P&G bercabang ke dalam bisnis rekaman dengan mensponsori Tag Records, sebagai pengesahan untuk TAG Body Spray.

P&G kemudian keluar dari bisnis makanan pada tahun 2012 ketika menjual bisnis makanan ringan Pringles ke Kellogg’s seharga 2,75 miliar dolar setelah kesepakatan senilai 2,35 miliar dolar dengan mantan pelamar Diamond Foods gagal. Perusahaan sebelumnya telah menjual selai kacang Jif dan kopi Folgers dalam transaksi terpisah dengan Smucker’s.

Dalam olahraga, P&G adalah sponsor tingkat satu Olimpiade London 2012 dan mensponsori 150 Atlet. P&G adalah sponsor tingkat satu di Olimpiade Musim Dingin 2014 Sochi. Ini akan kembali sebagai sponsor Olimpiade Musim Panas 2016 di Rio.

Penjualannya di tahun 2014 mencapai angka 83,1 miliar. Pada tanggal 1 Agustus 2014, P&G mengumumkan sedang merampingkan perusahaan, melepas dan menjual sekitar 100 merek dari portofolio produknya untuk fokus pada 65 merek yang tersisa, yang menghasilkan 95 persen dari keuntungan perusahaan AG Lafley

 

Produk-produk P&G di Indonesia

  • Bayi: Pampers
  • Kain: Downy
  • Wanita: Whisper
  • Tubuh: Gillette, Venus
  • Rambut: Head & Shoulders, Pantene Pro-v, Rejoices, Herbal Essences, Vidal Sassoon
  • Rumah: Ambi Pur
  • Mulut: Oral-B
  • Kesehatan Pribadi: Vicks, Sangobion, Neurobion, Sevenseas, Dolo Neurobion, Iliadin, Hemobion, Cavit D3
  • Kulit dan pribadi: Gillette, Olay, SK-II

Reporter: Annisaa Rahmah

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini