Hasan Tiro, Pentolan GAM yang Suka Amerika Serikat

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Hari ini 10 tahun lalu putra Aceh yang berusaha memerdekakan Tanah Rencong dari Pemerintah Indonesia berpulang ke Rahmatullah. Tetapi siapa sangka Hasan Tiro yang lahir di Pidie itu sangat menyukai hal yang berbau Amerika Serikat?

Lelaki yang sering dianggap “wali”, karena keturunan ketiga Teungku Chik Muhammad Saman di Tiro, pahlawan nasional Indonesia yang memimpin perang melawan Belanda pada 1890-an itu ternyata memiliki keluarga yang ditinggal di Amerika Serikat.

1. Istri Warga Amerika Serikat keturunan Yahudi
Tidak banyak yang mengetahui kapan Hasan Tiro menikahi Dora, bahkan kapan mereka bercerai pun tidak ada informasi yang jelas.

Tetapi dia tercatat pernah berkuliah di Universitas Columbia sebelum memproklamirkan Aceh Merdeka dari Indonesia pada 1976.

Dia berkuliah di universitas itu setelah mendapat beasiswa selulusnya dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) pada 1949. Dia kuliah di Amerika Serikat pada 1953 dan bekerja paruh waktu di Misi Indonesia untuk PBB.

Saat dia berkuliah itu lah menikahi Dora lalu dia membangun jaringan bisnis di bidang petrokimia, pengapalan, penerbangan dan manufaktur hingga ke Eropa dan Afrika.

2. Penggemar Coca Cola
Minuman asal Amerika Serikat itu dikabarkan sering menemani Hasan sepanjang hari, bahkan sampai menjelang tutup usia pada 84 tahun dia masih kerap menikmati soft drink paling populer di muka bumi ini.

Menurut pembantu khusus Hasan Tiro, Muzakkir Abdul Hamid, Coca Cola merupakan minuman paling disukai pria kelahiran Tanjong Bungong, Kecamatan Sakti, Pidie itu.

3. Tinggalkan istri dan anak di Amerika Serikat
Pada 30 Oktober 1976, Hasan Tiro berhasil menyusup kembali ke Aceh dengan sebuah kapal motor kecil. Dia pun memproklamirkan Aceh Merdeka dari Indonesia pada Desember 1976 dan mendeklarasikan Front Pembebasan Nasional Aceh Sumatra yang kemudian dikenal dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai kendaraan untuk mencapai kemerdekaan yang tidak pernah diperoleh hingga akhir hayatnya.

Hasan tidak mengajak Dora dan putranya Karim Michel Tiro yang masih kecil ke Aceh. Keduanya ditinggalkan dengan kemewahan hasil berbisnisnya selama itu.

4. Karim Michel Tiro
Karim sangat disayangi Hasan Tiro meski sudah berada di Aceh, bahkan salah satu kamp pelawanannya di hutan Aceh dinamakan Karim.

Namun, Karim hingga kini tidak ingin mengenal tanah kelahiran ayahnya. Secara kebetulan saat Hasan wafat 3 Juni 2010 Karim dan Dora tidak hadir. Dikabarkan saat itu Karim lebih memilih menjaga ibunya yang juga sedang sakit di usia 77 tahun.

Karim kini tercatat sebagai guru besar di Xavier University. Itu adalah universitas Jesuit. Selain itu dia juga mengajar di Universitas Katolik di Norwood dan Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat.

Dia adalah guru besar sejarah, tetapi bukan soal Aceh melainkan sejarah Amerika Serikat. Sebab dia memang tidak tertarik kepada Aceh.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini