Hachiko, Simbol Kesetiaan Anjing terhadap Majikan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Di Tokyo, Jepang, tepatnya di luar stasiun Shibuya ada patung anjing yang mungkin namanya belum pernah kalian dengar bahkan kalian ketahui. Di Jepang patung anjing Hachiko itu malah menjadi pujaan.

Kisahnya nyata. Cerita anjing ini menakjubkan sekaligus sangat memilukan. Patung anjing tersebut di dedikasikan untuk seekor anjing bernama Hachiko. Di Jepang, kisahnya sangat mengispirasi bahkan terdengar sampai ke luar kota dan menarik media Jepang saat itu untuk memberitakan kisah pilu dari Hachiko.

Hachiko lahir 10 November 1923 dari induk bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Oshinai-go. Saat kecil namanya adalah Hachi. Lewat seorang perantara, keluarga Ueno mengadopsi Hachi menjadi hewan peliharaan.

Hachiko sangat setia kepada tuannya, Profesor Hidesaburo Ueno. Dari kecil hingga beranjak dewasa, anjing ini menemani tuannya kemanapun ia pergi. Malah saat berangkat kerja, Hachiko selalu mengantar tuannya yang naik kereta dari Stasiun Shibuya, Tokyo. Jika hari sudah petang, Hachiko akan berjalan dengan sendirinya menjemput Profesor Hidesauro Ueno yang tiba di Stasiun Shibuya.

Kebiasaan ini terus berjalan selama 1 tahun 4 bulan. Hingga pada suatu hari, kebiasaan ini menjadi berbeda. Profesor Hidesaburo Ueno tidak lagi kembali ke rumah dan Hachiko terus menunggu berharap pemiliknya akan tiba. Kesetiaannya membuat anjing itu tetap mengunjungi stasiun untuk menyambut pemiliknya dan kembali lagi ke rumah bila sudah semakin larut.

Lama-kelamaan ia menyadari sang pemilik tidak lagi tinggal di rumah dan akhirnya memutuskan untuk menunggu di stasiun. Hachiko terus berada di sana hingga berbulan-bulan dan bahkan hingga 10 tahun lamanya. Ia berharap bisa bertemu dengan pemilik yang disayanginya. Melihat anjing yang terus menunggu membuat beberapa orang dan pihak stasiun merasa iba. Mereka kemudian memberinya makan dan minum.

Sayangnya Hachiko tidak kunjung bertemu dengan pemiliknya. Di hari ketika Profesor Hidesaburo tidak pulang ke rumah, ternyata profesor meninggal karena pendarahan otak saat sedang mengajar di universitas.

Hal ini tentunya tidak diketahui oleh Hachiko karena ia tidak mengerti. Hingga akhir hayatnya, anjing itu tetap menunggu di stasiun. Pada 8 Maret 1935, Hachiko ditemukan sudah tidak bernyawa. Kisah kesetiaan Hachiko terhadap Profesor Hidesaburo mulai terkenal karena salah seorang mantan mahasiswa profesor menuliskannya dalam sebuah artikel di surat kabar nasional di 1932. Hal itulah yang membuat banyak orang turut bersedih saat Hachiko tiada. Untuk mengenang kesetiaan anjing tersebut, seorang pemahat membuat patung tersebut dan meletakannya di dekat Stasiun Shibuya. Sejumlah turis menyempatkan waktu untuk berfoto di patung itu. Bahkan kisah ini pun menjadi sebuah film Hollywood berjudul Hachi : A Dog’s Tale pada 2009.

Upacara pemakaman Hachiko berlangsung seperti layaknya upacara pemakaman manusia. Bagian luar tubuh Hachiko kemudian di awetkan dan hingga kini tersimpan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo. Seorang pemahat patung membuat patung Hachiko yang sedang berdiri menunggu tuannya. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut di hadiahkan kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kojun.

Reporter: Aris Kurniawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini