Ini Kesadisan Israel 25 Tahun Lalu

Baca Juga

MINEWS.ID, JAKARTA – Setiap tanggal 25 Februari, masyarakat Palestina pasti akan teringat pada peristiwa sadis tahun 1994 dan mengenangnya dalam kegetiran.

Seluruh dunia menjadi saksi 25 tahun lalu seorang pemukim Yahudi Baruch Goldstein melakukan pembunuhan yang mengarah kepada pembersihan etnis atau genosida di Masjid Ibrahimi saat subuh.

Baruch memberondongkan peluru dari senapannya kepada muslimin yang sedang shalat subuh di masjid Kota Tua Hebron itu. Tanggal itu merupakan salah satu hari Ramadhan.

Akibatnya 29 orang terbunuh dari 150 lainnya terluka. Ketakutan akan serangan itu masih terus terjadi setiap menjelang 25 Februari di kawasan tersebut.

Mereka yang selamat dari berondongan Baruch langsung balik menyerang dan membunuhnya saat dia jeda untuk mengisi peluru pada senapannya.

Dugaan genosida ditengarai dari sikap pasukan Israel yang berjaga di kawasan itu justru menutup pintu-pintu masjid dan melarang jamaah shalat subuh keluar. Mereka juga dicurigai melarang warga sekitar datang untuk menyelamatkan muslim di masjid tersebut.

Pembantaian Baruch itu pun dilanjutkan tentara Israel yang juga menghujani tembakan peluru ke masjid itu. Maka jumlah seluruh korban meninggal mencapai 50 orang, kebanyakan orang-orang yang mau mengevakuasi jenazah dari dalam masjid.

Hari itu juga Hebron bergolak. Seluruh warga Palestina di sekitar kota itu pun melakukan konfrontasi kepada tentara Israel. Setidaknya 10 orang gugur dalam bentrokkan itu.

Baruch Goldstain (37) berasal dari gerakan Kach datang dari Amerika tahun 1980. Dia seorang dokter militer Israel yang sebenarnya tinggal secara ilegal di Kiryat Arba pinggiran Kota Hebron.

Goldstain menggunakan senapan serbu Galil saat membantai muslim yang sedang shalat shubuh itu.

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini