INDEKS

Kemensos Perkuat Transformasi Digital Sekolah Rakyat untuk Memutus Rantai Kemiskinan

MataIndonesia, JAKARTA – Kementerian Sosial mempercepat transformasi digital Sekolah Rakyat sebagai bagian dari strategi nasional memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Penguatan teknologi pendidikan dipandang sebagai kunci...

Pemerintah Pastikan Sekolah Rakyat Jadi Program Prioritas 2026

MataIndonesia, Bogor – Pemerintah memastikan program Sekolah Rakyat menjadi salah satu prioritas nasional pada tahun 2026. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan...

Kemensos Dorong Integrasi Sekolah Rakyat lewat Sinkronisasi Dapodik

MataIndonesia, Bekasi – Pemerintah mulai mengintegrasikan data 66 titik Sekolah Rakyat Tahap 1C ke dalam sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik) guna memastikan pendataan peserta...

Pemerintah Perkuat Tata Kelola Sekolah Rakyat Melalui Integrasi Data Nasional

MataIndonesia, Jakarta – Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan saat ini pemerintah memperkuat sekolah rakyat melalui integrasi nasional. Hal tersebut diungkapkan Gus Ipul saat membuka...

Sekolah Rakyat Jadi Terobosan Strategis Pendidikan Inklusif bagi Keluarga Miskin Ekstrem

MataIndonesia, Jakarta – Kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi kini menjadi model unggulan dan solusi konkret bagi anak-anak dari keluarga miskin serta miskin ekstrem untuk mendapatkan...

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh Lambertus Pekuikir, tokoh yang memiliki pengalamanpanjang dalam dinamika Papua dan kini konsisten mendorong perdamaian. Ia menekankanbahwa kedamaian di Keerom terjaga berkat kerja bersama masyarakat adat, tokoh agama, pemerintah daerah, dan aparat keamanan. Pesan moral yang ia sampaikan meneguhkankeyakinan bahwa harmoni sosial bukan hasil satu pihak, melainkan buah kolaborasi yang terus dirawat. Kehidupan rukun antara penduduk asli dan pendatang dipandang sebagaikekuatan sosial yang harus dilindungi dari isu-isu menyesatkan. Penguatan narasi positif ini menunjukkan arah yang jelas:...

Teror di Balik Dalih Perjuangan: Mengutuk Aksi Biadab OPM yang Menumbalkan Masa Depan Anak Papua

