Wanita Merapat! Ini yang Gak Boleh Dilakukan saat Mulai Berbisnis

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Di tengah masa pandemi seperti ini, banyak orang memutar otak agar bisa mendapatkan lapangan pekerjaan sendiri atau mendapat pemasukan tambahan. Sebab, bukan rahasia penyebaran virus corona membuat roda perekonomian makin melambat.

Salah satu caranya ialah membuka bisnis atau usaha kecil-kecilan yang bisa dilakukan meski hanya di dalam rumah. Namun, tak semudah kedengarannya, memutuskan untuk memulai bisnis bukanlah perkara gampang, apalagi untuk kaum wanita.

Sering kali wanita yang baru mulai merintis karier di dunia bisnis, memiliki banyak masalah yang bisa menjatuhkan usahanya. Untuk itu, buat kamu kaum hawa yang lagi baru memulai berbisnis, yuk simak hal-hal yang perlu kamu hindari biar usahamu makin lancar.

  1. Jangan Menjadi Orang yang Kaku

Saat kamu memutuskan untuk mulai berbisnis, cobalah menjadi pribadi yang ulet dan gak kaku. Biasanya, wanita merasa gengsi dan jutek jika dikomentari perihal dagangannya. Maka, kamu harus belajar untuk bisa menerima masukan dari pelangganmu.

Jika kamu terlalu kaku dan gak bisa menerima kritikan, usaha yang kamu geluti gak akan maju. Sebab, kamu kurang terbuka dengan masukan dari pelanggan.

2. Jangan Menjelaskan Produkmu Terlalu Berlebihan

Wanita biasanya doyan menyampaikan dan menjelaskan sesuatu dengan bersamangat. Tapi kamu harus hati-hati dalam melakukan branding atau pemasaran, kamu perlu melakukannya dengan cerdik.

Pelanggan tentu menyukai penjelasan dalam sebuah produk yang lengkap. Namun, kamu harus pastikan untuk tidak menyampaikan dengan cara yang rumit atau berlebihan.

Pasarkanlah produkmu dengan penjelasan yang singkat namun mendetail. Jangan lupa untuk memaparkannya dengan cara yang unik dan kekinian agar menarik minat pembeli.

3. Jangan Abaikan Relasi

Kaum hawa biasanya lebih mudah bergaul dan memiliki lingkar pertemanan yang lebih luas ketimbang pria. Misalnya, wanita lebih sering ikut arisan, kelompok masak, tata rias dan sebagainya. Maka, wanita biasanya lebih banyak memiliki kawan dan relasi dalam berbisnis.

Nah, jika memiliki peluang tersebut, jangan kamu abaikan ya. Sering kali wanita merasa gengsi untuk memanfaatkan lingkungan pertemanannya. Padahal hal itu bisa jadi kesempatan untuk mengembangkan bisnis yang kamu geluti.

4.  Tidak Mengembangkan Ide

Jika bisnis yang kemu geluti sudah mencapai titik keberhasilan, bukan berarti kamu jadi berhenti berpikir dan berkreasi. Jika hanya mengandalkan zona nyamanmu, bisa dipastikan bisnis kamu bakal terlindas dengan para pesaing.

Maka, penting untuk kamu peka terhadap trend sekitar dan melakukan inovasi pada usahamu. Jangan lupa untuk mendengarkan masukan dari pelanggan agar usahamu gak macet di tempat.

5. Jangan Putus Asa

Hal terakhir yang tidak boleh kamu lakukan saat mulai terjun ke dunia bisnis ialah mudah putus asa. Biasanya, mental wanita tak sekuat pria. Karena itulah sering kali wanita merasa down dan sedih ketika bisnisnya tak berjalan sesuai kehendaknya.

Jangan seperti itu ya! Tetaplah semangat dan jangan berhenti berusaha saat mengetahui bisnismu sedang merosot. Coba berpikir lebih detail dan kreatif untuk mengembalikan bisnismu seperti sediakala.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini