Curhat Ruff O’Herne, Si Wanita Penghibur Tentara Jepang di Indonesia

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Namanya Jan Ruff-O’Herne lahir di Hindia Belanda pada tahun 1923. ‘Londo’ cantik ini merupakan satu dari ratusan ribu wanita yang dijadikan budak seks oleh tentara Jepang di Indonesia.

Benar saja, ketika dia berusia 19 tahun sudah dipaksa bekerja di rumah bordil sebagai wanita penghibur oleh tentara Jepang.

Mimpi buruk itu terjadi saat dirinya meninggalkan kamp interniran setelah invasi Jepang ke Indonesia. Semua itu ia ceritakan pada tahun 2002, dan menjadikannya sebagai aktivis HAM keturunan Belanda-Australia ini terkenal.

Bahkan Ruff-O’Herne merupakan gadis penghibur pertama yang secara terbuka menceritakan kisahnya tentang apa yang terjadi padanya selama Perang Dunia Kedua. Dengan cara ini wanita keturunan Belanda-Australia tersebut menginspirasi lebih banyak wanita untuk menceritakan kisah mereka.

Menurut beberapa sejarawan, sekitar 200.000 wanita di wilayah pendudukan Jepang digunakan sebagai budak seks. “Sangat bagus bahwa mereka melakukannya, karena hanya Anda yang memiliki suara kecil,” kata Ruff-O’Herne kepada NRC pada tahun 2001.

“Cerita tidak boleh dilupakan.”

Setelah perang, Ruff-O’Herne menikah dengan seorang tentara Inggris, lalu berimigrasi ke Australia pada tahun 60an. Pada tahun 2001 ia dikenal sebagai Knight in the Order of Orange-Nassau.

Pada tahun 2007, ia sempat berbicara tentang pengalamannya di hadapan Kongres Amerika. “Aku telah memaafkan orang Jepang atas apa yang mereka lakukan padaku,” katanya kemudian.

“Tapi aku tidak akan pernah melupakannya. Saya berharap, dengan berbicara, saya telah berkontribusi pada perdamaian dunia dan bahwa pelanggaran hak-hak perempuan tidak akan pernah terjadi lagi.”

Kini dia telah tiada pada 21 Agustus 2019 kemarin. Ruff-O’Herne meninggal di kota Adelaide Australia pada usia 96 tahun.

“Kisah bertahan hidup Jan adalah ode untuk kekuatan dan keberaniannya,” kata Wakil Perdana Menteri Vickie Chapman dari negara bagian Australia Selatan, Australia, setelah kematiannya.

“Dia akan dirindukan tidak hanya di sini, tetapi di seluruh dunia. Kisahnya tidak pernah bisa dilupakan.”

Berita Terbaru

Anggaran Pendidikan Naik, Bukan Turun: Meluruskan Isu MBG dan APBN 2026

Oleh : Dr. Ahmad Budidarma, S.Kom, MM Penelaah Teknis Kebijakan Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemdikdasmen Belakangan ini, ruang publik diramaikan oleh narasi bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah “menggerus” anggaran pendidikan. Isu tersebut menyebar luas di media sosialdan sebagian ruang diskusi publik, memunculkan kekhawatiran bahwa komitmen negara terhadap sektor pendidikan tengah mengalami penurunan. Kekhawatiran ini tentu dapatdipahami. Pendidikan adalah fondasi masa depan bangsa; setiap perubahan alokasi anggaranselalu sensitif dan mudah memicu respons emosional. Namun, bila kita merujuk pada dokumen resmi pemerintah dalam Rancangan APBN 2026 serta penjelasan yang disampaikan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia dan Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, fakta yang muncul justru sebaliknya: anggaran pendidikan tahun 2026 mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah tetap menjaga amanat konstitusi untuk mengalokasikan sekurang-kurangnya 20 persen dari total belanja negara untuk fungsi pendidikan. Artinya, secara normatif dan fiskal, komitmen tersebut tetap terpelihara. Kenaikan ini juga tercermin pada pagu anggaran Kementerian Pendidikan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini