Banjir Darah dan Bau Mayat Sampai Lima Bulan Saat Pasukan Salib Taklukan Yerusalem

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Perang Salib punya satu rencana: merebut kembali Yerusalem, kota suci yang dikuasai Umat Muslim dan mengembalikan kontrol kepada orang Kristen.

Dengan 70,000 jumlah tentara, mereka berlayar dari beberapa negara di Eropa. Sayangnya, perang selalu menelan banyak korban dan jumlah mereka turun secara drastis ketika sampai di Yerusalem. Kelaparan, sakit, atau memang mati saat bertarung membuat jumlah pasukannya berkurang.

Dalam perjalanan, mereka melewati banyak tempat termasuk Byzantium, Turki dan Syria. Mereka juga merebut Nicaea dan Antioch dari umat Muslim.

Kenapa Pasukan Salib ini bisa menang? padahal dari segi jumlah mulai berkurang?

Hal ini karena kepemimpinan trio Godfrey of Bouillon, Baldwin I of Boulogne dan Raymond IV of Toulouse. Ketiganya mampu menyatukan pasukan Salib meski mereka berasal dari berbagai negara.

Faktor kedua karena bantuan dari beberapa daerah muslim yang berkhianat kepada khalifah. Selain faktor ketakutan karena kebuasan pasukan ini, pasokan makanan membuat mereka bisa bertahan hingga Yerusalem. Tak hanya itu Kerajaan Byzantium yang saat itu menjadi penguasa di wilayah timur ikut membantu mereka.

Faktor ketiga adalah umat muslim sedang terpecah. Banyak wilayah di sekitar Yerusalem yang sebenarnya berada dalam satu kekhalifahan memberontak dan ingin saling menguasai satu sama lain. Para gubernur dan raja-raja kecil malah cenderung membantu pasukan Salib dengan mengirimkan upeti dan makanan termasuk memberi cadangan pasukan ke pasukan Salib.

Namun faktor paling utama yang membuat mereka menang adalah janji dari Paus bahwa perang mereka adalah suci. Pasukan Salib merasa bahwa mereka adalah orang-orang pilihan Tuhan dan bertugas merebut kembali kota Suci mereka atas nama agama.

Serangan Pasukan Salib ke Yerusalem sebenarnya brutal. Pengepungan berhari-hari membuat pasukan muslim lelah dan menyerah. Bujuk rayu dari pasukan Salib membuat umat Muslim akhirnya menyerah. Dan saat mereka lengah, pada 15 Juli 1099 pasukan Salib menerobos dan menyerang pasukan Muslim. Terjadilah pembantaian yang luar biasa. Perintah dari pimpinan Pasukan Salib Godfrey of Bouillon untuk menghabisi warga dan pasukan yang ada di Yerusalem benar-benar dimanfaatkan oleh ribuan pasukan Salib.

Mereka menjarah, memperkosa dan membantai semua orang yang tinggal di Yerusalem tanpa sisa. Mulai dari pendeta Yahudim ulama, anak kecil maupun perempuan. Pembantaian paling sadis menurut catatan sejarah berada di Kuil Solomon atau Masjidil Aqsa.

Darah mengenang hingga sampai lutut. Bau mayat di kawasan ini sampai 5 bulan masih tercium baunya. Tak ada warga yang tersisa, semuanya mati.

Seorang saksi sejarah Fulk of Chartes, mengatakan, “Sungguh, jika kalian berada di sana, kalian akan melihat kaki-kaki kami berwarna (merah) hingga ke lutut karena darah korban. Tak satu pun dari mereka yang hidup; tak satu pun perempuan dan anak-anak yang tersisa ….”

Namun kekuasaan Pasukan Salib pun tak lama. 100 tahun kemudian tepatnya 1187, Saladin merebut kembali Yerusalem. Pasukan Muslim memperlakukan rakyat Yerusalem dengan sopan. Tak ada pertumpahan darah dan perlakuan jauh lebih baik dari saat kekuasaan Tentara Salib. Terlebih kepada rakyat yang Kristen yang tentu takut dengan kejadian perebutan ini.

Penulis: Deandra Alika Hefandia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Penguatan Resiliensi Media Dukung Ketahanan Nasional di Ruang Digital

Oleh: Nazira Billa Putri )*Transformasi digital telah membuka peluang besar bagi masyarakat untukmemperoleh informasi secara cepat dan luas. Di sisi lain, perkembangantersebut juga memunculkan tantangan berupa penyebaran hoaks, misinformasi, dan disinformasi yang semakin sulit dibedakan dariinformasi yang benar. Dalam situasi seperti ini, penguatan resiliensi media menjadi faktor penting untuk mendukung ketahanan nasional di ruangdigital sekaligus menjaga kualitas informasi yang diterima masyarakat.Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam membangunekosistem informasi yang sehat melalui penguatan peran media danpeningkatan kualitas layanan digital. Langkah tersebut menjadi bagiandari strategi nasional untuk memastikan ruang digital Indonesia tetapmenjadi sarana yang aman, produktif, dan mampu memperkuat persatuanbangsa di tengah derasnya arus informasi global.Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasidan Digital, Fifi Aleyda Yahya, menegaskan bahwa pers memiliki posisistrategis sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi hoaks dandisinformasi. Menurutnya, media yang menjalankan fungsi jurnalistiksecara profesional menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitasinformasi yang beredar di tengah masyarakat.Fifi menilai kecepatan perkembangan teknologi tidak boleh mengurangikomitmen terhadap akurasi informasi. Karena itu, pemerintah bersamainsan pers memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan setiapproduk jurnalistik tetap mengedepankan kepentingan publik sertamemberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Pendekatan tersebutmenjadi semakin penting ketika ruang digital dipenuhi arus informasi yang bergerak sangat cepat dan tidak seluruhnya melalui proses verifikasi.Pandangan serupa disampaikan Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat,yang menilai pers tetap menjadi kebutuhan penting masyarakat di tengahledakan informasi digital. Menurutnya, informasi kini telah menjadikebutuhan mendasar sehingga masyarakat membutuhkan sumberinformasi yang dapat dipercaya sebagai rujukan dalam memahamiberbagai peristiwa.Di tengah meningkatnya volume informasi, keberadaan media profesionalmenjadi penentu kualitas ruang publik. Media yang mengedepankanprinsip verifikasi, keberimbangan, dan tanggung jawab sosial akanmemperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus mengurangi ruang bagiberkembangnya informasi yang menyesatkan.Upaya memperkuat ketahanan informasi juga didukung melalui berbagaiinovasi digital yang dikembangkan pemerintah. Pengakuan internasionalterhadap tiga inovasi Indonesia dalam ajang World Summit on the Information Society (WSIS) Prizes 2026 menjadi bukti bahwa transformasidigital nasional semakin mampu menghadirkan solusi yang bermanfaatbagi masyarakat.Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menilai pencapaiantersebut menunjukkan kualitas inovasi digital...
- Advertisement -

Baca berita yang ini