Hakim bin Hizam, Sahabat Nabi yang Masuk Islam Setelah 20 Tahun Dakwah

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dari sekian banyak sahabat Nabi Muhammad SAW, terdapat nama Hakim Al Hizam.

Dari kecil, Hakim cukup dekat dengan Nabi SAW. Namun ia baru mendapat hidayah masuk Islam setelah 20 tahun Nabi Muhammad SAW menyiarkan agama ini di jazirah Arab.

Sebagai sahabat, Hakim cukup unik. Ia lahir di dalam Kabah. Kelahiran Hakim bermula dari perjalanan sang ibu yang pergi bersama kelompoknya ke Kabah yang kala itu masih penuh dengan berhala. Mereka datang untuk melakukan pemujaan.

Ketika menjalankan ritual jahiliyah tersebut, sang ibu yang sedang hamil tua tiba-tiba mengalami kontraksi. Dia kemudian masuk ke dalam Ka’bah beralaskan tikar. Di sanalah proses persalinan berlangsung.

Hakim merupakan keponakan Khadijah binti Khuwailid istri Rasulullah. Ia  tumbuh di sebuah keluarga kaya dan terhormat. Keluarganya menyandang status terhormat. Meskipun kaya raya, ia tidak angkuh. Ia menjadi orang kaya yang sangat dermawan.

Hakim bersahabat dengan Rasulullah sejak kecil. Meski usianya lima tahun lebih tua, dia selalu meluangkan waktu untuk bermain bersama Nabi. Yang mengejutkan adalah meski bersahabat dari kecil, Hakim tak serta merta masuk ke Islam ketika Rasulullah mulai berdakwah. Hakim tetap memilih keyakinannya untuk menyembah berhala. Rasulullah SAW sangat menyayangi Hakim. Karena keakraban yang mereka jalin sejak lama. Hubungan keduanya semakin erat setelah Nabi SAW menikah dengan Khadijah. Kisah mengejutkan adalah meski persahabatan keduanya terjalin sejak lama, Hakim tidak serta-merta meyakini ajaran yang dibawa Rasulullah SAW. Sikap masyarakat Mekah yang ketika itu lebih banyak menolak dakwah Rasulullah SAW memengaruhi pendirian Hakim. Sehingga, dia lebih memilih suara mayoritas yang mempertahankan keyakinan lama menyembah berhala.

Ia baru mendapatkan hidayah untuk masuk islam setelah akhir-akhir hidup Rasulullah, tepatnya ketika Kota Mekah berhasil dibebaskan dari kaum kafir. Rentang waktu tersebut terhitung lebih dari 20 tahun Rasulullah SAW menjadi nabi.

Namun, meski ia agak lama masuk Islam, pada akhirnya dia tetap mendapat hidayah tersebut. Baginya waktu 20 tahun terlalu lama untuk mendapatkan hidayah tersebut. Padahal, menurut Hakim, menerima Islam berarti akan memberinya banyak kesempatan untuk berbuat kebaikan.

Bahkan sepanjang hidupnya, dia selalu menangis karena menurutnya ia terlalu lama sampai akhirnya berhasil mengimani Islam. Hakim memeluk Islam sepenuh hati. Ia bersumpah pada dirinya akan menebus apa pun yang telah dia lakukan selama masa jahiliahnya.

Putranya pernah bertanya kepada Hakim mengapa menangis setelah menerima Islam. Baginya waktu 20 tahun terlalu lama untuk mendapatkan hidayah tersebut. Padahal, menurut Hakim, menerima Islam berarti akan memberinya banyak kesempatan untuk berbuat kebaikan.

Dalam peperangan Badar, Hakim bin Hizam juga terpaksa ikut di barisan kaum kafir Quraisy. Hanya saja, Allah berkehendak lain. Ketika Umayyah bin Khalaf, Utbah bin Rabi’ah dan Abu Jahal tewas, Hakim bin Hizam tetap hidup. Hingga berlalu pula perang Uhud, Khandaq, dan penaklukan Khaibar, namun Hakim bin Hizam belum juga mau beriman. Sedangkan Rasulullah masih senantiasa mendoakan dirinya agar segera mendapatkan hidayah.

Doa Rasulullah SAW terjawab ketika kaum muslimin berhasil dengan izin Allah menaklukkan kota Makkah pada bulan Ramadan tahun 8 H.

Reporter: Dinda Nurshinta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini