Brian Epstein Meninggal, The Beatles Pun Bubar

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA –  Siapa yang tidak kenal The Beatles? Grup band yang terkenal pada masanya dan hingga saat ini. Meskipun, telah bubar 50 tahun yang lalu, namanya masih terkenal tak hilang ditelan zaman.

Bisa dibilang, orang yang paling berpengaruh bagi perjalanan The Beatles adalah sang manajer, Brian Epstein. Selain bertugas memperkenalkan band, ia juga pandai memediasi beberapa konflik yang terjadi pada band asal Inggris ini.

Pengaruhnya cukup kuat membuat semua konflik terselesaikan dengan baik. Namun, ketika ia meninggal, band ini seperti kehilangan sesuatu. Khususnya John Lennon, ia benar-benar merasa kehilangan atas kematian Epstein karena keduanya memiliki hubungan yang sangat dekat.

Brian Eipsten
Brian Eipsten

Berjalannya waktu, band ini mulai goyah. Melihat situasi seperti ini, Paul McCartney mencoba mengambil alih kendali. Ia mulai menggagas beberapa proyek untuk kelangsungan band, seperti penggarapan film Magical Mystery Tour dan Let It Be.

Tapi, hal tersebut membuat Lennon, Harrison, dan Starr risih. Bahkan, Lennon tak setuju dengan beberapa proyek yang digagas McCartney. Kebencian itu ia perlihatkan dengan melanggar aturan awal The Beatles, yaitu membawa Yoko Ono dalam proses rekaman – para personel The Beatles membuat larangan membawa istri atau pacar saat proses rekaman.

Persoalan The Beatles tidak berhenti sampai di sana. Munculnya Geogre Harrison sebagai penulis lagu dalam paruh kedua karier mereka. Hal tersebut membuat ketidaknyaman para personel lainnya karena yang berperan menulis lagu adalah McCartney dan Lennon, sementara ia bersama Ringgo Starr hanyalah pendukung.

Memasuki 1966, komposisi Harrison mulai matang. Hal ini mendapat apresiasi dari beberapa pihak, secara bertahap. Meskipun beberapa pihak mengakui lagu-lagunya, ide-idenya selalu ditolak dua kawannya, Lennon dan McCartney. Selalu diperlakukan seperti itu membuat Harrison frustrasi dan merasa terasingkan dari The Beatles.

Akhirnya ia membuat album Wonderwall Music. Dalam album tersebut, ia berkolaborasi dengan pianis klasik dan arranger orkestra John Barham dan musisi klasik India seperti Aashish Khan, Shivkumar Sharma, Shankar Ghosh, dan Mahapurush Misra. Album ini menjadi sountrack film Wonderwall dan menjadi album solo pertama personel The Beatles.

Setahun berikutnya, selera musik masing-masing personel semakin berbeda. Hal ini terjadi setelah mereka merampungkan album Sgt. Pepper Lonely Hearts Club Band pada November 1968. McCartney tetap mempertahankan minatnya pada tren musik pop, sedangkan Harrison mengembangkan minat dalam musik India, serta Lennon yang beralih ke musik eksperimental.

Akibatnya, McCartney. mulai berperan sebagai inisiator dan pemimpin proyek artistik The Beatles. Hal ini bukan membuat keaadan membaik, malah kian kisruh. Apalagi Lennon semakin sering membawa Yoko Ono setiap proses rekaman. Kehadiran Yoko kerap membuat para personel lainnya merasa tidak nyaman karena sering berkomentar dan memberikan masukan, hal ini memicu perdebatan dan gesekan yang sudah terjadi sebelumnya.

Pada satu kesempatan, McCartney bahkan mulai mencela musik eksperimental Lennon, begitu pula Lennon yang menghina lagu McCartney, seperti “Martha My Dear” dan “Honey Pie”. Karena masalah yang kian memburuk, akhirnya band ini bubar pada 31 Desember 1970.

Setelah bubar, perseteruan antara Lennon dan McCartney masih berlanjut. Salah satu penyebabnya adalah McCartney yang mendahului Lennon dalam menyatakan bubarnya The Beatles. Lennon, Harrison dan Starr juga melawan McCartney di pengadilan dalam membubarkan band ini.

Reporter : Afif Ardiansyah

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini