Tamat! Drama ‘Bulgasal’ Berhasil Raih Rating Peringkat Tertinggi Ketiga Lho

Baca Juga

MATA INDONESIA, SEOUL – Drama Korea bertema kolosal ini telah berakhir dengan kenaikan rating yang cukup signifikan. ‘Bulgasal’ berhasil raih tertinggi peringkat ketiga dari keseluruhan drama untuk episode akhirnya.

Melansir dari Soompi, episode terakhir dari drama fantasi tersebut telah tayang pada Minggu 6 Februari 2022 waktu setempat. Drama yang dibintangi Lee Jin Wook dan Kwon Nara ini telah mencapai peringkat pemirsa tertinggi sejak minggu pertama tayang.

Menurut Nielsen Korea, episode akhir ‘Bulgasal’ naik ke peringkat nasional dengan rata-rata 5,1 persen. Hal ini menandai drama ini masuk ke peringkat tertinggi ketiga dari keseluruhan drama.

Ini merupakan rating pertama ‘Bulgasal’ yang berhasil menembus hingga lima persen sejak minggu penayangan perdananya.

Tak hanya itu, drama ini juga telah menempati posisi pertama dalam slot waktunya di semua saluran TV kabel di antara demografi utama pemirsa dari usia 20 hingga 49 tahun. Drama ini memperoleh rata-rata nasional hingga 3,3 persen.

Sementara itu, ‘Bulgasal’ merupakan sebuah drama yang menceritakan tentang makhluk mitos abadi bernama Dan Hwal (yang diperankan oleh Lee Jin Wook). Ia merupakan perwira militer biasa yang berubah menjadi ‘bulgasal’ saat menjalankan tugasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sistem Kontrak Kerja jadi Masalah Generasi Muda, GMNI Singgung Keadilan Ketenagakerjaan di Indonesia

Sistem Kontrak Kerja jadi Masalah Generasi Muda, GMNI Singgung Keadilan Ketenagakerjaan di Indonesia Kondisi ketenagakerjaan saat ini menghadirkan berbagai tantangan signifikan yang berdampak pada kesejahteraan pekerja, terutama dalam menghadapi ketidakpastian kerja dan fenomena fleksibilitas yang eksploitatif atau dikenal sebagai flexploitation. Sistem kontrak sementara kerap menjadi salah satu akar permasalahan, karena tidak menjamin kesinambungan pekerjaan. Situasi ini semakin diperburuk oleh rendahnya tingkat upah, yang sering berada di bawah standar kehidupan layak, serta minimnya kenaikan gaji yang menambah beban para pekerja. Selain itu, kurangnya perlindungan sosial, seperti jaminan kesehatan yang tidak memadai, serta lemahnya penegakan hukum memperkuat kondisi precarization atau suatu kerentanan struktural yang terus dialami oleh pekerja. Di sisi lain, keterbatasan sumber daya negara juga menjadi penghambat dalam mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif yang potensial, di mana banyak pekerja terjebak dalam tekanan produktivitas tanpa disertai perlindungan hak yang memadai. Dalam konteks ini, generasi muda, termasuk kader-kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dinamika pasar kerja yang semakin eksploitatif. Generasi ini kerap menghadapi kontradiksi antara ekspektasi tinggi terhadap produktivitas dan inovasi dengan realitas kerja yang penuh ketidakpastian. Banyak dari mereka terjebak dalam sistem kerja fleksibel yang eksploitatif, seperti tuntutan kerja tanpa batas waktu dan kontrak sementara tanpa jaminan sosial yang memadai. Akibatnya, kondisi precarization semakin mengakar. Bagi kader GMNI, yang memiliki semangat juang dan idealisme tinggi untuk memperjuangkan keadilan sosial, situasi ini menjadi ironi. Di satu sisi, mereka harus tetap produktif meskipun kondisi kerja tidak mendukung, sementara di sisi lain mereka memikul tanggung jawab moral untuk terus memperjuangkan aspirasi kolektif para pekerja. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesejahteraan individu, tetapi juga dapat mengikis potensi intelektual, semangat juang, serta daya transformasi generasi muda dalam menciptakan struktur sosial yang lebih adil. Oleh karena itu, peran negara menjadi sangat penting untuk merumuskan kebijakan yang konkret dan menyeluruh. Kebijakan ini harus memastikan pemenuhan hak-hak dasar pekerja, termasuk perlindungan sosial yang layak, serta penegakan regulasi yang konsisten untuk mengurangi ketimpangan dan menghentikan eksploitasi dalam sistem kerja fleksibel. Tanpa langkah nyata tersebut, ketimpangan struktural di pasar tenaga kerja akan terus menjadi ancaman bagi masa depan generasi muda dan stabilitas tatanan sosial secara keseluruhan.
- Advertisement -

Baca berita yang ini