Oleh: Silas Tabuni *) Papua kembali berduka. Ruang kelas yang seharusnya menjadi persemaian peradaban dan masa depan bangsa justru ternoda oleh aksi kekerasan yang melampaui batas kemanusiaan. Peristiwayang terjadi di Sekolah Yakpesmi, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo pada Senin pagi, 2 Februari 2026, bukan sekadar catatan kriminal biasa. Pembunuhan keji terhadap Frengki, seorang tenaga kependidikan yang tengah mendedikasikan hidupnya untuk memperbaiki fasilitasbelajar siswa, adalah serangan langsung terhadap nalar publik dan martabat bangsa. Aksi brutal yang dilakukan oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM), atau yang seringmengatasnamakan diri sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), menegaskan bahwa kelompok ini tidak lagi berjuang demi rakyat, melainkan telah menjadimesin teror yang menghambat kemajuan Papua. Kejadian bermula ketika ketenangan sekolah pecah oleh suara tembakan. Frengki, pria berusia55 tahun yang dikenal sebagai sosok pekerja keras, berusaha menyelamatkan diri ke ruang guru saat para pelaku mengejarnya. Meski sempat ada upaya penghalangan dari rekan sejawatnya, Dason Wakla, keganasan para pelaku tidak terbendung. Frengki tewas dengan luka senjata tajamdi tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi para pendidik. Tindakan inimerupakan puncak dari demanusiualisasi yang dilakukan oleh OPM, di mana nyawa manusiadianggap sebagai komoditas politik yang murah. Narasi yang dibangun oleh TPNPB Kodap XVI Yahukimo setelah kejadian tersebut adalah polalama yang sangat klise dan tidak berdasar. Melalui siaran persnya, kelompok ini secara sepihakmelabeli korban sebagai agen intelijen negara yang menyamar. Klaim tak berdasar ini adalahupaya putus asa untuk melegitimasi pembunuhan warga sipil di mata internasional. Tanpa buktihukum maupun administratif yang valid, pelabelan "intelijen" menjadi vonis mati instan yang dikeluarkan oleh kelompok bersenjata tanpa proses peradilan apa pun. Sebaliknya, faktalapangan menunjukkan bahwa Frengki adalah warga sipil murni yang direkrut pihak sekolahsejak Desember 2025 untuk membantu pengadaan kursi dan meja belajar. Ia bukan aparat, bukanpemegang senjata, dan sama sekali tidak memiliki rekam jejak militer. Klaim sepihak Mayor Kopitua Heluka yang menyatakan Yahukimo sebagai zona perang danmemerintahkan penutupan fasilitas publik seperti sekolah serta rumah sakit adalah bentukpembangkangan terhadap hak asasi manusia yang paling dasar. Menginstruksikan wargapendatang untuk angkat kaki dan mengancam keselamatan siapa pun yang bekerja sama denganpemerintah merupakan strategi intimidasi yang bertujuan menciptakan kekosongan sosial di Papua. Jika sekolah, rumah sakit, dan kantor pemerintahan ditutup, maka yang paling dirugikanadalah masyarakat asli Papua sendiri yang akan kehilangan hak pendidikan dan kesehatan. OPM secara sadar sedang menghancurkan fondasi kesejahteraan Papua demi agenda sempit mereka. Pemerintah, melalui langkah-langkah strategisnya, harus menyikapi fenomena ini denganketegasan yang tidak setengah-setengah. Agenda pemerintah untuk mempercepat pembangunandan integrasi kesejahteraan di Papua tidak boleh surut hanya karena teror. Justru, kehadirannegara harus semakin nyata untuk mengisi ruang-ruang yang coba dikuasai oleh rasa takut. Penguatan keamanan di objek vital seperti sekolah dan fasilitas kesehatan adalah harga mati. Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hesegem, sempatmenyuarakan kekhawatirannya mengenai perlindungan warga sipil. Meskipun terdapat kritikterhadap kehadiran pasukan keamanan, esensi dari tuntutan masyarakat sebenarnya adalahjaminan keselamatan. Namun, perlu ditegaskan bahwa kehadiran aparat keamanan di Papua bukan untuk memperluas konflik, melainkan merespons ancaman nyata yang dilakukan olehOPM terhadap warga sipil. Tanpa kehadiran negara, siapa yang akan menjamin keselamatanguru-guru di pedalaman? Siapa yang akan melindungi para perawat dan tukang bangunan yang sedang membangun infrastruktur dasar? Ketidakhadiran negara justru akan memberikanpanggung bagi OPM untuk terus melakukan tindakan semena-mena. Tindakan OPM yang merusak kendaraan kepala sekolah dan memecahkan kaca ruang kelassetelah membunuh Frengki menunjukkan bahwa target mereka adalah simbol-simbol kemajuan. Mereka ingin Papua tetap terisolasi, bodoh, dan penuh ketakutan. Pola kekerasan sistemik ini, yang juga merembet ke wilayah Intan Jaya hingga pembakaran fasilitas di Karubaga, membuktikan bahwa OPM telah mengabaikan Hukum Humaniter Internasional. Fasilitaspendidikan dan tenaga pendidik adalah objek sipil yang wajib dilindungi dalam situasi konfliksekalipun. Dengan menyerang sekolah,...

Eks Panglima TPN OPM Serukan Damai, Kutuk Keras Aksi Brutal yang Rugikan Warga Sipil

Mata Indonesia, Keerom - Eks Panglima Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN OPM) Markas Victoria, Lambert Pekikir, menyerukan perdamaian di Tanah Papua serta...

Publik Dukung Tindakan Tegas Apkam Hentikan Teror Bersenjata di Papua

Mata Indonesia, PAPUA - Gelombang kecaman terhadap kekerasan kelompok bersenjata di Papua Pegunungan terus menguat setelah serangan brutal menewaskan seorang pekerja bangunan sekolah di...

Kejaksaan Kantongi Bukti Audit BPKP Kasus Chromebook, Ahli: Sah Sesuai UU dan SEMA

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kejaksaan Kantongi Bukti Audit BPKP Kasus Chromebook, Ahli: Sah Sesuai UU dan SEMA", Klik untuk baca:https://www.kompasiana.com/swaratangerang/69859fe5ed641565545414b3/kejaksaan-kantongi-bukti-audit-bpkp-kasus-chromebook-ahli-sah-sesuai-uu-dan-sema Kreator:...

Paling Populer