Sisca Kohl Dikomentari Ditjen Pajak usai Bikin Ropang Rp1 Miliar, Panik Nggak?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sisca Kohl kembali mebuat heboh. Di TikTok, dia membuat roti panggang (ropang) senilai 1 miliar Rupiah. Ditjen Pajak RI pun muncul di kolom komentar.

Dalam video TikTok bertajuk ‘Ropang Kepiting Alaska & Caviar 1 Milyar’, Sisca menjual ropang menggunakan kepiting Alaska seharga 7 juta Rupiah dan menggunakan caviar alias telur ikan yang harganya ratusan juta.

@siscakohl

Ropang Kepiting Alaska & Caviar 1 Milyar Check! ?? @aliyyah.kohl #BerjuangBerkreasi #SamaSamaIndonesia #fyp

♬ Welcome To Indonesia – Gideon Hadisoewono

“Welcome to Indonesia, ropang 1 miliar cek. Hari ini aku ada kepiting Alaska harganya Rp 7 juta, tapi aku mau jual jadi ropang Rp 500 juta, aku jual di rumahku, tapi tidak ada yang beli, aku sedih banget,” kata Sisca.

“Tapi ternyata tiba-tiba ada yang beli, yaitu adikku. Dia bilang dia mau beli dua porsi. Aku bilang ke dia oke. Aku bilang totalnya 1 miliar. Setelah itu dia memberikan uangnya ke aku,” ujarnya.

Adik Sisca membawa setumpuk uang pecahan ratusan ribu Rupiah dengan total 1 miliar Rupiah. Akhirnya, ropang itu pun laku terjual.

Di kolom komentar, ada akun TikTok Ditjen Pajak RI yang turut mengomentari video tersebut.

“Wah menarik! Di mana tokonya nih kalo boleh tau?” tulis akun @ditjenpajakri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini